Selasa, 09 Juni 2015

CERBUNG : IDOL SCHOOL Chapter 4

IDOL SCHOOL

Chapter 4

Genre : School life, Romance, Comedy

Happy Reading ^^


***************_________*******************

“Apa kamu sudah ada janji?” tanya Yuko kepada Renal yang tengah asyik membaca buku dikelasnya.
“Hmm..” gumamnya tanpa merubah posisi duduknya.
Suasana kelas saat itu ramai karena sudah waktunya jam istirahat. Yuko menghela nafasnya pelan, seraut wajahnya terlihat sedikit kecewa dengan jawaban Renal.
“Padahal tadinya aku ingin mengajakmu ke pameran komik minggu ini dipusat kota, ternyata kamu sudah ada janji dengan orang lain ya.” jelasnya sembari duduk diseberang Renal.
Renal menutup bukunya perlahan dan menaruhnya diatas meja, “Aku juga akan kesana.” ungkapnya kemudian tersenyum kearah Yuko.
Yuko terkejut, “Hah? Jadi kamu mau kesana?” tanyanya dengan harapan bahwa orang yang dijanjikannya itu adalah dirinya.
Renal mengangguk pasti, kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan keluar kelas dengan satu tangan kanannya masuk kesaku celana. Yuko mengikutinya dari belakang dengan wajah berbunga – bunga.
“Kamu akan kesana jam berapa? Dengan siapa?” tanyanya malu – malu.
“Hmm.. nanti kamu akan tau, kalau kamu juga akan kesana minggu ini.”
“Hmm? Maksudnya.” Yuko menghentikan langkahnya.
Renal juga menghentikan langkah kakinya dan berbalik kearah belakang, “Aku mengajak gadis aneh itu ke pameran komik minggu depan.” jawabnya, sedetik kemudian ia berbalik kembali dan melanjutkan langkahnya.
Yuko terpaku diam akan perkataan Renal barusan, “Apa? Gadis aneh? Berarti bukan aku?” gumamnya dalam hati.
***
Diwaktu yang bersamaan,
“Hei Rissa, bagaimana dengan PR Matematikamu?” tanya Sam yang khawatir ketika hari ini semua murid harus mengumpulkan PR Matematika.
“Sudah selesai kok.” jawabnya senang.
“Sungguh? Kamu yakin?” tanya Sam mengulanginya.
“Kemarin kamu benar – benar mengerjakannya sendiri?” tanya Inka yang duduk dihadapan Rissa.
Rissa mengangguk pasti dengan pipinya yang merona.
“Hey, ada yang berbeda denganmu.” ucap Inka yang menyadari perubahan sikap Rissa hari ini.
Rissa tersentak, “Ah.. tidak.. tidak ada apa – apa kok.” sembari menganyunkan lima jemarinya dihadapan kedua temannya itu.
Sam dan Inka menangkap sinyal aneh dengan perubahan sikap Rissa, dengan tatapan mata mereka yang seakan memojokkan Rissa, “Kamu harus jujur Rissa!” seru Sam berbisik ditelinga kanan Rissa.
Wajah Rissa berubah menjadi pucat (bayangkan jika posisi seseorang yang terpojok, tapi dengan ekspresi yang lucu), “Ehhhhh.... tidak ada apa – apa kok Sam.” jawabnya sedikit bergetar takut dan tak menyadari pinjakan kaki kursinya tengah berdiri setengah dari keempat kaki kursi tersebut.
“Kyaaaaaaaaa...............” teriak Rissa baru menyadari bahwa dirinya akan jatuh kebelakang dari kursinya.
“Eeeehhhh..... Rissa.” spontan Sam dan Inkapun berteriak. Para penghuni kelaspun menoleh kesumber suara dan menghampiri mereka.
Gubrak – Akhirnya Rissa terjatuh juga dengan posisi roknya terangkat setengah paha.
“Aduuhhh...” rintih Rissa masih dalam posisi telentang, mengusap kepala belakangnya.
“Eh lihat Rissa, pahanya putih banget ya...” bisik siswa laki – laki dengan temannya tepat dibelakang Sam dan Inka segera berjongkok menutup rok Rissa.
“Heh! Apa yang kalian lihat!” seru Sam menatap tajam kearah kedua siswa laki – laki itu.
Sontak merekapun mundur teratur.
Rissa dibantu berdiri oleh Inka dan salah satu temannya mendirikan kursi Rissa, kemudian penghuni kelaspun kembali ketempatnya masing – masing.
“Kamu tidak apa – apa Rissa?” tanya Inka membantu Rissa untuk duduk dikursinya.
Rissa menunduk dan masih memegang pelipisnya, “Sepertinya aku sedikit pusing.”
“Aku antar kamu ke ruang UKS yuk.” ajak Inka. Rissa mengangguk.
Sementara Sam masih pada posisinya, memelototi kedua siswa laki – laki yang tadi berbisik didekatnya.

Ruang UKS,
“Sudah mendingan?” tanya Inka setelah memberikan minyak angin kepada Rissa dan mendudukan dirinya disamping Rissa
“Terima kasih ya.” ucapnya lirih.
“Maaf ya gara – gara kami, kamu menjadi seperti ini.”
“Tidak apa kok.” ucapnya spontan tersenyum kearah Inka.
“Sekali lagi maaf ya.”
“Aku yang harusnya minta maaf.”
Inka terkejut, “Eh.”
“Aku tidak jujur pada kalian. Padahal kalian adalah teman terbaikku disekolah.”
“Maksudnya? Aku jadi tidak mengerti.”
“Aku... aku...” Rissa menunduk dan kembali memainkan jari jemarinya.
Inka hanya melihat tingkah Rissa yang memang diketahuinya, jika sikapnya seperti itu berarti dia dalam kondisi antara nervous dan ragu – ragu. Inka tersenyum kecil, “Kamu ini lucu sekali Rissa, aku ini kan temanmu. Bukan laki – laki yang kamu suka.”
Rissa terkejut dan menenggakkan kepalanya, “Ahh.. apa kamu tau aku menyukai seseorang?”
“Hah? Aku?” tanyanya menunjuk diri sendiri, “Aku kan tidak tau, kamu kan selalu tertutup kalau masalah itu.”
“Hehe, iya ya.” Rissa mulai membaik, kepalanya sudah tidak sakit lagi.
“Apa ada orang yang kamu sukai Rissa?” tanya Inka.
“Heh!” serunya kaget, pasalnya tiba – tiba wajah Inka sudah berada disebelah wajah Rissa. Rissa menghela nafasnya pelan, “Huft.. kamu mengagetkanku saja Ka.” Rissa mengelus dada.
Inka kembali ke posisi semula, “Hehehe, aku terlalu bersemangat ya?” ungkapnya diselingin tawa.
“Iya.” jawabnya.
“Oh ya, siapa dia?”
“Tapi, aku takut kalian marah.”
“Kenapa kami harus marah?” tanya Sam yang telah berada didepan pintu ruang UKS.
Rissa dan Inka melihat kearah datangnya Sam, “Kamu bikin kaget saja!” seru Inka cemberut.
Sam menghampiri mereka, “Siapa dia?” tanyanya dengan tatapan tajam.
Rissa meringis melihat ekspresi Sam yang menakutkan itu, “hhhhhhh”
“Aduh.” ucap Sam meringis.
“Sam, berhentilah menatap Rissa seperti itu!” seru Inka memukul kepala Sam.
“Tapi kamu tidak perlu memukul kepalaku.” kesal Sam mengelus kepalanya.
“Kamu terlalu berlebihan menatap orang seperti itu. Pantas saja kamu ini tidak ada yang naksir.”
“Hah! Apa maksudmu!”
“Kamu tidak mempunyai sisi kelembutan seorang wanita.” Inka membelakangi Sam.
“Rrrrgghhh... Inkaaaaaa” teriak Sam.
“Berisik! Ini UKS bukan lapangan bola!” seru seseorang dibalik tirai di samping tempat tidur Rissa. Mereka bertiga menoleh kesumber suara.
“Ada orang lain yah?" tanya Rissa pelan.
Seseorang itu menggeser tirainya, “Kalian menganggu istirahatku.” ketusnya dengan tatapan dingin kearah mereka berdua, Inka dan Sam.
“Hah! YUKO!” seru mereka berdua Sam dan Inka bersamaan.
Yuko mendengus kasar, “Kenapa? Ada apa dengan kalian? Kenapa berteriak dengan namaku seperti itu?” ucapnya sambil bertulak pinggang. Tatapan tajamnya mengarah kearah mereka berdua yang sejak berteriak tadi menjadi diam.
Rissa turun dari tempat tidurnya dan muncul ditengah – tengah Sam dan Inka, “Maafkan kami ya, sudah menganggumu istirahat.” ucapnya sambil menunduk sedikit dan kemudian berbalik menggeret kedua temannya dari ruang UKS.
“Huh! Apa maksudnya coba?!” serunya kesal.

