Rabu, 09 Agustus 2017

CERBUNG : REVERSE Chapter 7

REVERSE





Genre : Schoolife, Drama, Fantasy
Chapter 7

Prev Prolog123456



Ruang PMR,
"Baiklah kalau begitu kita sudahi meeting hari ini." tukas ketua PMR.
Dan para anggotapun bangun dari duduknya dan bergegas keluar ruangan.
"Huhh lelahnya, setelah seharian belajar ditambah sering sekali berkumpul seperti ini." keluh salah seorang anggota PMR yang seangkatan dengan Sari.
Sari hanya mengangguk.
"Kau akan langsung pulang?" tanyanya.
"Ya. Aku langsung pulang." jawab Sari seadanya.
"Kak Sari kak Sari..." seorang adik kelas setengah berlari dari pintu ruangan menghampiri Sari diikuti kedua temannya dibelakang.
"Eh ada apa?" tanya Sari.
"Itu kak, ada yang ingin bertemu kakak." jawabnya dengan wajah sumringah.
"Hn? Siapa?"
"Tampan sekali kak. Ya ampun pacar kakak ya?"
"Eh, aku belum punya kok."
"Ah kalau begitu kami ada kesempatan buat pedekate dong kak." ujar salah satunya dibelakang.
"Hah?"
"Heh, apa sih baru kelas 1 sudah genit begitu. Kalau ketua tau, kalian bisa di out!" selak teman Sari.
"Aahhh yaahhh..." coor kekecewaan mereka.
Sari segera mengambil tasnya dan bergegas keluar ruangan.

Seorang laki - laki berdiri membelakangi sedikit jauh dari pintu ruangan tersebut.
"Hn? Siapa dia?" Sari akhirnya menghampiri orang tersebut. "Mmm.. Maaf apa kau yang mencariku?" tanyanya.
Sontak Sari terkejut, kedua bola matanya membelakak ketika laki - laki itu berbalik dan tersenyum padanya.
"Hai apa kabar? Lama tidak bersua. Apa kau ada waktu?"
"O..Oki!" pekiknya.

Mereka berdua berpindah tempat, Oki meminta untuk jauh dari keramaian.
"Maaf aku menganggu waktumu." ucapnya.
"Enggak kok." jawab Sari. Ia masih kelihatan bingung dan sedikit gugup.
"Sudah berapa lama ya kita tak saling sua?"
"Hemm berapa lama ya?" Sari balik bertanya. 'Aku tidak tahu berapa lama. Bagaimana bisa bertemu dia disini. Dan satu sekolah pula. Apa yang dimaksud Andika itu, Oki yang ini?' gumamnya dalam hati.
Oki tersenyum kecil dan menundukkan kepalanya.
Sari melirik, "Hem sebenarnya ada perlu apa? Apa ada yang perlu dibicarakan?"
"Ah ya, aku sampai lupa." Oki menoleh, "Walau sudah cukup lama, tapi aku baru memberanikan diri untuk minta maaf sekarang. Jadi, seperti tidak adil bukan?"
Kedua alis Sari saling bertautan.
Oki melihatnya dan sedikit tertawa, "Ahaha. Tapi aku cukup terkejut karena kau tidak menolak untuk bicara denganku."
"Kenapa aku harus menolak?"
"Hemm.. Karena kurasa aku tidak berbuat yang seharusnya saat itu." Oki mengubah pandangannya menatap langit sore kala itu. "Seharusnya aku... Setidaknya aku bisa mengatakan yang sebenarnya dan tidak membebankannya semua padamu."
'Dia lagi bicara apa sih?' Sari terdiam namun tetap melihat wajah Oki.
"Aku minta maaf atas kejadian yang merusak nama baikmu saat itu. Pasti itu sangat sulit bagimu."
Sari terdiam dan sesaat ia mengingat sesuatu, sesuatu yang dikatakan Andika tentangnya, dengan menarik nafas panjang dan menghempaskannya perlahan, "Sudahlah tidak usah diungkit kembali, aku sudah melupakannya kok." jawabnya.
Oki sedikit terperangah namun sesaat kemudian ia kembali normal, "Ah ya begitu ya..." Oki menautkan kedua jemarinya, "Ternyata kau sudah melupakannya. Itu bagus. Setidaknya aku sudah merasa lega sekarang." bohongnya. Ada rasa kekecewaan disana, Oki merasa bahwa sebagian dari perasaannya hilang.
"Heem.. Bukankah lebih baik jika hal buruk dilupakan saja. Kita kan harus tetap melangkah kedepan dengan harapan yang lebih baik lagi dari sebelumnya." Sari mencoba untuk memberikan senyuman kecil pada Oki.
Oki menatap Sari dalam diam.
"Hn? Ada apa? Apa aku salah bicara?" tanya Sari polos.
"Tidak. Kata - katamu benar." Oki memalingkan wajahnya kearah lain, 'Apa Sari sudah tidak memiliki perasaan padaku lagi?'
"Hem, kalau begitu karena hari sudah sore. Bagaimana kalau kita pulang. Sudah tidak ada yang dibicarakan lagi bukan?" Sari berdiri dari duduknya.
Oki menahan tangan Sari, "Tunggu."
"Ada apa lagi?"
"Apa kau benar - benar melupakan semuanya?"
Sari mengangguk, ia tak mau ambil pusing masalah ini. Baginya itu sudah berlalu. Yang terpenting sekarang hal apa yang harus dia lakukan untuk kembali pada dunianya.
"Juga.. Melupakan perasaanmu padaku?"
"Hah?"
"Kau sudah tidak mencintaiku lagi?"
'Apa - apaan ini? Apa aku masih berpacaran dengannya sampai SMA? Ini tidak mungkin kan?' Sari bergumam dalam hati.
"Sari.. Maaf aku tau, aku tidak pantas menanyakan hal ini padamu sejak kejadian tempo hari. Aku hanya ingin memastikannya saja. Kalau...."
"Jika masih kenapa? Jika tidak kenapa?" selak Sari.
Oki terdiam dan melepas genggaman tangannya dipergelangan tangan Sari, "Aku.. Tidak terlalu berharap apapun darimu. Tapi yang perlu kau tau walaupun orang tuaku telah menjodohkanku dengannya, perasaanku padamu belum pudar sekalipun."
'Ini semacam dapat durian runtuh sih. Dicintai oleh laki - laki tampan dan pintar seperti Oki, seperti waktu SMP dulu, yah walaupun hanya di kelas satu. Disatu sisi aku juga bisa seperti Lyan yang punya pacar seperfect Dimas, tapi masalahnya....'
"Sari apa kau mendengarkanku?" Oki membuyarkan lamunan Sari.
"Ah... Tapi kau kan sudah ditunangkan dengan gadis lain. Buat apa mencintaiku jika ragamu milik orang lain." jawab Sari sekenanya. 'Ya kan, jadi jawabannya drama seperti ini.. Huhh' ucapnya dalam hati.
"Ya, awalnya kau dan aku berjanji untuk tidak mempermasalahkan statusku dengan dia. Tapi... Ternyata janji itu tidak sekuat yang aku sangka."
"Tunggu dulu. Apa kita ini berpacaran?" Sari memastikan.
"Ya tentu saja. Kenapa kau menanyakan hal itu? Tapi....tidak banyak yang tau memang. Karena kita menyembunyikannya."
"Backstreet?"
"Begitulah.." Oki merasa ada keanehan dalam diri Sari, bagaimana dia menanyakan status hubungannya sendiri.
"Haaahhh pantas saja, tunanganmu mengira kalau aku mengambilmu darinya dan membanding - bandingkan diriku dengannya seperti itu."
"Ah...hn?" Oki menaikkan kedua alisnya, 'bukankah memang itu masalahnya, kenapa ia mengatakan hal itu seolah - olah bukan dia korbannya.'
"Tadinya aku ingin melupakannya, tapi kau mengingatkannya kembali."
"Maaf..." Helanya panjang.
'Kenapa dengan sikap Oki? Dia terlihat sangat rapuh sekali. Berbeda dengan yang ku kenal sebelumnya, Oki anak yang bersemangat dan juga ceria. Bertolak belakang sekali.' lagi dan lagi Sari bicara dalam hati. Sari menghelas nafas, "Huuhh.. Jika memang kau tidak berharap lebih, akan lebih baik jika kita berteman saja."
"Ah, ya kalau itu yang kau inginkan." pasrahnya.
"Kalau begitu kita berjabat tangan. Anggap semua masalah diantara kita sudah selesai dan mari berteman baik." Sari mengulurkan tangan kanannya dihadapan Oki.
Dan Oki menyambutnya disertai senyuman kecil.

