Selasa, 17 November 2015

CERBUNG : IDOL SCHOOL Chapter 7


IDOL SCHOOL
Chapter 7

School life, Romance, Comedy

Happy Reading ^^

Previous Chapter 1-2-3-4-5-6

**************________________***********

“Ini minumlah.” Renal menyediakan segelas air putih untuk Rissa yang ia taruh dimeja. Kemudian ia duduk didepan Rissa sambil memperhatikan sikap Rissa yang dirasanya terlihat kaku. “Kamu kenapa? Apa kamu sakit?”
“Ah, tidak tidak, aku tidak apa – apa kok.” sontak Rissa menjawab dengan senyum yang dipaksakan. 'Apa – apaan ini, kenapa dirumahnya tidak ada seorangpun? Apa disini dia tinggal sendiri? Dan kenapa aku harus mau ikut  dengannya, nanti terjadi sesuatu padaku bagaimana?' gerutunya dalam hati.
Rissa terlihat gelisah dan keadaan itu sangat menganggu pikiran Renal, tanpa pikir panjang ia menutup buku dan menaruhnya dimeja. “Kamu itu kenapa? Sejak tadi aku lihat sangat gelisah. Apa ada yang menganggu pikiranmu?” tanyanya dengan tatapan coolnya.
Rissa terkejut melihat ekspresi Renal seperti itu, “Eh, anu aku mau ketoilet.”
Renal menghela nafasnya, “Oh itu, bilang daritadi bisa kan? Dari sini kamu belok kekanan tidak jauh dari situ disebelah kirimu ada toilet, pakai saja.”
“Ah iya, aku permisi dulu ya.” Rissa segera bergegas meninggalkan ruang tamu itu.
“Anak itu!” seru Renal menggelengkan kepalanya.

“Aduh, aku ini kenapa sih?!” Rissa menepuk kedua pipinya pelan dan bercermin di dalam toilet yang cukup lebar itu. “Kenapa aku terlihat gelisah, aku kesini hanya untuk belajar bersama tidak ada maksud lain. Dan dia mengajakku dengan alasan yang sama, tidak ada maksud lain juga! Jadi jangan berpikir macam – macam ya Rissa! Ingat itu!” ia berbicara dengan dirinya dihadapan cermin.
“Yosh! Semangat belajar. Oke!” serunya menyemangati dan ia bergegas keluar dari toilet. Ia berjalan pelan dan hati – hati menuju ruang tamu.
Renal menoleh kearahnya, “Sudah selesai?”
Rissa hanya mengangguk dan ia mendudukkan dirinya ditempat semula, segera ia ambil buku biologi yang ia pinjam di perpustakaan tadi, tidak lupa juga alat tulisnya.
Renal sekilas melirik gerak gerik Rissa membuka tasnya, matanya terpaku pada suatu benda yang dipegang oleh Rissa, “Pulpenmu bagus.” ucapnya.
Rissa membelakak matanya karena terkejut, “Ah ini? Hehhe iya terima kasih.”
“Kamu beli dimana?”
“Ditoko buku beberapa minggu yang lalu.”
“Bisa kulihat sebentar?” mintanya dengan menunjukkan wajah memelasnya.
Rissa hanya menatap wajah Renal saat itu dan kemudian ia memberikan pulpennya. “Ini.”
“Bagus ya, boleh untukku?” ucapnya setelah melihat – lihat bentuk dari pulpen itu.
“Eh, kamu mau pulpen ini?” tanyanya balik.
“Hmm, kalau kamu mengijinkan. Anggap saja sebagai bentuk hadiah untukku.”
“Hadiah?”
Renal hanya mengangguk – angguk.
“Ah, baiklah ambil saja untukmu. Aku bisa membelinya lagi.” jawabnya diselingi dengan senyum manisnya.
“Terima kasih yah, akan aku jaga pemberianmu ini.” ungkapnya menyakinkan.
Wajah Rissa merona, hatinya merasa berbunga – bunga bahkan hanya karena sebuah pulpen.