***

Rissa tengah berdiri gelisah dihalte bus dekat sekolah, sambil memegangi tali tas ditangan kirinya serta dua buah buku tebal disebelah tangan kanannya. Ia terus menatap kearah bus datang, “Bagaimana ini hari sudah sore, kemungkinan bus terakhir telah lewat 1 jam yang lalu.” ucapnya dengan mengigit bibir bawahnya. Sesekali ia duduk dibangku halte dan berdiri lagi, seperti itu terus hingga beberapa menit. Rissa menghela nafasnya kasar, “Aku yakin sudah tidak ada lagi bus.” ucapnya lesu kemudian ia berbalik dan memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki.

Setelah beberapa ratus meter berjalan kaki, peluh dipelipis Rissa mengalir karena terik matahari yang lumayan cukup panas padahal hari sudah sore. Seseorang tanpa diketahui Rissa berjalan dibelakangnya, seulas senyum tipis terukir dibibirnya, ia mempercepat langkahnya menghampiri Rissa didepannya.
“Hei, kamu pulang sore lagi?” tanyanya berjalan disamping Rissa.
Rissa sedikit terkejut dengan siapa yang menyapanya, wajahnya langsung berpaling dan menatap lurus kedepan jalan.
Orang itu melihat tingkah laku Rissa, “Kamu suka membuat pipimu merah seperti itu ya?” tunjuknya kearah pipi kanan Rissa.
“Ah..” Rissa menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. “Tidak, ini hanya kepanasan kok.” bohongnya. 'Haduh kenapa ada dia disini, bukannya tadi dia sudah pulang?' tanya dalam hati.
“Kenapa selalu pulang sore beberapa hari ini?” tanyanya lagi, namun kali ini sudah menatap lurus kedepan, menaruh kedua telapak tangan disaku celananya.
“Eh, Hmmm...” Rissa menurunkan kedua tangannya tadi, “Aku belajar diperpustakan.”
“Oh.. menjelang ujian akhir ya?”
“Iya.”
“Memangnya kenapa tidak belajar dirumah? Biasanya anak perempuan suka belajar dirumah.”
“Oh, itu. Hmm aku lebih suka belajar diperpustakan karena bukunya banyak. Hehehe.” jawabnya asal sambil terkekeh.
Orang itu tersenyum, sedetik kemudian menunduk melihat jam tangannya.
“Eh, kamu kenapa?” tanyanya khawatir.
“Tidak.” ucapnya sambil menegakkan wajahnya kembali. “Hmm aku duluan ya! Ditunggu seseorang.” ucapnya kemudian berlari meninggalkan Rissa sendirian.
“Ehhh, hei!” seru Rissa, sedetik kemudian ia menghela nafasnya pelan, “Padahal aku senang karena ada yang menemaniku pulang, apalagi itu orang yang aku suka.” gumamnya. Dengan langkah gontainya, Rissa meneruskan perjalanannya menuju rumah.

***

“Hosh hosh hosh...” Renal tengah tersengal – sengal sehabis berlari tadi.
“Hei, kenapa kamu?” tanya salah seorang temannya.
“Apa ada yang mengejarmu?” tanya temannya satu lagi.
“Hei, kalian berhentilah bertanya. Beri aku minum, itu adalah hal terbaik yang bisa kalian lakukan sekarang!” seru Renal bertulak pinggang.
Kedua temannya itu membulatkan matanya, “Eh, kenapa anak ini.” kemudian salah satu dari mereka mengambil sebotol air minum ditasnya.
“Ini, minumlah.”
“Terima kasih.” jawabnya sambil meneguk sebotol air itu.
“Tumben sekali kamu terlambat, bisa – bisa kepala yayasan marah nanti.”
“Aku ada urusan tadi.” ucapnya sembari memberikan botol air minum tadi.
“Urusan?”
Renal mengangguk dan tersenyum akan beberapa jam yang lalu ia melakukan hal konyol yang belum ia lakukan sebelumnya.

Flash back on
Renal tengah menyelusuri deretan buku matematika yang sedang ia pelajari untuk mempersiapkan ujian akhirnya bulan depan, ia terhenti ketika melihat Rissa tengah berbicara sendiri dengan memainkan jari – jarinya seperti sedang menghitung sesuatu.
“Jadi x + y sama dengan.....mmmmm....” ucap Rissa mencoba menghafal rumus dan ia terlihat frustasi sekali. “Argghhhhh..... apa tadi.” kesalnya yang kemudian membuka buku diatas mejanya dan menghafalkannya kembali.
Renal terkekeh geli melihat tingkah Rissa, “Dia benar – benar gadis aneh!” serunya, kemudian berlalu mencari tempat duduk tepat didepan Rissa, namun Rissa tidak menyadari ada Renal disana, karena tempat duduk diperpustakan tersekat – sekat satu sama lain.
“Aduh yang ini bagaimana rumusnya?” ucap Rissa lagi.
“Ini bagaimana ya membaca rumusnya.”
“Susah!”
“Ighhhh tidak bisa dihafal!” ucapnya terus menerus dan hal itu membuat Renal terganggu.
“Ckck!” Renal berdecak, sedikit kesal. Baru saja ia bangun dari tempat duduknya, namun Rissa sudah tidak dihadapannya. Ia coba mencari dimana keberadaan Rissa, ia meninggalkan mejanya dan mencari dimana Rissa dan ketemu, “Astaga! Dia disana rupanya.” ucapnya setelah melihat Rissa tengah tertawa pelan dengan apa yang ia baca, komik.

Renal tidak tahu kenapa? Tapi dia merasa dia terlalu asik melihat tingkah konyol Rissa yang selalu tiba – tiba. Dan hal itu menyenangkan baginya sampai akhirnya ia menunggu Rissa pulang.

Flash back off

“Okelah, ayo 5 menit lagi mulai jam kursusnya. Kalau terlambat kita bisa dimarahi kepala yayasan.”
Renal dan salah satu temannya mengangguk, kemudian bergegas masuk kedalam bangunan kecil itu. Renal dan kedua temannya adalah salah satu pengajar disebuah yayasan yang membuka tempat kursus bagi anak – anak tidak mampu.