***

Di sebuah cafe,

"Meja nomor lima ada pengunjung baru. Eka tolong layani ya." ucap penjaga toko pada Eka saat ia tengah selesai menyelesaikan meja.
"Baik." jawabnya semangat.
Segera Eka menghampiri meja tersebut, terlihat beberapa orang gadis sedang tertawa kecil dengan percakapan mereka.
"Permisi, mau pesan apa?" tanyanya dengan sopan.
"Eh, Eka. Kau bekerja disini?" seseorang dengan terkejut sekaligus histeris melihat laki - laki yang disukainya berdiri dihadapannya.
"Tuh kan benar kataku. Kalau Eka dan temannya bekerja dicafe ini." tukas teman gadis itu disebelahnya.
Gadis itu mengangguk tanpa melepas pandang ke arah Eka.
Eka terdiam dan mengulangi perkataannya tanpa lupa senyuman kecilnya, "Maaf saya ulangi, mau pesan apa?"
"Eh. Maaf.  Anu.. Sebentar ya." ujar gadis itu yang tak lain adalah Mira teman satu sekolah dan terang - terangan menyukai Eka. Sambil dibaca daftar menunya dengan jemari lentiknya mengikuti susunan yang ada disana.
'Sepertinya aku pernah melihat gadis ini.' gumamnya dalam diam.
Sesekali para gadis itu berbisik dan melirik kearah Eka dengan senyuman mereka. Eka sangat tidak nyaman dengan situasi ini.
"Aku pesan green tea cake with cream cheese dan minumnya orange jus saja." jawab Mira tanpa melepas pandang dan senyumnya.
Eka mencatat pesanan dinote kecil miliknya, "Oke, ada yang lain?" tanyanya kembali.
"Eh, samakan saja." jawab Mira, diikuti anggukan dari ketiga temannya.
"Baiklah kalau begitu, mohon ditunggu pesanannya. Saya permisi." Eka membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi meja itu.
"Hmm. Tunggu sebentar." panggil Mira.
Eka menoleh, "Ya?"
"Ng.. Apa kau tidak kenal kami? Atau aku?"
Alisnya bertautan dan terdiam sesaat. "Ah kau yang memberiku cokelat tempo hari. Benar kan?" ingatnya.
Mira mengangguk, "Namaku Mira. Kelas 3 D. Tolong diingat ya." ucapnya sembari tersenyum.
"Hemm.. Oke." jawabnya kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya menuju meja kasir. Eka tak terlalu menghiraukan mereka.
"Sepertinya ada sedikit kemajuan ya Mir?" tanya salah satu temannya.
"Setidaknya dia tidak mengacuhkanmu lagi." susul gadis disebelahnya.
Mira mengangguk - angguk, "Ya, walaupun ia masih tak menghiraukanku. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan hatinya."

Reihan mendapati Mira dan teman - temannya sedang bersenda gurau dicafe tempatnya bekerja.
"Ka, itu Mira." ucapnya sambil menunjuk kearah mereka.
"Ya, kenapa?" tanyanya. Eka sedang menyiapkan piring dan gelas.
"Oh, kau sudah tau mereka ada disini."
"Ya, baru saja mereka aku layani." jawabnya acuh.
"Aku curiga mereka kesini karena ada kau."
"Mereka kesini mau makan dan minum, bukan ingin bertemu denganku." Eka berpindah posisi. Reihan mengambil gelas yang disiapkan Eka barusan dan mengisi orange jus disana.
"Kau ini polos atau bodoh sih. Kan sudah pernah kubilang, Mira itu menyukaimu. Jadi mungkin dia akan terus mengejarmu sampai dapat."
"Dapat apa?" tanyanya tanpa berhenti memotong cake dengan tidak mengurangi fokusnya.
Reihan menepuk dahinya, "Haisshh. Mendapatkan hatimu! Apalagi?" serunya sambil menunjuk kearah dada Eka.
Eka menoleh dan mengerucutkan bibirnya, "Kalau bisa, ambil saja. Haha" lalunya.
Reihan melongo dengan jawaban Eka barusan.