***

Mina dan Yuko merencanakan sesuatu untuk Rissa, sepulang sekolah mereka berdua akan mencegat Rissa dan mengajaknya kesuatu tempat.
“Panas sekali hari ini.” ucap Rissa sambil menyeka keringat dipelipisnya. Terik matahari itu langsung memancarkan cahaya terangnya hari ini. Rissa berjalan sendirian saat itu, karena Sam dan Inka sedang ada urusan.
“Mereka berdua selalu saja meninggalkanku sendirian.” gumam Rissa, kedua tangannya dieratkan pada tali tasnya.
“Hei!” seru Mina yang telah berdiri dihadapan Rissa.
Rissa tersentak kaget dengan kedatangan Mina dan Yuko secara tiba – tiba dihadapannya, “Ada apa?” tanyanya gemetar.
Yuko berjalan mendekatinya, “Kamu harus ikut bersama kami.” ucapnya dan menarik lengan Rissa tanpa ijin, Rissa hanya mengikutinya tanpa bisa memberontak.
Mereka bertiga berjalan sangat cepat sampai pada tempat yang telah direncanakan.
“AH...” tubuh Rissa dihentakkan kesudut tembok. “Ada apa sebenarnya??” tanyanya meringis sembari memegang bahu kirinya yang terasa sakit karena benturan tadi.
Yuko dan Mina hanya tersenyum sinis.
“Hei, kamu anak yang bernama Rissa kan?” tanya Yuko mendekati Rissa.
“Benar aku Rissa, ada apa? Apa tidak bisa kita bicara baik – baik.” pinta Rissa yang masih meringis sakit.
“Tidak pantas berbicara baik – baik padamu.” sinisnya.
“Apa maksudmu?”
“Setelah aku melihat penampilanmu, kamu sangat tidak pantas berdekatan dengan Renal.” cibir Yuko.
“Hah?..” Rissa tersentak untuk kesekian kalinya.
“Kamu tau aku kan? Aku ini calon pacarnya Renal. Jadi aku harap kamu mengerti apa maksud tindakan aku ini. Jangan sampai aku melakukan sesuatu yang berbahaya padamu.” ancam Yuko.
Rissa terdiam dan tak berbicara apa – apa. Kemudian mereka berdua pergi begitu saja meninggalkan Rissa sendirian disana.
“Apa maksudnya aku tidak pantas berdekatan dengan Renal?” gumamnya dengan bibirnya yang bergetar saat itu. 'Aku sangat terkejut dengan perlakuan Yuko tadi, tidak aku sangka yang terlihat manis dan baik dihadapan Renal bisa sejahat itu bicaranya kepada orang lain.' ucapnya dalam hati. Kemudian Rissa melanjutkan langkahnya menuju halte Bus, ia ingin bersegera tiba dirumah untuk menenangkan pikirannya.