***

tbc



Cerpen : Someone Still In My Dream

SOMEONE STILL IN MY DREAM

Shita duduk sendiri di taman itu, terlihat sedang gelisah, “Aku dimana ya?” ucapnya dengan raut wajah cemas.
“Hai Shita,” tiba – tiba seorang laki – laki menyapa dan menghampirinya dengan segaris senyum diwajahnya.
Shita hanya mengangkat alis, menandakan, “Siapa nih?”.
“Masih ingat aku?” laki – laki itu lalu mendekat pada Shita. Shita menggeser posisi duduknya.
“Kenapa?” tanya laki – laki itu sembari mengerenyit dahi.
“Siapa kamu?” tanyanya sambil memberi isyarat “Jangan dekat – dekat”.
“Benar kamu tidak ingat aku?”
“Tidak.” jawabnya pasti.
Laki – laki itu hanya tersenyum, lalu tiba – tiba ia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Sesuatu yang Shita miliki pada saat ia kecil yang diberikan oleh seseorang dimasa lalu. Shita hanya diam.
***
Dengan tergesa – gesa, Ibu Shita menyiapkan sarapan pagi untuk putri tunggalnya.
“Shita, sarapan!” seru Ibu dari luar kamar Shita.
“Iya, Bu.” jawab Shita, segera ia bergegas keluar kamar setelah selesai berpakaian.
“Hmm... enak nih Bu,” ucap Shita ketika mencium aroma masakan Ibunya.
“Ah, kamu ini bisa saja.” ucap Ibu tersipu.
Shita tersenyum, “Shita, makan duluan ya Bu.” sembari melahap makanan yang tersedia untuknya.
“Iya, pelan – pelan makannya.”
Shita hanya mengangkat jari jempolnya, isyaratkan “ok” pada ibunya.
***
Tepat pukul. 08.00 wib. Shita sudah fokus di depan monitor komputernya dengan setumpuk pekerjaannya yang tercatat dalam sebuah catatan kecil yang menempel pada kalender mejanya. Tiba – tiba hpnya bergetar, muncul nama “Boss” memanggil.
“Halo, selamat pagi Pak.” sapa Shita yang matanya masih tertuju pada monitor komputernya.
“Pagi Shita, tolong masalah yang kita bicarakan kemarin jangan lupa buatkan surat komunikasi ke Central ya.” suara si Bapak bos dari seberang.
“Baik Pak.”
“Ok, setelah sudah, forward segala laporan ke saya.”
“Baik Pak.”
Pembicaraan ditutup.
“Hmm.. sepertinya hari ini bakal tidak menyenangkan.” keluh Shita. Bergegas Shita mencari data dalam file folder didalam komputernya.
Setelah surat komunikasi itu ia buat, langsung ia laporkan semuanya ke Bapak bos. Sambil menghela napas, Shita mengucap, “Selesai juga.” sambil ternsenyum.
***
Di kantin tempat ia bekerja, suasana yang begitu ramai. Shita duduk berhadapan dengan salah satu teman akrabnya, yaitu Anis.
“Ris, minggu pagi ada acara dirumahku, kamu datang ya!” Anis berkata sambil meminum minuman soda yang ada pada genggamannya.
“Ada acara apa?” balas Shita yang masih tengah sibuk mengunyah makanan dalam mulutnya.
“Acara penyambutan kakakku.”
“Hmm,” gumam Shita sembari menggangguk.
“Datang nggak?” tanyanya menyakinkan.
“Pasti.” jawab Shita.
By the way, Shita kamu belum punya pacar kan?” ucap Anis mengalihkan.
“Kenapa? Mau cariin aku pacar lagi? Nggak usah lah Nis, nanti aku bikin kamu kecewa lagi.”  ungkap Shita sembari mengelap bibirnya dengan tisue.
“Nggak apa – apa kali Ris, aku kan sahabat kamu. Masa sudah dua tahun ini kamu belum punya pacar sih.”
“Enak aja 2 tahun, dari aku kecil sampai sekarang umur aku 22 tahun, aku belum sama sekali pacaran tahu.” tukasnya.
“Hah, masa sih? Yang bener?” tanya Anis sampai mulutnya menganga.
“Beneran, kamu kan baru kenal aku dua tahun ini Nis, semenjak aku masuk kerja dua tahun lalu kan?”
“Betul sih, owh... emang kenapa sih kamu nggak pernah mau sama laki – laki yang sebelumnya sudah aku kenalin semuanya ke kamu?”
“Nggak sreg aja Nis.”
“Memang tipe kamu kayak apa?”
“Hmm... kayak teman kecil aku dulu.” jawab Shita sambil menatap ke atas dan menaruh dagu di telapak tangannya.
“Hah, kayak apa tuh orangnya? Emang bisa yah?”
“Bisa bisa bisa.” ucapnya sambil meniru tingkah Ipin dalam senima anak - anak Upin & Ipin.
Ngarep.” cibir Anis.
“Biarin lah Nis, suka – suka aku. Tapi sampai sekarang aku nggak pernah ketemu orangnya.”
“Lah, memangnya kemana?”
“Itu dia yang aku nggak tahu keberadaannya dimana sekarang? Aku nggak tahu Nis.” jawabnya dengan raut wajah yang muram.
“Emang udah nggak ketemu berapa lama Ris?”
“Hampir 10 tahun Nis.”
“Lama banget yah. Ya udah jangan sedih gitu. Kalau jodoh pasti ketemu kok Ris. Percaya deh Ris.” ucapnya meyakinkan.
Shita mengangguk. Dan mereka berangkulan.
***
Malam tiba, hembusan angin malam semakin dingin membuat tubuh Shita yang lelah setelah bekerja seharian jatuh ketempat tidur. Dalam tatapan harapannya, berharap masa depannya dapat bahagia, perlahan mata indah Shita lama - lama tertutup, mulai terlelap dan mulai memasuki dunia yang dimana kebanyakan manusia mengganggap seperti nyata padahal sebenarnya tidak atau dapat dikatakan khalayan.