"Permisi, ini pesanannya." Eka datang dengan senampan yang berisi 4 gelas orange juice.
Ditengah - tengah Eka meletakkan gelas dimeja, tanpa kedip Mira memandanginya.
"Silahkan diminum, sebentar saya ambilkan sisa pesanannya." ucapnya sambil berlalu.
"Cool banget ya Eka itu. Aku tidak salah jatuh cinta padanya. Tampan sekali kalau terlihat dari dekat." ucap Mira dengan mata berbinar, disusul dengan cekikikan teman - temannya.
Reihan disudut sana menggembungkan kedua pipinya, masih terasa kesal atas ucapan Eka barusan.
Eka datang kembali dengan cake pesanan mereka, "Pesanannya sudah komplit ya. Sekiranya ada perlu tambahan bisa panggil kami kembali. Terima kasih." Eka mundur selangkah dan ingin berlalu namun terhenti karena ucapan Mira.
"Eka, kenapa kau tidak ikut gabung dengan kami? Cafe sedang sepi kan?" ajak Mira.
"Maaf tapi disini saya masih bekerja dan jam kerja selesai jam delapan malam." jawabnya dengan sopan.
"Ah, begitu ya..." ada rasa sedikit kecewa disana.
"Tidak apa kan. Bilang saja kau teman kami pada pemilik cafe ini." sela teman Mira.
"Ck. Teman? Jika kalian menganggap saya adalah teman kalian, seharusnya kalian menghormati dan menghargai apa yang saya lakukan, bukan mengikuti apa maunya kalian. Egois sekali." ketusnya dan berlalu begitu saja.
Senyuman dibibir Mira tiba - tiba memudar, ditambah dengan tatapan heran dari ketiga temannya.

"Haaahh. Mereka menyusahkan saja." helanya panjang.
"Wooaahh tajam sekali kata - katamu tadi." Reihan yang mendengar ucapan Eka barusan sempat terkejut.
Eka menatap tajam dan memberi isyarat 'jangan menganggu lagi' dan sukses membuat Reihan mundur teratur.

***

Hari semakin malam dan udara menjadi semakin dingin. Eka dan Reihan keluar dari cafe tersebut. Mereka berjalan menuju halte bus.
"Bus terakhir masih adakah?" tanya Eka menengok kearah datangnya bus.
"Hem. Masih kok. Harusnya lima belas menit lagi datang." jawabnya setelah melihat jam tangannya. "Nah itu dia." tunjuknya kearah bus datang.
Mereka berdua menaiki bus tersebut setiba bus datang dan mereka memilih duduk dibangku paling belakang.
"Bagaimana kabar ibumu?" tanya Reihan ditengah perjalanan.
"Hem. Baik - baik saja kok. Sekarang dia terlihat lebih segar."
"Syukurlah kalau begitu."
"Ya dia juga sudah berhenti kerja malamnya."
"Hn?"
"Aku memintanya untuk berhenti bekerja dimalam hari. Untung saja ibu mau mendengar dan memenuhi permintaanku. Akhirnya ibuku hanya bekerja menjaga toko roti."
"Baguslah kalau begitu. Memangnya sebelum itu ibumu bekerja dimana kalau malam hari?"
"Direstoran menjadi tukang cuci piring. Itu terdengar sangat jahat bukan? Dengan kondisiku yang masih sehat dan bugar seperti ini."
Reihan terdiam dan sejenak mengingat kondisi Eka kala itu."Tapi kan sekarang kau sudah bekerja. Setidaknya kau bisa membantu biaya hidup dan sekolahmu kan."
"Ya. Semua ini aku lakukan demi ibuku. Aku tidak mau melihatnya kelelahan dan menderita seperti saat itu. Sepertinya aku perlu berterima kasih padamu Reihan."
"Eh? Terima kasih untuk apa?"
"Untuk semuanya sampai saat ini kau teman yang paling peduli dan dekat denganku. Dan yang tau kalau aku terkena amnesia."
Reihan terenyuh, baru kali pertama Eka memujinya sampai seperti ini. "Ahaha.. Santai saja." jawabnya dengan tepukan akrab dipundak Eka. Disusul dengan tawa kecil mereka.

***

Lyan mengoreksi jawaban dikertas ulangannya kembali. Ia merasa tidak terlalu yakin dengan ulasan dari soal essai yang diberikan sang guru. Sesekali ia menggaruk kepala dengan pennya dan kadang berdecak pelan.

"Haaaahhhhh..." helanya panjang. Lyan berjalan keluar kelas. Ia merenggangkan tengkuk lehernya tepat sebelum ia tertabrak siswa laki - laki yang berlarian dilorong kelas. "Aaww.." bahunya tersenggol hingga tubuhnya terjatuh. "Apa sih tadi?"
"Kau tidak apa - apa?" tanya seorang laki - laki dibelakang Lyan dan tangannyapun terulur dihadapannya.
Lyan mendongak dan meraih uluran tangan itu, "Terima kasih. Aku tidak apa - apa."
"Maaf ya temanku malah kabur setelah menabrakmu."
"Ya tidak ap..." ucapannya terhenti seketika Lyan menyadari siapa laki - laki yang sejak tadi berbicara dengannya. "Ha..hari?"
Laki - laki bernama Hari itu hanya tersenyum miring. "Tumben sekali kau tidak menghindariku?"
'Menghindari?' kedua alis Lyan bertautan, "Eh... Menghindari?"
"Ngomong - ngomong kau semakin cantik saja sejak beberapa bulan lalu aku tidak melihatmu." Hari menatapnya intens.
Lyan tidak nyaman dengan tatapan itu dan dia sedikit merasa aneh dengan orang - orang yang sepertinya menghindari Hari dengan tidak menatap serta menjaga jarak.
Reihan yang tak sengaja melihatnya, menghampiri Lyan. "Lyan, rupanya kau disini? Bisa bantu aku?" ujar Reihan.
"Eh, ya kalau aku bisa pasti ku bantu." jawabnya tanpa mengindahkan seringai dari Hari.
Reihan melirik kearah Hari, memandang tidak suka disana.
"Kalau begitu ayo ikut aku. Eka juga sedang menunggu." ajaknya.
"Eh tapi..." Lyan berlalu meninggalkan Hari, karena bahunya didorong dari belakang oleh Reihan.
"Ck. Ada pahlawan kesiangan rupanya." ucapnya sambil berlalu.

"Hn?" Eka mengangkat alisnya ketika Lyan menanyakan bantuan apa yang perlu dia lakukan.
"Tadi Reihan bilang padaku." tunjuknya kearah Reihan.
"Haaa.. Aku hanya ingin menyelamatkanmu tau." Reihan melipat kedua tangan didepan dadanya.
"Menyelamatkanku? Dari apa? Tadi kan aku hanya bertemu dengan Hari."
"Hari?" tanya Eka.
"Aduh, kau ini tidak ingat ya. Hari itu orang yang ditakuti disekolah ini. Dia orang yang berbahaya. Memang dia adalah kapten tim sepak bola tapi karena kearogannya itu membuat dia berbuat seenaknya pada semua siswa." jelasnya pada Eka.
"Oh..." Eka ber-Oh-ria.
"Lalu? Kenapa kau perlu menyelamatkanku sih? Berlebihan." kata Lyan.
"Hn? Kau tidak ingat apa yang dulu dia lakukan padamu?"
Lyan menggelengkan kepala.
"Dia amnesia sama sepertiku." sela Eka yang masih betah duduk dikursi.
"Hah?!" seru Reihan terkejut, kemudian menoleh kearah Lyan.
Hal itu diakuinya dengan anggukan.