Ditempat yang berbeda,
“Apa yang ingin kalian katakan?” tanya Renal dengan gayanya yang cuek dihadapan Inka dan Sam. Saat ini mereka ada dihalaman belakang sekolah, setelah Sam yang memaksa Renal untuk berbicara dengan mereka.
“Huft.. susah sekali ya berbicara denganmu.” keluh Sam sambil melipat kedua tangannya.
“Hmm.. anu.. Renal kami ingin meminta bantuan.” sela Inka sedikit malu.
“Bantuan?” tanya Renal mengeryitkan dahinya.
“Begini teman kami, kami curiga dengannya. Dia tidak pernah jujur pada kami, karena dia takut kami marah....” jawab Inka pelan.
“Katakan point utamanya, jangan berbelit – belit.” ucap Renal tidak sabar.
“Eh, maaf ya kalau aku bicaranya lama..” jawab Inka cepat.
“Sini, biar aku yang bicara.” sela Sam dan sekarang berdiri dihadapan Renal.
“Hei, kamu tau tidak kalau kami ingin fansmu.” ucapnya terang – terangan dengan gaya cueknya. 'aduh kok aku tidak ada manis – manisnya sih dihadapan idolaku.. aduuuhhh...' gumamnya menyesal dalam hati.
“Eh,” Renal terlihat kaget, “Apa maksud kalian?”
“Maafkan kami ya kalau kami lancang.” Inka menyela Sam yang menurutnya tingkah Sam tidak baik dan ini malah membuat makin runyam. “Kamu kenal dengan teman kami yang bernama Rissa?”
“Eh, Rissa?”
“Iya, yang pernah kamu tolong di tangga waktu itu.”
“Iya, aku kenal dengannya bahkan pernah jalan bersama.” jelasnya tanpa ekspresi.
“HAH JALAN BERSAMA????!!!” sontak mereka bersamaan.
“Heh, kalian ingin membuatku menjadi tuna rungu dengan suara kalian.” protes Renal sambil menutup kedua telingannya.
Inka dan Sam tersadar dengan teriakan mereka.
“Eh, maafkan kami ya. Kami hanya histeris saja mendengar kalau kalian pernah jalan bersama.” jawab Inka.
“Hmmm.. tepatnya minggu lalu ia menemaniku kepameran komik karena kebetulan ia suka komik.” jawabnya singkat.
“Ohh...” Inka hanya ber-Oh ria.
“Apa kau tau kalau Rissa menyukaimu?” terka Sam.
“Eh, menyukaiku?” sontak Renal merasa terkejut dengan ucapan Sam barusan. 'Apa benar Rissa menyukaiku? Gadis aneh itu.' tanyanya dalam hati.
“Pastinya aku tidak tau, karena dia selalu menyembunyikan perasaannya bahkan dengan teman dekatnya sendiri seperti kami.” jelas Sam.
Renal mengangguk – angguk, “Lalu tadi kalian bilang ingin meminta bantuanku? Bantuan apa?”
“Ah, begini biar aku yang jelaskan.” ucap Sam serius, “Kami ingin membuat kencan buta yang dimana pasangan Rissa adalah kamu.”
“Hah? Kencan Buta? Apa itu?”
“Kamu tidak tau kencan buta ya?” tanya Inka. Renal hanya menggelengkan kepalanya.
“Haiissshhh, ku kira kamu tau secara kamu adalah cowo populer disekolah.” Sam menepuk dahinya.
“Populer? Apanya yang populer, aku hanya siswa biasa disini.” ucap Renal.
“Heh?? jadi kamu merasa tidak populer yah?” tanya Inka. Lagi – lagi Renal menjawab dengan anggukan kepala.
“Hah!” serunya sambil menghela nafas kasar, “Jadi aku harus melakukan apa?”
“Kamu bersedia membantu kami?” tanya Sam.
“Hmmm.. aku juga ingin tau kebenarannya kalau memang Rissa menyukaiku.” jawab Renal dengan santai.
“Asyik.. kalau begitu aku akan atur bagaimana caranya. Kamu akan kita beritahu tempat dan tanggalnya ya.” ucap Sam dengan antusias.
“Hem.” jawab singkat Renal disertai anggukan, “Baiklah sudah urusannya kan, aku kembali kekelas yah ada jam tambahan pelajaran dengan guru matematika nih.” ucapnya sambil melangkahkan kakinya meninggalkan halaman belakang sekolah itu.
“Iya, tunggu kabar dari kita yah.” ucap Inka senang dengan rencananya dan Sam. Renal menjawab dengan menunjukkan dengan kedua jarinya berbentuk 'Ok'.
“Yeiii, akhirnya dia bersedia Sam.”
“Hemm.. berikutnya kita harus yakinkan Rissa nih. Besok kita harus berbicara dengannya.” ucap Sam semangat.
“Iya.”
“Sekarang kita pulang, ayo!” seru Sam dengan menarik Inka seperti biasanya.