Shita seperti merasakan dejavu. Dalam hatinya bertanya, “Kenapa tiba – tiba aku disini?”. “Ini kan tempat....?”. Shita merasa bahwa ia pernah melihat tempat ini, tempat dimana ia pernah bertemu, bermain dan bersenda gurau dengan seseorang, tapi ia lupa. Ini hari ke 5, Shita merasakan hal yang hampir sama.
“Setelah lama aku menunggu, akhirnya kamu datang juga Ris.” ucap seorang laki – laki yang sama ketika Shita duduk sendiri pada waktu lalu. Dengan senyuman yang menyejukan bagi setiap wanita yang melihatnya, namun untuk Shita senyuman itu tak berpengaruh sama sekali.
“Kamu lagi?!” kata Shita dengan heran.
“Ya.”
“Sebenarnya kamu siapa, sudah dua kali aku bertemu kamu, tapi aku nggak kenal kamu.”
“Belum saatnya kamu tahu, jika sudah tepat waktunya kamu akan tahu siapa aku. Sekarang biarlah aku menemanimu di setiap malam – malammu.” jawabnya tersenyum.
“Hmm” Shita mengerenyit dahi. “Aku nggak ngerti maksudmu?”
“Sudahlah, jangan kamu tanyakan lagi siapa aku, jika kamu belum bisa mengingatnya.”
“Lalu?”
“Aku berjanji dengan seseorang, bahwa aku akan menemanimu dimanapun kamu berada.” ikrarnya meyakinkan Shita.
Saat itu Shita hanya diam dengan perasaan yang tak mengerti apa yang dimakud oleh perkataan laki – laki itu. Dalam lubuk hatinya, terasa aneh, ia merasakan ketika bertemu laki – laki ini Shita merasa nyaman dan tak terganggu walaupun ia tidak mengenalnya. Dan Shita pun merasakan rindu yang sangat mendalam oleh seseorang yang ia harapkan akan bertemu kembali.
***
Minggu pagi yang cerah.
Secangkir coklat panas tersaji dihadapan Shita yang termangu dalam lamunannya. Kedua matanya entah menatap apa, membayangi wajah laki – laki itu.
Sruupp... “Ehmm..sedap.” ucap Anis setelah meminum coklat hangatnya. Melihat Shita yang sedang melamun, Anis menepuk bahu sahabatnya itu. “Shita, kenapa kamu?”
“Ah, nggak kenapa – napa kok.” lamunan Shita membuyar.
“Masa sih? Ah nggak mungkin. Coba cerita sama aku kalau ada masalah.” Anis mencoba merayu Shita dengan mendekatnya bahunya dengan bahu Shita agar Shita dapat menceritakan semua masalahnya.
“Emm... Aku inget sama seseorang.” Shita mulai mengingatnya. “Jujur aku rindu pada Dyan, teman semasa kecilku. Kami terpisah karena keluarganya tiba – tiba pindah ke luar kota. Tapi tak satupun para tetangga tahu alamat pindahannya dimana? Dyan adalah teman sekaligus sahabat yang aku punya pada saat itu, ketika semua teman – teman yang lain mengucilkanku tanpa sebab. Dyan sangat peduli padaku, memperhatikan aku dan melindungi aku lebih dari seorang teman bahkan aku dianggap seperti adiknya sendiri.”
Anis mendengarkan secara seksama sembari menaruh dagunya di lipatan kedua telapak tangannya, “Terus Ris?” tanya Anis.
“Pada hari terakhir aku bertemu dengannya, pada saat kami berdua duduk dikursi taman itu, ia mengatakan hal yang aneh yang belum pernah aku dengar dari mulutnya, yang mungkin aku tak mengerti maksud dari perkataannya itu karena pada saat itu aku baru berumur 12 tahun dan Dyan berusia 14 tahun.” Shita benar – benar mengingatnya.
“Terus?” tanya Anis yang ingin tahu kelanjutannya, “Apa yang dia katakan Ris?”
“Dyan berkata, Ris, kapanpun, dimanapun dan sampai kapanpun, aku akan selalu menemanimu dan mendampingimu walaupun aku jauh. Itu saja yang aku ingat.” mata Shita mulai berkaca. “Dan ketika keesokan harinya, setelah aku pulang sekolah, aku dititipkan sepucuk surat dari Dyan. Yang isinya, Shita membayangi.
untuk Shita,
Adik kecilku...
Maafkan aku, karena aku tidak dapat menjagamu lagi dan tak lagi disampingmu, namun sampai kapanpun aku pasti akan menemanimu dikala kamu sedih, gundah atau rindu padaku.aku yakin kita pasti akan bertemu lagi.
Jujur sebenarnya, aku menyanyangimu setulus hatiku.
Yang menyayangimu
Dyan.
Begitu Nis.” ungkap Shita yang hampir menangis.
“Ow, begitu ya. Aku jadi terharu, kamu nggak mencoba mencari alamatnya?” tanya Anis.
“Sudah, tapi berkali – kali aku tak berhasil.” sesalnya.
“Jangan menyerah Ris, kamu pasti akan bertemu dengannya.” ungkapnya pasti.
“Ya Nis, aku juga merasa belakang terakhir selalu bersamanya, tapi aku nggak tahu rupanya sekarang seperti apa? Mungkin berubah.”
“Tetap yakin ya Ris, aku akan dukung kamu 100 %.” ucap Anis yakin.
“Ya.” Shita tersenyum.
***
Shita termangu di bawah jendelanya, menatap langit sore nan biru itu. Tiba Ibunya disampingnya, menepuk bahu Shita dengan lembut, sambil berkata, “Shita, ada surat untukmu.” Ibu menyodori sepucuk amplop putih bersih yang bertuliskan, To : Shita Saputri.
“Terima kasih ya Bu,” ucap Shita sambil menerima surat itu.
“Iya, sama – sama. Ibu istirahat dikamar dulu ya.” kata Ibu sambil berlalu. Shita hanya mengangguk.
Perlahan ia buka pelan – pelan surat itu, penasaran apa isi didalamnya, surat dari siapa? Karena tidak ada nama si pengirim surat di amplopnya. Mata Shita membelakak, rasa tak percaya dan senang serta sedih bercampur jadi satu, ia bingung harus bagaimana.
Isi surat itu bertuliskan,
Dear Shita,
Sebelumnya aku bertanya padamu, apa kabarmu?
Maaf jika saat ini aku baru memberimu kabar, aku tak mau kamu melihatku dengan keadaan seperti ini. Maafkan aku jika kedua orangtuaku menyembunyikan alamat rumahku yang baru dari banyak orang. Maafkan aku jika aku tidak dapat menemanimu, membelamu dan melindungimu sampai kamu dewasa saat ini. Tapi aku yakin, saat ini kamu pasti jadi perempuan yang kuat dan mandiri.
Shita, mungkin surat ini baru sampai padamu disaat aku tidak ada didunia ini. Maafkan aku jika aku meyembunyikannya darimu Aku menderita kanker darah stadium akhir, karena itulah keluargaku pindah pada beberapa tahun lalu untuk pengobatanku. Namun aku bertahan sudah terlalu lama, aku sudah tidak kuat menahan rasa sakit ini. Tapi satu hal yang kamu tahu, kapanpun, dimanapun dan sampai kapanpun, aku akan selalu ingat padamu, aku berjanji pada diriku sendiri akan menemanimu dan mendampingimu walaupun aku jauh darimu.
Jaga baik – baik dirimu ya Shita, aku akan selalu hadir di dunia khayalmu.

Yang sayang padamu,
Dyan.
Tak terasa, airmata Shita menetes, tak kuat menahan rasa yang ada dalam hatinya. Shita langsung beranjak dari kamarnya, ia melihat alamat si pengirim, berharap ia dapat bertemu dengan Dyan. Shita pergi ke tempat yang tertulis di amplop itu.
***
“Kamu yakin Ris?” tanya Anis pada Shita, yang kini mereka berdua sedang menuju alamat Dyan. Anis dihubungi Shita, untuk menemaninya bertemu dengan Dyan.
“Iya, aku yakin ini surat dari Dyan.” jawabnya dengan raut wajah yang cemas.
“Mudah – mudahan ketemu yah, kayaknya sih nggak jauh.” ucap Anis sembari fokus mengendarai skuter maticnya.
“Iya.” jawab Shita.
Setelah alamat itu ditemukan,
“Kayaknya ini deh Ris, coba lihat alamatnya Ris.” ucap Anis sembari menghentikan skuter maticnya.
“Ehmm... Jl. Sultan Agung No. 26. iya bener Nis.” jawab Shita yakin. “Ayo kita hampiri pemilik rumahnya nis.”
“Iya ya.” dengan segera Anis memarkirkan skuternya disamping rumah itu.