***


Tbc

Kamis, 20 Juli 2017

CERBUNG : REVERSE Chapter 6

REVERSE





Genre : Schoolife, Drama, Fantasy
Chapter 6

Prev Prolog12345


Reihan menyeruput kuah bakso yang dipesannya dikantin. Eka tengah merapikan sendok dan garpu yang telah ia pakai untuk makan siomay.
"Rei, ada yang ingin ku tanyakan padamu."
"Uhuk uhuk.." Reihan tersedak kuah bakso.
Segera Eka menyerahkan sisa air mineral botol miliknya dan menepuk pelan bahu Reihan, "Pelan pelan dong!"
Reihan meneguknya disusul dengan anggukan.
Eka pindah tempat duduk berhadapan dengan Reihan. "Hei, sudah bisa menjawab pertanyaanku belum?"
"Ssshhh. Pertanyaan apa?" Reihan mendesis karena kepedasan sembari mengipas - ngipas mulutnya dengan salah satu tangan.
"Aku curiga mengenai kejadian tadi."
"Kejadian mana sih?"
"Kau seperti terlihat mencurigakan ketika melihat reaksiku terhadap Lyan dan laki - laki itu. Sebenarnya ada apa?"
'Eh dia menyadarinya? Apa dia tidak mengingatnya ya?' gumam Reihan, "Hemm tidak ada apa - apa kok."
"Benarkah?"
"Apa aku terlihat berbohong?"
"Ya."
"Eh." kejutnya.
"Cepat katakan padaku, apa ada sangkut pautnya dengan diriku dimasa lalu yang tidak aku ingat?"
Reihan terdiam sesaat, "Aku tidak tau apa ini baik atau tidak. Tergantung dari pemikiranmu."
"Hah? Maksudnya?"
"Hem.." Reihan tengah berpikir, "Kau harus janji jangan terlalu gegabah dalam memikirkan hal yang akan aku katakan ini ya."
"Haaahhh. Baiklah." eluhnya.
"Antara kau dan laki - laki itu pernah terjadi konflik. Sampai sekarangpun dia masih menjaga jarak denganmu. Maka dari itu dia terlihat dingin padamu kan?"
"Hm, ya. Tadi dia melihatku seperti itu."
"Nah itu dia."
"Hn? Kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa aku dan dia terjadi konflik."
"Ini bersangkutan dengan seseorang dan perasaanmu."
"Hah?"
"Kemarilah sedikit, aku tidak bisa bicara terlalu keras. Takut ada yang mendengar." Reihan memajukan badannya dan diikuti oleh Eka. "Kau, dia dan Lyan." bisiknya.
"Hah? Apa maksudmu?? Lyan?" Eka terkejut.
"Sshhttt. Jangan kencang - kencang." desis Reihan.
"Eh iya iya." angguknya dengan melihat sekeliling menatap mereka berdua. "Terus bagaimana bisa? Kenapa? Kalau cerita jangan sepotong - sepotong dong." ujarnya sedikit kesal.
"Sabar... Begini aku tidak tau pastinya seperti apa. Karena kau juga tidak selalu terbuka denganku. Ini menurut apa yang aku dengar dan lihat saja." jelasnya, "Kau menyukai Lyan, namun disatu sisi Lyan menyukai laki - laki itu bahkan sebaliknya. Namun saat itu belum ada hubungan apa - apa diantara mereka."
"Hah?" Eka tak percaya.
"Dan saat ini mereka sudah berpacaran kurang lebih satu tahun lamanya."
"Apa ceritamu benar adanya?" tanyanya kembali.
"Iya itu benar. Aku bicara jujur kok."
Eka terdiam, 'Aku menyukai Lyan?' pikirnya. 'Tapi dulu waktu SMP aku memang sempat menyukainya tapi yang aku tau hanya sekedar rasa suka karena dia adalah orang yang baik dan berbeda dengan gadis yang lain.'
"Apa tidak ada ingatanmu yang masih menempel akan hal itu?"
Eka menggeleng, "Memang beberapa waktu lalu, Lyan pernah mengatakan kalau dia sudah memiliki pacar. Itu saja yang ku tau"
"Nah apa sekarang kalian sudah akrab kembali?"
"Apa maksudmu? Kita berdua memang sudah kenal dan akrab sejak SMP. Tidak mungkin aku dan dia akan diam saja ketika bertemu."
"Haisshh. Aku paham akan hal itu, tapi semenjak Lyan dan Dimas menjalin hubungan. Lyan terlihat menghindarimu dan menjaga jarak. Bahkan dia jarang sekali berinteraksi denganmu. Kaupun sama. Tapi pada dasarnya kau hanya ingin memegang janjimu pada laki - laki itu."
"Janji?"
"Ya janji jika mereka sudah berpacaran, kau tidak boleh mendekati Lyan lagi bahkan kau diharuskan menjaga jarak dengannya."
"Konyol sekali." elaknya.
"Tapi itu kenyataan yang aku tau. Sebagian hal itu kau ceritakan padaku. Walaupun tidak terlalu detil."
"Aku harus menanyakan pada Lyan mengenai hal ini. Ini tidak boleh terjadi, hanya karena masalah perasaan hubungan pertemanan sampai diputus seperti itu. Itu kan konyol!" Eka bergegas meninggalkan kantin untuk pergi menemui Lyan.
"Eh tunggu Ka, itu aku belum bayar baksonya..."