***

Rissa duduk diam dimeja belajarnya, ia teringat perlakuan dan ucapan Yuko kepadanya tadi siang. Ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, “Kenapa ia melakukan itu padaku, memangnya aku salah apa?” ucapnya.
“Hei, kamu ini kenapa? Sepertinya sangat frustasi?”
Rissa sontak terkejut dan menoleh kebelakang, “Ahh.. kamu ini kalau masuk ketuk pintu dulu!” protes Rissa pada Sepupu laki – laki yang lebih tua darinya.
“Hahahaaa.. salah sendiri kamu membiarkan pintu kamarmu terbuka , Tuh.” jawabnya sambil menunjukkan kearah pintu.
“Eh, masa sih? Rasanya tadi sudah ku tutup deh.”
Sepupunya itu duduk dipinggir tempat tidur Rissa, “Kamarnya jadinya bersih ya.” ucapnya sambil memandangi sekeliling kamar Rissa, tepatnya bekas almarhum adiknya itu.
Rissa hanya menghela nafasnya, “Ada apa sih, kamu mau mengerjaiku yah?” tanya selidiknya dengan menatap tajam.
“Weitss,, santai saja tidak usah memasang muka seram seperti itu.” ucap Sepupunya yang diketahui bernama Arya itu. “Aku hanya ingin mengunjungi kamarmu, entah kenapa aku teringat adikku.” ucapnya sambil menunduk.
'Bagaimana bisa sepupuku yang sangat usil dan dijuluki si evil bisa sesedih ini?' ucapnya dalam hati.
“Beberapa hari lalu aku makan siang bersama pacarku dan ia berbicara tentang adiknya. Aku jadi teringat adikku.”
Rissa yang sejak tadi memasang wajah tidak suka dengan kedatangan Sepupunya dikamar tiba – tiba berubah menjadi iba. Kemudian ia duduk disampingnya, “Aku juga terkadang teringat oleh Maya, dia gadis yang manis dan baik tidak sepertimu yang sangat jahil!” protes Rissa sambil cemberut.
“Hahahahaa.. jadi kamu masih dendam ya saat pesta ulang tahunmu beberapa tahun lalu.”
Iyalah, kamu itu jahat sekali mengotori gaunku, padahal itu kan hadiah dari ayahku.”
“Hehhee, maaf aku tidak bermaksud seperti itu.” jawabnya sambil tersenyum geje (?).
“Sudahlah lupakan, aku sudah melupakan hal itu.”
“Apa kamu betah tinggal disini? Dengan Ayah dan Ibuku?”
“Hmm, aku betah. Paman dan Bibi sangat baik padaku. Selagi Ayah pergi keluar kota, selama itu aku akan tinggal disini.”
“Hmm.. kalau tidak salah ini adalah tahun terakhirmu disekolah ya?” terka Arya.
“Iya, aku sedang fokus belajar agar lulus dengan nilai yang bagus. Tapi aku adalah masalah dengan pelajaran matematika padahal mata pelajaran itu adalah mata pelajaran utama.” keluh Rissa.
“Hahahaa.. kamu ini persis sekali dengan Maya yah. Dia juga lemah dengan matematika.” ucapnya dengan spontan mengacak - acak rambut Rissa.
Rissa terkejut dengan sikap Arya itu, dia terdiam dan menatap Arya.
“Eh, maaf yah.” Arya melepaskan tangannya dari kepala Rissa dan memalingkan wajahnya.
“Tidak apa – apa kok, kalau kamu mau anggap saja aku ini adikmu seperti Maya.” kata Rissa.
Arya menoleh kearah Rissa dengan wajah bingungnya, “Apa maksudmu?”
“Iya, anggap saja aku ini adikmu. Dengan begitu kamu tidak akan usil lagi padaku kan?” jawab Rissa dengan riang.
“Hah?” Arya terlonjak dari duduknya dan berdiri, “Huh, jangan harap ya kalau aku tidak akan menjahilimu lagi.” ucapnya sambil melipat kedua tangannya.
“Apa?!” seru Rissa ikut berdiri dihadapan Arya.
“Karena menjahilimu adalah hobiku sekarang, hahahaaa...” jawab Arya tanpa dosa dan tertawa berbahak – bahak.
“Rrgghhh... kamu ini. Awas yah!” seru Rissa memukul – mukul punggung Arya.