“Assalamulaikum” kata Shita memberi salam. Tak lama ada sahutan dari dalam rumah.“Walaikumsalam.” Tiba ibu - ibu sebaya dengan Ibu Shita membuka pintu, dengan setengah kaget, ibu itu mengucap nama, “Nak Shita?”
“Ibu kenal dengan saya?” tanya Shita
“Ya ibu kenal. Kamu Shita teman kecilnya Dyan kan?” ungkap si ibu sambil memeluk Shita.
“Betul Bu, akhirnya aku bisa bertemu Ibu sekeluarga dan Dyan.” ungkap Shita bahagia. Namun raut wajah Ibu Dyan tiba – tiba menjadi mendung.
“Loh, Ibu kenapa?” tanya Shita heran.
“Iya Ibu kenapa?” Anis ikut bertanya.
“Ayo masuk dulu, Ibu ceritakan didalam.” jelas Ibu Dyan mengajak keduanya masuk kedalam rumahnya.
Ketika mereka semua sudah duduk dan disuguhkan dua cangkir teh hangat. Ibu Dyan mulai menyampaikan sesuatu pada Shita.
“Sebelumnya Nak Shita, Ibu minta maaf karena Ibu lupa menyampaikan surat terakhir dari Dyan untukmu yang baru Ibu kirimkan beberapa minggu lalu, karena Ayahnya Dyan mengingatkan akhirnya Ibu kirimkan beberapa hari lalu. Kamu sudah sempat membacanya?”
“Sudah Bu, tapi apa maksud Ibu yang terakhir?”
“Ehm... Dyan menderita leukimia, penyakit yang dideritanya dari usianya yang tergolong muda. Awalnya dia bertahan sangat kuat dengan penyakitnya hanya untuk bisa bertemu kamu Shita. Tapi pada akhir tahun lalu, Dyan........” ungkap Ibu mulai menangis.
“Ada apa Bu dengan Dyan?”
“Dyan... Dyan... Dyan meninggal Ris. Dan sebelum dia meninggal dia menitipkan surat itu untukmu.” jawab Ibu Dyan menangis.
Tiba airmata Shita diujung matanya, rasa yang luar biasa yang belum pernah ia rasakan lagi setelah kepergian Ayahnya. Shita menangis dipelukan Ibu Dyan. Anis hanya merasa sedih melihat sahabatnya menangis karena kepergian Dyan. Langit menjadi mendung.
***
“Hai, Shita.” sapa laki – laki itu pada Shita. Shita hanya tersenyum.
“Bagaimana kabarmu?”
“Alhamdulilah baik, oh ya apakah sekarang aku boleh tahu siapa kamu?” tanya Shita sembari menatap mata laki – laki itu.
Laki – laki itu menunduk dengan senyum, “Kamu sudah siap Shita, untuk mengetahui siapa aku sebenarnya?”
“Iya.” yakin Shita.
“Sebenarnya aku adalah Dyan.” ungkapnya tersenyum.
Shita hanya diam seribu bahasa, dalam hatinya ia senang tapi tak bisa diungkapkan. Dalam hati kecilnya berkata, “Biar didunia nyata Dyan sudah tidak ada, setidaknya dalam mimpiku Dyan selalu hadir menghiasi  dunia mimpiku. Aku ingin semua ini tidak berakhir sampai malam ini saja.”. Shita memeluk tubuh Dyan yang kekar itu, Shita merasa hangat dan nyaman.
“Oh Tuhan, maafkan aku, karena aku terlalu banyak berkhayal yang tak pasti, tapi kali ini kumohon khalayanku ini biarlah hadir dalam mimpi disetiap malam – malamku, amin” harapnya dalam hati.

Tangerang, 29 Juli 2011

Minggu, 31 Mei 2015

Cerpen : Secret Heart

Secret Heart

Genre : Romance

 Aku menyukainya dalam diam, aku mencintainya dalam diam. Tak satu katapun kata yang dapat keluar dari mulutku ketika berhadapan dengannya. Seburat garis merah sangat suka hinggap di wajahku, entah untuk keberapa kalinya aku terus dan terus menghindar dari hadapannya, hanya memandang dari jauh saja yang dapat aku lakukan.

Bukan, bukan karena aku benci dengan perasaanku saat ini. Itu lebih karena aku malu, malu akan perasaan yang tak pantas untuk dibalas. Banyak wanita menyukainya dan memuja - muja sosoknya dan aku merasa aku tak layak jika dibandingkan mereka.

Setiap hari aku memperhatikannya, saat itu juga degub jantungku berdetak dengan cepat. Lagi, aku hanya bisa mencintainya dalam diam. Rasa yang tidak akan pernah diketahuinya dan itu menghasilkan rasa sakit yang dalam. Cintaku padanya bagai sebuah candu bagiku.

Aku berjalan dan menatap langit biru, walaupun terasa panas hari ini. "Sudah hampir 3 tahun ya." aku masih mengenggam diaryku dan melanjutkan perjalanan menuju rumah.

***

Pagi menjelang dan aku melakukan aktivitas sekolahku seperti biasa. Saat ini aku terduduk ditepi jendela kelas, angin bertiup lembut menghempas wajahku lembut. Sedetik kemudian ada aliran darah mengalir deras ditubuhku, aku melihat sosoknya. Mataku berbinar dan wajahku memerah, "Fikri Pramudya anak kelas 3 C yang aku suka." 

"Bu guru datang..." salah seorang temanku berteriak dikelas. Seketika keriuhan yang terjadi menjadi sunyi senyap.

Detik berlalu, menit berlalu hingga 2 jam pelajaran telah usai. Tugas yang harus dikumpulkan siang ini dan harus dikoreksi olehku juga, karena siang ini ada rapat guru mendadak. 

Aku, Deandra Adistya siswi yang sangat mencolok dikalangan para guru disekolah, mereka menganggap aku sebagai murid nomor 1 disekolah dalam 2 tahun terakhir. Tapi itu tidak banyak membuat persoalan hatiku menjadi baik. 

Aku menghela nafas pelan, ada rasa cemburu dihatiku saat jam istirahat tadi melihatnya bergurau dengan wanita lain. Diam, diam dan diam itu yang dapat dilakukan. "Aku ingin ketoilet sebentar" aku memutuskan perbincangan dengan teman - temanku dikelas. 

"Hiks hiks hiks" lagi, kesekian kalinya tempat ini menjadi saksi bisu akan rasa sesak yang aku rasa. Air mata terus mengalir dikedua pipiku membuat wajahku menjadi sembab.
"Kau tidak apa - apa Dea?" tanya teman sebangkuku yang terlihat khawatir kepadaku.
Aku menggeleng pelan dan mencoba tersenyum, "Tidak, aku baik - baik saja."
"Kalau ada masalah, kau bisa berbagi." tawarnya.
"Iya." jawabku tersenyum. "Maaf aku tidak bisa jujur padamu." gumamku dalam hati.
Kilauan sinar matahari menerpa wajah muramku saat ini.

***

"Ibu mempercayakan tugas ini padamu, jika sudah selesai tolong taruh saja dipinggir rak sana ya." ujar Bu Guru padaku.
Aku mengangguk pelan, "Baik Bu."
"Oke, kalau begitu ibu pergi rapat dulu ya. Terima kasih sebelumnya." ucapnya sambil berlalu pergi.
Aku menghela nafas, sendirian diruang guru seperti ini. "Baiklah, aku akan selesaikan siang ini juga." ujarku menyemangati diri.

Hanya bunyi detikan jam yang menemaniku diruangan ini, sendirian. Jari dan kedua mataku hanya terfokus pada berlembar - lembar kertas ulangan. Beberapa menit kemudian, aktivitasku terganggu dengan suara kenop pintu -cklek-, aku tertegun dengan siapa yang datang.
"Oh maaf ternyata ada orang ya." ucapnya sedikit kaget, kemudian kembali dengan wajah normalnya.
Aku memalingkan wajah dan menunduk, "I..ii..ya" ucapku terbata - bata.
Dia kemudian menghampiriku, aku merasakan detak jantungku melacu dengan cepat.
"Meja Bu Lisy dimana yah?" tanyanya dengan senyum, terlihat sekilas dari sudut mata kananku.
"Disana." jawabku keringat dingin dan tanpa menatapnya.
"Oh, terima kasih." ujarnya sambil berlalu.
Aku tetap menundukkan wajahku, "Bodoh!" umpatku dalam hati.
"Aku duluan ya." katanya sambil membuka kenop pintu.
Aku menegakkan kepalaku saat dirinya sudah pergi, "Fiuhhh.. Untung saja aku tidak pingsan."