***

"Apa yang akan kau bicarakan?" tanya Lyan.
Dimas menatap intens pada gadis yang dicintainya itu.
Suara degub jantung Lyan terasa terdengar keras dalam dirinya, 'Apa sih kenapa jadi berdebar begini' gumam Lyan.
"Kau marah?"
"Tidak."
"Perihal kemarin?"
"...."
"Pfftt.." Dimas menahan tawanya.
Lyan sedikit terkejut, "Hei, kenapa kau tertawa. Mau mengejek atau menggodaku lagi ya." sebuah pukulan pelan mendarat di dada Dimas.
"Saat kau terlihat merajuk seperti itu, wajahmu lucu."
"Hah?"
"Aku bercanda. Sudahlah maafkan atas sikapku kemarin. Aku tidak serius saat itu hanya sedikit menggodamu."
"...."
"Akhir pekan kau ada acara?"
"Sepertinya tidak ada." jawabnya datar.
"Hn? Gayaku sudah menular padamu ya?"
"Apanya?"
"Gaya sok cool seperti itu."
"Heh..."
"Kalau tidak ada, aku akan menjemputmu dirumah."
"Untuk apa?"
"Berkencan denganmu. Sudah lama aku tidak mengajakmu kencan. Kau mau kemana?"
Kedua pipi Lyan bersemu merah mendengar ajakan kencan tersebut, "Hemmm. Kemana saja. Yang penting menyenangkan."
"Pipimu bersemu merah, apa kau senang dengan ajakanku? Berarti ini tandanya kau tidak marah padaku lagi kan."
"Apanya yang merah, ini karena disini agak panas. Jadi pipiku memerah. Lagipula tadi aku katakan tidak marah padamu." Lyan sembari menutup kedua pipinya.
Dimas tersenyum kecil melihat tingkah gadisnya itu, "Baiklah pukul 10 pagi aku akan datang menjemput oke."
Lyan menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu ayo kekelas." ajaknya.
"Ya." Lyan berjalan dibelakang Dimas dengan senyuman dibibirnya. 'Kencan ya..'

***

Sari terdiam sesaat dan meneruskan langkah kakinya yang sempat terhenti seketika teringat apa yang baru saja didengarnya dari Andika. Dia bingung haruskah ia mempercayai perkataan Andika barusan?.
Lyan yang baru saja tiba didepan pintu kelas tak sengaja melihat Sari dan memanggilnya.
"Sari" panggilnya sambil menghampirinya.
"Eh, Lyan." jawabnya datar.
Lyan yang sejak tadi tersenyum - senyum tiba - tiba menghilang garis senyum dibibirnya. "Eh ada apa denganmu? Kok murung begitu?"
"Ah tidak apa - apa kok." elaknya.
"Hem? Tidak mungkin. Ayo katakan. Raut wajahmu mengatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi."
"Aku hanya sedikit bingung. Barusan Andika mengatakan sesuatu padaku. Dia bercerita apa yang dia tau dalam kehidupanku disini. Aku tidak tau harus kupercaya atau tidak. Hanya saja..."
"Hanya saja kenapa? Memang apa yang ia katakan padamu? Hal yang burukkah?" Lyan mengerutkan keningnya.
"Aku tidak bisa cerita disini Lyan. Lagipula informasinya belum kudapat semua. Baik dari keluargaku ataupun orang lain."
"Hah?"
"Nah, apa kau sudah mendapatkan petunjuk mengenai dirimu sendiri?" Sari berbalik tanya.
"Hn? Aku? Belum tapi yang jelas aku masih berusaha untuk mencari tau."
"Kalau begitu, jika kau sudah mendapatkan informasi baru mari kita bertukar cerita. Itu baru adil."
"Hah? Huh baiklah kalau begitu."
Sari tersenyum kecil, "Oke kalau gitu aku masuk kekelas dulu ya."
"Hem, aku juga dah." Lyan berbalik badan dan berjalan menuju kelasnya. Begitu juga Sari yang sudah dulu masuk kelas.
Tak berapa lama, Eka sedikit mempercepat langkahnya.
"Ah itu dia. Lyan!" panggilnya saat melihat punggung Lyan.
Lyan menoleh kesumber suara, "Oh Eka. Ada apa?"
"Sebentar. Aku ambil nafas dulu..hosh hosh.." Eka terengah - engah. Dibelakangnya menyusul Reihan sambil berlari.
"Hoii,, Eka tunggu sih.. Ya ampun!"
"Kenapa kalian berdua? Habis main kejar - kejaran?" tanya Lyan menahan tawanya.
"Enggak!" jawab kompak mereka berdua.
"Wuih kompak banget jawabnya. Haha"
"Sudah tidak penting itu. Lyan aku harus bicara dengan pacarmu." kata Eka dengan wajah serius.
"Eh, ada apa?"
"Aku ingin meluruskan sesuatu yang salah disini." jawab Eka lagi.
"Kau ini keras kepala ya Ka." susul Reihan.
"Diam kau." desis Eka pada Reihan.
"Ada apa? Kenapa kau ingin bicara dengan Dimas? Dan sesuatu apa yang salah?" tanya Lyan kembali.
"Perihal kita harus menjaga jarak karena kau berpacaran dengannya."
"Hah? Apa maksudmu?"
"Reihan bilang padaku, jika kau berpacaran dengan Dimas. Aku tidak boleh berhubungan denganmu dan menjaga jarak denganmu. Apa menurutmu itu bagus? Apa - apaan semua itu. Kita ini kan teman lama."
"Hn?" Lyan mengerutkan dahinya, 'waktu itu Dimas juga menanyakan hubunganku dengan Eka. Apa ini ada sangkut pautnya dengan yang dikatakan Eka barusan?' ucapnya dalam hati.
"Lyan. Apa kau mendengarku?" Eka melambaikan telapak tangannya dihadapan wajah Lyan.
"Ah ya. Tentu saja." sontak Lyan tersadar. "Tapi aku tidak tau soal hal itu."
"Kau harus menanyakan hal itu padanya dan aku harus bicara pada Dimas juga."
"Tidak bisa semudah itu Ka." selak Reihan.
"Apa maksudmu?" tanya Eka.
"Sudah kubilang itu sudah berlangsung cukup lama. Dan akupun aneh sekali melihat kalian berdua beberapa hari belakangan ini. Seperti tidak terjadi apa - apa dan kalian bisa bicara seperti biasa."
"Bukankah kami memang sudah berteman sejak SMP kan? Jadi wajar saja kalau kami bisa bicara seperti biasa." kali ini Lyan yang menjawab.
"Haahhhh... Lyan kalau kau ingin jelasnya. Tanyakan saja pada pacarmu itu." ucap Reihan.
"Baiklah nanti aku akan tanyakan. Dan juga aku akan bilang padanya kalau kau Eka ingin bicara dengannya."
"Oke. Kabari aku ya Lyan."
"Hm. Bel sudah berbunyi. Ayo masuk kelas." ajak Lyan yang berjalan didepan mereka.
Ekapun mengangguk dan mengikuti Lyan dibelakangnya. Sedangkan Reihan hanya menghela nafasnya panjang.
"Aduh duh bakal ada perang dunia laki - laki tampan lagi nih kayaknya." gumamnya.