Beberapa jam berlalu, tugas mengoreksi ulangan tersebut telah selesai. "Hah, akhirnya selesai juga." ucapku sembari memijat leher kananku yang terasa pegal, menghempaskan tubuhku dipembatas kursi yang aku duduki.

***

"Sudah jam 4 sore yah?" aku menengok jam tanganku dan kembali melangkahkan kakiku untuk pulang.
Aku berhenti sebentar, menatap pohon besar yang begitu rindang terdapat banyak bangku taman disana, "Kalau kesana sebentar sepertinya enak untuk melepas lelah." segera aku berjalan menuju bangku taman tersebut.

Aku menghela nafas pelan, menutup kedua mataku dan merasakan sejuknya udara sore disekolah yang penuh dengan rahasia hatiku, aku tersenyum merasakan semuanya walau terkadang rasa itu membuat aku sedih.

"Ternyata kau masih disini ya, aku kira sudah pulang." ucapnya membuat aku kaku, aku hafal betul dengan suaranya. Suara seorang yang selama 2 tahun lebih aku cintai.
Perlahan aku membuka kedua mataku, aku menatap kearah depan tak berani untuk menoleh kearahnya. Aku mengangguk pelan, wajahku memanas saat ia memutuskan untuk duduk disampingku.
"Udaranya sejuk ya, aku suka duduk dibawah pohon rindang seperti ini." ucapnya menatap lurus kedepan.
Aku menunduk, "Iya aku juga menyukainya.." susulku, aku yakin wajahku makin memerah sekarang dan aku berusaha tenang mengambil nafas karena saat ini jantungku berdetak kencang sekali.
"Ini." sepucuk surat darinya diberikan padaku. Aku terkejut melihat surat itu, perlahan aku mengambil dari tangannya.
"Sudah lama, aku ingin memberikan itu padamu bacalah." baru kali ini ia terlihat malu dan apa? Wajahnya memerah.

Perlahan aku buka surat itu,

Hai, aku Fikri dari kelas 3 C,

Maaf jika aku menganggumu, disini aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu.
Tepatnya 2 tahun lalu, saat itu aku bertemu denganmu disebuah taman sekolah, kau duduk sendiri sambil membaca buku dan kau sering duduk ditepi jendela agar kau bisa melihat kearah luar kelas.
Saat itulah aku memperhatikanmu dan aku rasa aku menyukaimu.

Aku ingin bisa sekelas denganmu, namun apa daya kau adalah murid nomor 1 disekolah ini. Guru - guru memujamu disetiap kelas, kau terkenal tapi kau tidak populer, itulah yang aku suka darimu.

Aku berusaha belajar untuk memperbaiki nilai - nilaiku agar aku bisa sekelas denganmu, tapi ternyata itu sulit. Kau selalu dikelas A.

Awalnya aku ingin mundur untuk mendekatimu, kau kulihat selalu sibuk dengan pelajaran ataupun guru - guru kita, mungkin kau tidak tertarik dengan laki - laki. Tapi seorang teman bilang kepadaku, kalau kau tak coba bagaimana kau tau perasaannya.

Aku tak berharap banyak padamu, kau sudah mengetahui perasaanku aku juga sudah senang.

Deandra, aku menyukaimu.

Salam,
Fakri P.

Aku tak bisa bernafas, aku tertegun dengan apa isi surat ini. Dia yang aku kagumi memiliki perasaan yang sama.

"Kau menyukaiku?" tanyaku dengan mata berlinang. Ku genggam suratnya kedalam dekapanku.
"Iya, hehe maaf ya kalau surat itu me.."
"Tidak, ini tidak mengangguku."
Dia kaget, "Lalu kenapa kau menangis?" ucapnya terlihat khawatir.
Aku menoleh kearahnya dengan mata yang sedikit berair aku tersenyum, "Aku senang ternyata kau juga menyukaiku."
Lagi, dia terkejut atas ucapanku, "Apa?? Kau mempunyai perasaan yang sama padaku?"
Aku mengangguk dan tersenyum bahagia. Diapun begitu, "Terima kasih."
"Bukan, aku yang harusnya berterima kasih padamu." ucapnya tersenyum senang.

- kriuk kriuk - kami terkejut akan suara itu, satu sama lain saling menatap.
"Kau lapar?" tanyanya.
Aku menunduk malu, sedetik kemudian aku tersenyum dan mengangguk.
"Haah.." dia menahan tawanya.
"Haha... Haha.. Haha.." aku merasa lucu akan tingkahku, suara perut laparku menganggu suasana.
"Maaf yah.." ujarku.
Akhirnya kami tertawa bersama.

Dan sejak saat itu, rahasia hatiku terungkap oleh seseorang yang aku sukai bahkan aku cintai. Aku bahagia.

End.

Selasa, 26 Mei 2015

CERBUNG : IDOL SCHOOL Chapter 3

IDOL SCHOOL

Chapter 3

Genre : School life, Romance, Comedy

Happy Reading ^^

**************__________________**************

Pagi yang cerah menemani perjalanan Rissa menuju sekolah, didukung dengan kondisi bus yang dinaiki Rissa sangat lengang. Memang tidak biasanya seperti ini, kondisi dimana dewi fortuna sedang hinggap didekatnya. Rissa terlihat bersenandung kecil sambil berjalan di pinggir trotoar setelah turun dari bus, senyum manisnya tidak hilang semenjak ia bangun dari tidur, membayangkan kejadian beberapa hari lalu yang dialaminya.
Tepat didepan pintu kelas laki – laki pujaannya, Rissa berhenti sesaat. Jantungnya berdegup kencang dan berkali – kali dia mencoba menarik nafas lalu dikeluarkan kembali sampai – sampai ia tidak menyadari tingkah konyolnya itu dilihat oleh para siswa dan siswi yang berlalu lalang disekitarnya.
Rissa mulai mengambil aba – aba untuk segera berlari menghindari kelas itu, “Siap....” ucapnya sambil ancang – ancang, “Ya!” Rissa tidak berlari melainkan berjalan dengan posisi miring dan membelakangi kelas itu setelahnya ia menghelas nafasnya, “Fiuuhhh....”.

“Selamat pagi Rissa.” Sapa Sam dengan senyumnya ketika tiba didepan pintu kelas mereka.
“Pagi Sam.” jawab Rissa.
“Bagaimana PR matematikamu, apa sudah selesai?” tanyanya ketika sudah duduk ditempatnya.
Rissa terlihat sibuk mengeluarkan buku dari tasnya, “Hmmm.. seperti biasa.”
“Belum?”
Rissa menjawab dengan anggukan.
“Selamat pagi Rissa, Sam.” sapa Inka yang baru saja datang.
“Sedang mencari apa Ris?” tanya Inka yang melihat Rissa sibuk mengeluarkan isi tasnya itu.
“Handphoneku tertinggal sepertinya.” jawab Rissa muram. “Dewi fortuna sudah pergi dariku.” ucap Rissa dalam hati.
“Ohhh..” jawab bersamaan mereka.
Rissa hanya memanyunkan bibirnya.

***

Bel sekolah berbunyi tiga kali, pertanda sekolah hari ini telah usai.
“Rissa, maaf hari ini aku tidak bisa membantumu untuk menyelesaikan PR matematikamu. Karena aku diminta menemani Ibuku berbelanja.” ucap Sam.
“Aku juga Rissa, aku harus menjaga adikku dirumah karena kedua orang tuaku pergi keluar kota.” susul Inka.
“Hmm. Baiklah, aku tidak apa kok.”
“Kalau tidak salah ada buku rumus – rumus matematika di perpustakaan. Jika kamu perlu buku itu, pergilah ke perpustakaan ya.” usul Sam.
Rissa berpikir sebentar, dikarenakan PR matematikanya harus terkumpul besok mau tidak mau Rissa harus belajar sendiri di perpus. Pantang bagi dia untuk mencotek hasil belajar teman – temannya itu. “Oke, aku coba belajar dengan buku itu.”
“Baiklah, kami pulang duluan yah. Dah Rissa.” ucap mereka bersamaan.
Rissa membereskan meja dan bukunya, kemudian bergegas keluar kelas menuju perpustakaan.