***

"Hn? Kau sudah kembali?" Dimas menoleh kearah Andika yang baru saja tiba dikelas.
"Ya." Andika mendudukkan dirinya dikursi.
Dimas memperhatikan wajah Andika yang sedikit berbeda dari biasanya. "Kau sudah mengatakannya?"
"Hm?"
"Pada Sari."
"Oh. Ya."
"Kenapa jawabanmu pendek sekali. Ada apa?"
"Hemmm.. Tidak. Hanya saja aku melihat ekspresi wajah Sari yang terdiam seperti itu membuatku berpikir apa yang aku katakan padanya akankah dipercayainya?"
"Kau bicara yang sesungguhnya?"
"Ya. Semua yang kutahu. Tak ada yang ku buat - buat." Andika menatap meja dihadapannya dengan tatapan sendu.
"Jangan menyerah. Tetaplah pada apa yang kau tuju. Walaupun semua itu tidak mudah. Aku yakin Sari lambat laun akan percaya. Tidak mudah memang seseorang yang mengalami amnesia bisa langsung percaya dengan apa yang didengarnya. Dia butuh bukti dan keyakinan akan hal itu. Jadi bersabarlah." Dimas menepuk bahu Andika memberi semangat.
Andika tersenyum, "Ya. Aku takkan menyerah. Walaupun harus dimulai dari nol."
"Itu baru sahabatku." Dimas membalas dengan senyuman dan tatapan beralih keluar jendela. 'Aku juga harus dapat menyakinkan Lyan dengan semua yang nantinya akan aku ceritakan. Walaupun nantinya konsekuensi yang kuterima kembali seperti dahulu.' ucapnya dalam hati.

Seseorang yang duduk agak jauh dari mereka berdua tak sengaja mendengar sebuah nama yang disebut.
"Sari?" seorang laki - laki paling pintar dan memiliki IQ tinggi pada angkatan sekolah mereka serta menjadi orang yang sangat populer karena ketampanannya.

***

Lyan berjalan sendirian menuju halte bus. Sari tidak bisa menemaninya karena ada permintaan dari ketua PMR untuk berkumpul. Dua minggu kedepan mereka akan mengikuti kegiatan bakti sosial bersama Palang Merah Indonesia di pusat kota.
"Huhhh..." helanya panjang ketika tiba di halte bus. "Panasnya.." sambil menggerakan telapak tangannya didepan wajah.
"Hn? Lyan?" tanya seseorang disampingnya.
Lyan menoleh, "Ah ya. Apa kau mengenalku?"
Seorang perempuan itu tertawa, "Tentu saja. Kita kan pernah satu kelas waktu SMP."
Lyan menyipitkan kedua matanya dan, "Ah ya ampun. Kau Anggun?" ucapnya membelakak.
"Ya." jawabnya tersenyum.
"Kau bersekolah yang sama denganku?" Lyan melihat seragam yang dipakainya.
"Hem." akuinya walau menatap aneh.
'Ah aku hampir saja tidak mengenalnya. Dia cantik sekali, seperti model. Bisa berubah sedrastis inikah? Wah hebat.' kagum Lyan dalam hati.
"Kau sendirian?" tanya Anggun.
"Ah ya aku sendirian. Kau sendiri?"
"Kebetulan hari ini aku tidak dijemput. Jadi aku pulang sendiri."
"Oh begitu ya." Lyan memikirkan sesuatu, 'Apa hubunganku dengan dia baik - baik saja ya. Pasalnya waktu SMP kan sempat menjauh karena.. '
"Lyan. Kau masih berteman dengan Sari?"  tanyanya memecah lamunan Lyan.
"Ah ya. Masih kok."
"Hmmm begitu ya. Apa dia masih dekat dengan Oki?"
"Oki?"
"Ya Oki, tidak mungkin kau tidak mengenalnya kan?"
"Aahhh.. Hehee" Lyan terkekeh, 'Apa yang akan kukatakan? Tidak mungkin aku mengatakan pada semua orang dengan alasan amnesia kan?' rutuknya.
"Lyan?"
"Eh iya, hmmm. Aku tidak begitu tau sih sebenarnya. Maaf.."
"Oh begitu ya. Tidak apa - apa kok. Ku harap Sari sudah menjauhi Oki karena sudah tau yang sebenarnya."
"Hah? Apa maksudnya?"
"Kau juga belum tau ya?"
"Sebenarnya..."
"Oki telah ditunangkan oleh keluarganya, jadi tidak mungkin mereka berdua akan bisa menjalin hubungan kembali seperti waktu dulu." sela Anggun memotong ucapan Lyan.
"Tunangan? Hubungan? Seperti dulu? Aku gak begitu paham." Lyan terlihat bingung.
Anggun menyunggingkan senyumnya, "Tidak usah dipaksakan sampai kau paham situasi ini. Sebagai teman atau sahabat Sari, aku hanya berpesan padamu. Katakan kembali padanya bahwa akulah tunangan Oki dan itulah kenyataannya. Jadi kuharap dia tidak mendekati Oki lagi."
"...." Lyan terperangah dan kembali diam.
"Ah busnya sudah datang. Aku duluan ya." Anggun menaiki bus tersebut.
Lyan masih terdiam disana, 'Apa yang terjadi sebenarnya? Sari dan Oki?'

Setibanya Lyan dirumah,
"Assalamualaikum." salam Lyan dari luar pintu.
"Walaikumsalam..." jawab Ibunya dari ruang tengah.
Lyan berjalan lesu menuju kamarnya melewati ruang tengah keluarganya.
Wulan yang tengah mengerjakan PR diruang tengah sekaligus menemani sang ibu menonton televisi melihat kearah Lyan dan menyenggol lengan sang ibu untuk melihat keadaan kakaknya tersebut.
"Eh kenapa Lyan? Kok lesu?" tanya ibunya ketika melihat wajah lesu anak sulungnya tersebut.
Lyan menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh, "Aku hanya lelah dan sedikit kepanasan Bu. Aku ingin langsung tidur saja ya Bu. Makannya dirapel nanti malam saja." pintanya.
"Eh kok bisa begitu. Padahal Ibu memasak makanan kesukaanmu loh." ucap sang ibu.
"Hmm tapi aku tidak lapar sekarang Bu. Aku kekamar dulu ya Bu." Lyan berjalan kembali.
Ibu dan adiknya hanya menatapnya aneh.
"Lagi M kali Bu." ucap Wulan.
"Hem? Mungkin ya. Biasanya tidak seperti itu." jawab sang ibu.
Kenop pintu kamar sudah dikunci dari dalam oleh Lyan, berharap siang ini ibu dan adiknya tidak menganggu istirahatnya.
"Fuihhh..." helaanya. Lyan bersandar pada balik pintu kamarnya. "Banyak hal yang tidak aku ketahui didunia ini. Sebenarnya aku sedang bermimpi apa sih? Kenapa ini terasa nyata, bahkan aku juga tidak bisa mengingat apapun." Lyan merosot, masih dibalik pintu. Menenggelamkan wajah dikedua tangan yang bertumpu pada kedua lututnya. Dia tidak mengetahui sebenarnya apa yang sudah terjadi pada mereka bertiga.