Sesampainya didepan pintu perpus,
“Permisi” ucap Rissa pelan sambil membuka pintu perpus.
“Masuk” jawab ibu penjaga perpus. “Eh, kamu Rissa sudah lama tidak mampir keperpus.”
“Hehehe, iya Bu. Maklum sibuk dirumah.” jawab Rissa tersenyum geje (?). “Hmmm... Bu ada buku rumus matematika?”
“Oh ada, diujung rak sana. Dari sini belok kekanan, 2 blok dari pinggir rak terakhir.”
“Oh.. terima kasih.” jawab Rissa, kemudian mengikuti arahan ibu penjaga perpus tadi.
Rissa berjalan perlahan sambil melihat – lihat judul buku yang tersusun rapi dan sejajar dirak perpus itu, jemarinya menyelusuri buku – buku yang sama sekali tak berdebu. “Aha, ini dia.” Hap. Dia ambil buku tersebut dan sekilas melihat judul dari buku tersebut 'BELAJAR MATEMATIKA TINGKAT SMA DENGAN RUMUS TERMUDAH'.
Rissa sedikit celingukkan mencari tempat yang pas untuk dia belajar, sedetik kemudian matanya tertuju pada satu tempat dipojok kanan sana yang masih kosong dan ia segera menghampirinya.
“Yey, aku tepat duduk disini. Hihihi.” Rissa terkekeh sendiri. Rissa mulai membuka halaman di buku itu...
Sedetik, dua detik, tiga detik, satu menit, dua menit, satu jam telah berlalu tapi buku yang tengah dibacanya tidak ada satupun yang hinggap diotaknya...
“Haiissshhh...” Rissa menidurkan kepalanya dimeja tertelungkup dengan bukunya, “Aku tidak suka dengan matematika!” serunya sambil meringis. “Sepertinya dewi fortuna tengah menjauhiku sejak tadi.. huaaaaa....” Rissa bertingkah lucu dibangkunya.
“Ssttttsssttt” ucap siswa yang berada dibelakanganya.
“Ah,” Rissa menoleh kebelakang dan meminta maaf dengan kedua telapak tangannya sambil berhadapan (?) seperti orang meminta maaf pokoknya. ^^v.
Rissa melanjutkan belajarnya, sedikit kecewa dengan sikap temannya yang meninggalkan Rissa di sekolah sendirian, tanpa handphone pula. Rissa terlihat sangat frustasi, sesekali ia menggaruk – garuk rambutnya hingga berantakan tak karuan. Lagi, Rissa menidurkan kepalanya diatas mejanya, “Aku sudah tidak kuat....”. -cling- muncul lambang lampu bercahaya diatas kepalanya, “Aku mau tanya Ibu perpus..” Rissa bangkit dari duduknya dan menghampiri Ibu perpus didepan.
“Bu, Bu..” panggilnya pelan.
Ibu penjaga perpus menoleh kearah Rissa, “Ada apa?”
“Hehehe... disini masih ada buku komik?” tanya Rissa tersenyum geje (?).
“Hah? Hmmm.. seperti biasanya ya.. kalau sudah penat pasti baca komik.” jawab Ibu penjaga perpus yang sudah hafal dengan tingkah Rissa. Rissa hanya tersenyum. “Ada dirak sebelah kanan dari bangkumu.”
“Oh, oke Bu. Terima kasih.” ucapnya pelan dan bergegas mengampiri rak yang ditunjukkannya tadi oleh Ibu penjaga perpus.
Jari jemari Rissa menyelusuri barisan komik yang dibilang umur komik ini cukup lama, karena beberapa adalah sumbangan dari murid – murid. “Love stage.” ucapnya membaca judul komik yang dia ambil, kemudian ia kembali ke bangku semula.
Selang beberapa menit ia telah menghabiskan dua komik sekaligus, cepat yah kalau baca komik ^^. “Hei, ke perpustakaan selama berjam – jam hanya membaca komik?” tanya seorang siswa laki – laki duduk disamping Rissa. Rissa sedikit tersentak, “Eh, hehehe hanya menghilangkan penat.” jawab Rissa dengan senyum tak jelasnya itu (antara malu dan senang).
Rissa merubah posisinya menghadap siswa itu, “Ma....” ucapnya terhenti, “Haaahhhhh....” Rissa tercengang dengan senyuman dari siswa laki – laki itu, “Re...renal...” ucapnya terbata sembari menelan saliva yang tercekat ditenggorokannya.
Laki – laki itu tersenyum sembari menopang pipi kanan ditangannya dan tangan kirinya masih memegang sebuah buku. “Apa kabar, Rissa?” tanyanya.
Wajah Rissa memerah, dan dia menjadi salah tingkah, “Eh... anu.. e... aku... baik kok.. hehhee.” ucapnya sambil tertawa tak jelas. 'Ahhh.. bagaimana ini, memalukan tingkah konyolku ketahuan oleh Renal, Bodoh!' umpat  Rissa dalam hati. Diluarnya Rissa masih tersenyum dengan tangan gemetar.
Renal merubah posisinya menjadi duduk sempurna menghadap tembok mejanya, “Sukurlah kalau begitu.”
Wajah Rissa masih merah padam dan sedikit menunduk, “Iya.”
“Kamu ada kesulitan?”
Rissa sedikit bergembira, karena masih ada orang yang peduli dengan masalahnya saat ini tanpa ragu ia langsung mengambil buku rumus matematikanya tadi dan menghampiri Renal disamping, “Ini, aku kesulitan dengan rumus – rumus dibuku ini.” ucapnya memohon.
Renal sedikit tersentak dengan tingkah Rissa yang tiba – tiba, namun kemudian ia bisa kembali normal seperti biasa, “Kamu ini, sungguh aneh.”
“Eh, aneh?” tanya bingungnya.
“Tadi wajahmu memerah dan sekarang tingkahmu berubah seolah – olah tidak ada yang terjadi sebelumnya.” kata Renal sembari membuka lembar – lembaran buku itu.
“Hehehe, begitulah...” Rissa mulai menggaruk – garuk tengkuk belakang kepalanya. “Bagaimana apa kamu bisa mengajarkannya padaku. Kamu kan jago matematika.” ucapnya semangat.
“Kenapa?”
“Hmmm.. maksudnya?”
“Kenapa aku harus mengajarkan rumus ini padamu.”
“Eh..” Rissa kaget, “Kenapa ya?” batinnya bertanya. Rissa sedikit menunduk.
“Kamu suka komik kan?”
“Hmm..” Rissa menenggakan kepalanya kembali.
“Ada syaratnya.”
“Syarat?”
“Kamu ingin aku ajarkan rumus matematika ini kan?” tanya Renal yang mulai merubah posisi menghadap Rissa. Rissa sedikit terkejut, pasalnya tatapan mata laki – laki itu tepat ke matanya, pipinya mulai merona kembali.
“Hei, kamu ini suka sekali membuat pipimu merah seperti itu ya.” kata Renal lugu sambil menunjukkan telunjuk ke arah kedua pipi Rissa, sontak Rissa salah tingkah kembali.
“Ah... tidak tidak, aku tidak apa – apa. Ini bukan disengaja.. hehehe... bagaimana ya menjelaskannya.” Rissa mulai berbicara ngawur (?).
“Sstttssstt” sela dari siswa siswi yang berada diperpus tersebut, menandakan bahwa tidak boleh berisik.
Rissa dan Renal menjadi diam dan kembali meminta maaf karena telah mengganggu belajar mereka.
“Jadi?” tanya Renal kembali.
“Iya aku suka baca komik.”
“Kalau begitu, aku akan mengajarkan rumus ini padamu sebagai imbalannya kamu ikut aku hari minggu ke pameran komik dipusat kota.”
“Hah?? aku?” kali ini Rissa berteriak, sontak semua siswa yang berada diperpus menoleh kearahnya dan menatap Rissa tajam. Rissa tersadar akan tingkahnya itu dan kembali menundukkan kepalanya memohon maaf. Renal hanya tertawa kecil.
“Suaraku keras yah.. hehhe..”
“Hmm.” Angguk Renal, “Bagaimana keputusanmu?”
Wajah Rissa masih memerah bahkan tambah merah, “Bagaimana ya?” sambil menunduk dan memainkan jemarinya itu.
“Kalau tidak mau ya sudah, aku tidak memaksa.”
“Ahh... bukan bukan itu.” Rissa sontak menolak ucapan Renal barusan.
Renal menoleh kearahnya dan menunggu jawaban Rissa.
“Hmmm.. apa aku tidak menyusahkanmu?”
“Tidak.”
“Hmmm...” dengan mata berbinar, “Baiklah, ajarkan aku ya.. aku yakin pasti aku bisa setelah diajarkan olehmu.” tingkahnya berubah 180 % dari beberapa detik lalu. “Ayo!”
Renal tertawa pelan, “Mulai dari mana kita?”
“Di rumus ini.” ucap Rissa bersemangat menunjukkan dihalaman mana yang ia tidak mengerti. Dan hari ini merupakan sebagian hari – hari Rissa yang bahagia, dewi fortuna mendatangkan kesempatan untuknya hari ini, bisa bertemu dan berbicara dengan Renal, bahkan minggu ini ia bisa berjalan bersama ke pameran komik dipusat kota bersama laki – laki pujaannya.

***

Tbc

Jumat, 03 April 2015

CERBUNG : Idol School Chapter 2

IDOL SCHOOL
Chapter 2


Genre : School life, Romance, comedy

Happy Reading ^^

**************-----------------***********

Kantin sekolah,
Rissa duduk sendiri dengan makanannya, tampak berpikir sesuatu yang mengganjal dipikirannya dengan gaya makan yang lucu, pipinya digembungkan dan bibirnya mengerucut serta kedua matanya melihat ke langit - langit kantin itu.

Diwaktu yang bersamaan, Renal tengah masuk ke kantin untuk membeli makanan, dilihatnya kanan kiri kursi kantin itu sudah penuh hanya ada satu yang bisa ia duduki, Renal menghampiri kursi itu dan bingo! Ia duduk tepat berhadapan dengan Rissa.

Perlahan ia memperhatikan tingkah lucu Rissa, sembari ia memakan makanannya itu. Rissa tak menyadari keberadaannya, malah semakin tak karuan tingkahnya yang berbicara sendiri sambil mengunyah makanan, bahkan makanan dipiring sudah habis ia tidak menyadarinya.

Renal menahan tawa, gadis dihadapannya aneh, "Hei.." Panggilnya setelah ia selesai makan.
Rissa sepertinya tidak mendengarnya, ia masih sibuk dengan gumamannya, "Ah aku bingung harus bagaimana?" Gumam pelan Rissa.

Renal mulai tertawa pelan, "Hei, gadis aneh" ia mulai memanggilnya lagi, kali ini ditambah dengan ketukan meja.
Rissa menjawab, "Iya aku akan melakukannya." ucapnya dengan semangat, sontak Rissa berdiri dari kursi dan hal itu membuat para penghuni kantin memperhatikan meja mereka, "Haha... Haha.. Haha.." Renal tertawa terbahak - bahak menekan perut dan menutup mulutnya dengan kepalan tangan kanannya.

Rissa tersadar, "Heh, loh kok?" tanyanya sendiri sembari membungkuk 20 derajat melihat Renal tertawa, tak lama reaksi Rissa berubah, "Apa? Kenapa ada kamu disini?!" ungkapnya mengatup mulutnya dengan telapak tangannya.
Mereka belum sadar, kalau saat ini mereka menjadi pusat perhatian dari penghuni kantin.
"Yak, sudah jangan tertawa terus." ucap Rissa mengerak-gerakkan kedua tangannya dihadapan Renal yang saat itu belum berhenti tertawa. Rissa yang mulai merasa malu dengan tatapan menganggu dari orang - orang yang melihatnya. Menghampiri Renal diseberang mejanya, menarik tangan Renal untuk keluar dari kantin tersebut.

Rissa menarik Renal hingga ketempat yang aman baginya, nafasnya sedikit tersengal - sengal. "Sssstttt" ucapnya dengan bibir mengerucut ditutup dengan telunjuk lentiknya.
Renal berhenti tertawa, namun masih menahan senyum. "Ya, aku sudah berhenti tertawa."
"Huft.." Eluh Rissa akhirnya, sedetik kemudian ia berbalik badan berniat untuk pergi dari hadapan pujaan hatinya itu.
"Mau kemana?" Langkah Rissa terhenti, ketika Renal bicara.
"Anu, e...." Jawab Rissa terbata - bata tanpa berbalik.
"Hmmmm.. Teruslah membayangkan hal - hal yang dapat membuatmu seperti tadi, itu sangat menghiburku." Ucap Renal sambil berlalu pergi mendahului Rissa yang masih terdiam kaku.
"Aku,, aku,, tadi menghiburnya?" Rissa menunjuk dirinya sendiri aneh.  Masih terdiam bingung, hingga dimenit berikutnya pipinya memerah dan ukiran senyum menghias dibibirnya, "Horeeeee,, hari ini aku menghiburnya. Dia laki - laki yang sangat jarang tertawa lepas seperti tadi dan aku wanita yang bisa menghiburnya hingga dia tertawa lepas seperti itu. Horeee... Xixixixixixiiii" ucapnya berlompat kegirangan, kemudian ia berjalan menuju kelasnya sambil tersenyum geje (?).

"Rissaaaaaa!"
Rissa menoleh kebelakang merasa terpanggil, terlihat Ibu kantin menghampirinya tergesa - gesa.
"Kamu belum bayar siomainya!" seru Ibu kantin bertulak pinggang.
"Eh, masa Bu?"
"Iya, sudah bikin perhatian dikantin dengan membuat siswa ganteng itu tertawa keras, kamu menariknya dan berlari. Apa kamu mau ngutang ditempat saya?" ejek Ibu kantin itu.
"Apa? Yang benar saja!" Raut wajah cerianya berubah menjadi masam, pasalnya Ibu Kantin itu berteriak dihadapannya hingga anak kelas lainya, bergumam kesal.
"Ini."
"Ah, oya.. Kamu dan dia tidak cocok. Bagai langit dengan bumi" lagi - lagi Ibu kantin mengejeknya dan berlalu pergi meninggalkan Rissa yang wajahnya terlihat merah padam.
"Apa maksud Ibu itu..eerrggghh"

Dari kejauhan seseorang melihat percakapan mereka berdua, segaris senyum tipis terukir dibibirnya dan melanjutkan langkah kakinya.

***
Tbc

FF V - EUNHA (BTS X GFRIEND SHIPPER) - THE HANDSOME FREAK CHAPTER 6

The Handsome freak Chapter 6 Previous  1 ,  2 ,  3 ,  4 ,  5 Title : Fanfiction Chapter Genre : Romance, Comedy Ca...