***

TBC

Sabtu, 08 Juli 2017

CERBUNG : REVERSE Chapter 5



REVERSE



Genre : Schoolife, Drama, Fantasy
Chapter 5

Prev Prolog1234

Andika berjalan menuju kelasnya dan tak sengaja dari arah yang berlawanan terlihat Dimas menghampirinya.
“Hei, darimana?” Dimas mendahului.
“Eh harusnya aku yang bertanya padamu. Tadi aku ke perpustakaan kau tidak ada disana. Biasanya jika tidak ke kantin kau pasti berada disana kan?”
“Ah, aku baru saja dari lapangan tenis.” Dimas berjalan menuju mejanya, diikuti Andika.
Andika menggeser kursinya untuk diduduki, “Hn? Ada apa disana?”
“Tidak ada apa – apa. Aku hanya berbicara dengan Lyan.”
“Oh….” Andika menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya bertanya – tanya apakah Dimas bisa membantu apa yang sekarang ada dipikirannya. “Hem… sepertinya ada yang ingin aku ceritakan padamu.”
Dimas menutup kembali buku yang diambilnya dari tas, “Hn?”
“Aku tidak tahu ini tepat atau tidak untuk bertanya pendapatmu.”kedua tangannya saling bertautan diatas meja.
Dimas mengubah posisi duduknya, “Kalau begitu, aku juga ingin bertanya sesuatu padamu.”
“Apa?”

“Hem.. jadi seperti itu. Mengapa mereka berdua mengalami hal yang sama?” Andika menggaruk tengkuknya.
“Hem..” Dimas mengangkat kedua bahunya dan mengalihkan pandangannya kedepan kelas.
“Tapi apa kau yakin akan membantunya dalam mengingat semua ingatannya yang hilang?”
“Heem..” Dimas mengiyakan.
“Kau juga berpikiran yang sama denganku rupanya.”
“Bukankah itu bagus?”
“Maksudmu?”
“Bukankah ini adalah kesempatanmu untuk membohonginya?”
“Tadinya aku berpikirian seperti itu. Tapi aku mengurungkan niatku. Hal itu lebih buruk dibanding aku ditolaknya berkali – kali.”
“Haahh.. akhirnya baru kali ini aku bangga padamu!”
“HAH?”
Dimas hanya tersenyum jahil pada sahabatnya itu. Dalam benaknya, ‘Aku sendiripun tida begitu yakin dia akan percaya semua cerita yang aku ungkapkan nantinya. Bisa saja itu hanya kebohongan. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi aku tak ingin dia dekat kembali dengan laki – laki itu.’
***

Bel sekolah berbunyi,
“Hei, hari ini jadi mencari tempat bekerja?” ucap Reihan.
Eka menjawab dengan anggukan.
“Oke. Sepertinya diujung dekat halte bus, aku pernah melihat sebuah kafe membuka lowongan pekerjaan. Siapa tau disana membutuhkan pekerja parttime seperti kita.”
“Hah? Tunggu dulu. Kita?”
“Iya.” Ucapnya yakin.
Eka menyipitkan kedua matanya, “Bukankah hanya aku yang ingin mencari pekerjaan itu.”
“Aku juga akan ikut. Ikut menemanimu..”
“Apa – apaan sih. Tidak usah seperti itu. Aku jadi tidak enak.”
“Tidak apa – apa. Lagipula aku tidak akan meninggalkanmu sendirian dalam kondisi seperti ini. Bagaimanapun aku adalah teman terbaikmu saat ini, teman yang paling mengerti.. bukankah seperti itu?” Reihan mengucapkannya dengan berbinar – binar dan berbunga – bunga. Tanpa disadari Eka telah meninggalkannya keluar kelas.
“Menjijikan.”
“Eh, hoi tunggu aku. Kau mau kemana?” ia berlari menghampiri Eka dan merangkulnya. “Jangan tinggalkan aku dong.”
“Apa sih. Geli tau!” protes Eka menyingkirkan tangan Reihan dari bangkunya.
“Hahahhaaa….”

-          Klontang – suara bel kafe itu berdentang ketika terbuka.
“Syukurlah, akhirnya aku diterima dan mulai besok bisa langsung bekerja.” Eka dengan semangatnya.
“Hem, aku juga. Aku tak menyangka kalau bisa semudah ini.”
“Apaan sih, kau tidak ingat kalau kau ini memohon – mohon sambil menangis menjijikan seperti itu.”
“Hahahaaa.. itu hanya taktik.”
“Alasan! Sudah aku mau pulang.”
“Aku juga. Hehe..” Reihan berjalan berdampingan dengan Eka, “Hem, kenapa kau ingin bekerja paruh waktu sekarang.”
“Ah, aku hanya ingin meringankan beban ibuku.”
“Wah.. kau anak yang baik rupanya. Apa sekarang kau sudah insyaf.”
“Hey, apa dulu aku begitu parah?”
“Hem.. tidak juga, kau hanya terlalu acuh. Bahkan tidak peduli apapun.”
“Seburuk itukah?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Jangan mengada – ngada.”
“Tidak aku hanya mengucapkan yang sebenarnya kok.”
Eka terdiam sejenak. “Maka dari itu mulai hari ini aku harus berubah untuk menjadi lebih baik. Jika memang benar dengan apa yang kau katakan, kalau aku dulu sangat buruk.”
“Itulah yang aku tunggu dari dulu kawan.kau harus peduli dengan keluargamu dan sekitarnya.”
Eka mengangguk – angguk.
***

“Haaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhh hari ini sangat panas…” eluh panjangnya ketika Lyan merebahkan diri dikasur empuknya itu. Setibanya dirumah ia langsung menuju kamar dan menyalakan AC kamarnya.
‘Tok tok’
“Hn? Siapa?” Lyan bangun dan mendudukan diri ditepi tempat tidur.
“Aku kak. Boleh aku masuk.”
“Ah, masuklah.”
Adik perempuan Lyan yang bernama Wulan itu menggeser kursi dihadapan kakaknya. “Hem.. kaka da sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi kau harus berjanji jangan sampai ibu dan ayah tau.” Ucapnya sambil berbisik.
“Eh, apa itu. Kenapa dengan nada bicaramu yang seolah berbisik itu.”
“Ssstt.. tenanglah.”
Lyan menganggukkan kepala.
“Kak, apa yang kau lakukan saat mengalami hal yang belum pernah kau ketahui sebelumnya?”
“Hah? Hal apa? Semacam apa?”
“Perubahan pada dirimu kak, apalagi!”
“Perubahan pada diriku? Aku tidak mengerti apa maksudmu. Katakanlah dengan kata – kata yang aku mengerti. Atau to the point saja.”
“Tidak bisa.”
“Mengapa tidak bisa?”
“Seperti kau menyentuh bagian dari tubuhmu dan itu membuatmu merinding dan seperti ada rasa kejut.”
Lyan membulatkan kedua matanya, ‘Apa – apaan bocah ini. Bahasa yang dikeluarkannya fasih sekali. Ngeri..’
“Tapi disatu sisi kau juga merasakan sesuatu yang keluar dari tubuhmu begitu saja tanpa kau sadari dan kau mau.” Wulan menjelaskan dengan wajah serius dan mengekspresikannya dengan kedua tangan dengan paham sekali.
Dahi Lyan mengkerut, ‘Tidak mungkin, mana mungkin anak sekecil ini mengerti tentang hal itu…. Aku harus memastikannya dan menghentikan tingkahnya ini. Ini sangat mengerikan.’
“Kak.. jawab aku.”
“Ah, apa kau sering melakukan hal itu?”
“Hem.. kalau hal yang pertama beberapa kali. Tapi untuk hal yang kedua sepertinya baru kali ini.”
“Apa!” Lyan mencengkram kedua bahu adiknya itu, “Wulan, kau ini masih sangat kecil untuk mengetahui apalagi melakukan hal semacam itu. Dan itu sangat tidak baik untukmu.”
“Hem? Tapi beberapa temanku berkata dan menanyakan kepada kakaknya kalau hal itu sangat wajar.”
“Hah?” Lyan terkejut, “Pokoknya kau tidak boleh seperti itu lagi.”
“Tapi kak, itu mengalir begitu saja. Lihatlah kebawah..”
Lyan mengikuti perintah adiknya dan ternyata…. “Ah…. Kau mengalami menstruasi rupanya dan hal yang pertama tadi adalah tumbuh sesuatu didadamu.”
Wulan mengangguk – angguk. "Wajar kan kak. Tapi Ibu jangan diberi tahu nanti dia heboh sendiri.”
Lyan menghela nafasnya panjang, ‘Perkiraanku terlalu awal berpikir buruk ternyata.. hahaha..’. “Baiklah lalu apa yang kau butuhkan?”
“Apa kau punya pembalut kak? Dan apa dulu kau diam saja pada saat pertama seperti ini?”
“Yang jelas kau harus membersihkan itu dikamar mandi dan pakai ini segera. Setelah itu beri tau ibu agar dia bisa membelikan pembalut padamu dan miniset untukmu.”
“Hem.. begitu rupanya.. oke..” Wulan berlalu dari kamar Lyan.
“Hah.. pikiran yang sangat konyol. Bisa – bisanya aku berpikiran seperti itu pada adikku.. hahahaa…” Lyan merebahkan lagi tubuhnya. Ia memandangi langit – langit kamarnya, teringat wajah pacar dinginnya itu. “Apa – apaan sih dia itu. Kenapa juga aku bisa berhubungan dengannya. Dia memang tampan bahkan sangat tampan dan juga pintar. Tapi jika aku mengingat kejadian pagi tadi rasanya aku ingin mengucek – ucek wajahnya dengan tanganku. Kesal..”
Lyan bangun dari tidurnya dan menghampiri laci meja belajarnya, “Ini diaryku ya… aku harus membacanya lagi agar lebih paham perasaan apa yang aku miliki disini dengan laki – laki dingin itu.”
***
Jam pelajaran pertama sudah selesai,
Ponsel sari bergetar, ada pesan masuk disana.
-          Aku perlu bicara denganmu. Perihal ingatanmu.
-          Ku tunggu jam istirahat di taman sekolah
“Dari Andika..” lirihnya.

Andika sudah berada ditempat pertemuannya.
“Andika, maaf sudah membuatmu menunggu.” Ucap Sari baru tiba.
“Ah, tidak kok. Aku baru saja sampai.”
“Begitu. Aku duduk ya.”
Andika menganggukkan kepalanya.
“Jadi hal pertama apa yang ingin kau ceritakan padaku?”
Andika terdiam sesaat, “Hemm..”

Dilain tempat dengan waktu bersamaan.
Dimas berdiri didepan kelas Lyan, ia berniat ingin bicara dengannya. Namun hal pertama yang dia lihat adalah bertemu dengan Eka.
“Eh, kau dari kelas sebelah ya?” tanya Reihan ketika akan keluar kelas.
“Ah ya.”
“Sedang menunggu siapa atau kau ingin bertemu dengan...”
“Aku menunggu Lyan keluar.”
“Mau aku panggilkan?” tawar Reihan.
“Ah, jika tidak merepotkan.”
“Tidak masalah.”
Reihan meninggalkan Dimas dan Eka berdua. Dan mereka diam seribu Bahasa hanya sekilas melirik satu sama lain.
‘Apa dia ini pacarnya?’ gumam Eka dalam hati.
Lyan kemudian mengikuti Reihan keluar kelas dengan wajahnya yang datar.
“Ini orangnya yang mencarimu.” Reihan menunjuk Dimas.
Lyan sontak terkejut dan segera menghampiri Dimas. “Oh, ada apa kau mencariku?”
“Aku perlu bicara denganmu. Tapi tidak disini.”
“Hn? Bukankah kau bilang tidak mau berjalan dekat – dekat denganku?” jawabnya dengan wajah cemberut.
‘Rupanya dia merajuk. Lucunya ekspresi itu.’ Ucap Dimas dalam hati. “Sudahlah ayo ikut aku.” Dimas membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, Lyan mengikuti dibelakangnya.
“Hey, apa itu pacarnya?” tanya Eka pada Reihan.
“Ya. Memangnya kau tak ingat?"
"Tidak."
"Hem? Bukankah kau dulu…… eh” Reihan hampir saja mengungkapkan sesuatu.
“Apa?” tanyanya pada Reihan.
“Tidak ada apa – apa.. hehee”
“Mencurigakan sekali tertawamu itu.”
“Sudahlah ayo kita kekantin.”
***

tbc

FF V - EUNHA (BTS X GFRIEND SHIPPER) - THE HANDSOME FREAK CHAPTER 6

The Handsome freak Chapter 6 Previous  1 ,  2 ,  3 ,  4 ,  5 Title : Fanfiction Chapter Genre : Romance, Comedy Ca...