                                         ***

Pagi yang hangat, sinar matahari pagi menusuk setiap jendela – jendela kelas.
“Hosh hosh hosh..” Sam dan Inka mengambil nafasnya setelah berlari dari lantai bawah.
“RISSA!!!” seru mereka berdua, sontak seluruh penghuni kelas menoleh kearah mereka begitupun dengan Rissa yang sudah duduk manis ditempat duduknya.
Sam dan Inka berlari kecil menghampiri Rissa.
“Eh, ada apa kalian?” tanyanya aneh melihat tingkah laku teman – temannya itu.
Sam mengatur nafasnya sedangkan Inka menyeka keringatnya.
“Minum ini dulu.” ucap Rissa sambil menyodorkan botol minumannya.
“Ah, tidak usah Rissa.” jawab Sam.
“Eeeh,”
“Rissa, kau mau ikutan Blind Date tidak?” tanya Inka.
“Blind Date? Kencan Buta?” tanya Rissa polos.
Sam dan Inka mengangguk – angguk dengan senyuman lebar.
“Aku rasa kamu perlu ikut deh.” ucap Inka menyakinkan.
“Eh, kenapa harus aku, kenapa tidak kalian saja?'
“Eh, kami sudah punya pacar. Benarkan Sam!” seru Inka menyenggol lengan Sam.
“Iya iya. Kami sudah punya pacar.” jawab Sam kaku.
“Tapi kan sebentar lagi mau ujian akhir, aku tidak mungkin menjalin hubungan dengan laki – laki.” jawab Rissa.
“Haiiss.. bertemu saja dulu, baru kamu yang putuskan.” Sam ikut meyakinkan.
Rissa nampak berpikir, 'Apa aku harus ikut?' ucapnya dalam hati.
“Ayolah Rissa, biar kamu sama dengan kami. Memiliki pacar, ya kan Sam?”
“Eh, iya iya.”
“Hmmm.. kalau itu yang membuat kalian senang aku akan mencobanya dulu.” jawab Rissa tersenyum.
“Benarkah?” tanya Inka antusias. Dan Rissa menjawabnya dengan anggukan.
'Ini akan menjadi rencana yang baik.' ucap Sam tersenyum dalam hati.
- Skip -
“Jadi kapan waktu dan tempatnya?” tanya Renal pada Sam dan Inka.
“Hari minggu depan, jam 10 pagi ditaman kota ya. Disana ada sebuah cafe dan kurasa makanannya enak – enak.” jawab Sam.
“Hmmm.. aku rasa, aku tau tempatnya. Hah! Baiklah kalau begitu aku akan kesana.” jawab Renal dengan cueknya.
“Oke!” jawab Inka sambil tersenyum.
Inka dan Sam pergi meninggalkan Renal sendiri dihalaman belakang sekolah, saat ini sedang jam istirahat.
“Hah, ini catatan yang harus aku lakukan yah?” tanyanya pada selembar kertas yang diberikan Inka. Kemudian ia menatap langit nan biru itu, “Kenapa aku menjadi aneh begini yah? Didalam sini terasa hangat.” ucapnya sendiri sembari memegang dadanya. “Kencan Buta? Lucu, padahal aku sudah pernah jalan bersamanya. Tapi kenapa kali ini terasa berbeda?”
***

Tbc

Minggu, 15 November 2015

FF Seokyu : Between Love Chapter 6



BETWEEN LOVE
Chapter VI


Tittle : Seokyu
Genre : Romance
Cast : Seo joo hyun, Cho Kyuhyun, Im Yoona, Lee Donghae, etc

Mian for typo..
Dont plagiat!!
Happy reading ^^

Previous Chap 1-2-3-4-5

***

Sulli tengah berlari dipinggiran kota, karena eouninya menelpon memintanya untuk bertemu malam ini juga. “Hosh hosh.. kenapa dengan eouni? Dan dimana dia?” ucap Sulli tersengal – sengal sembari memperhatikan setiap tempat mencarinya eouninya.
“Ah ketemu itu dia!” seru Sulli ketika ia melihat tubuh jangkung eouninya itu berdiri didekat tiang taman bermain. “Soo eouni.” panggilnya sambil menghampiri eouninya.
Sooyoung membalikkan tubuhnya, segaris senyum terhias dibibir mungilnya itu. “Sulli-ah, akhirnya kau datang juga.”
“Ada apa eouni malam – malam begini kau menelponku?” tanya Sulli masih terengah – engah.
“Tenanglah dulu, ini minumlah.” ucap Sooyoung sambil memberikan softdrink kepada adiknya itu. “Ikut aku.” ajak Sooyoung.
“Mmm?” gumam Sulli setelah meneguk minumannya.
Sooyoung melangkahkan kakinya menuju cafe di seberangnya, “Kita kesana yah.” unjuk Sooyoung pada Sulli yang dijawab dengan anggukan.
Sooyoung dan Sulli tengah berada dalam cafe tersebut, keduanya terdiam. Sulli memperhatikan sikap Sooyoung yang kala itu tidak seperti biasanya.
“Eouni, ada apa?” tanya Sulli memulai pembicaraan.
Sooyoung yang sejak tadi hanya diam seketika menatap adiknya diseberang mejanya, “Ahni, Sulli-ah. Hanya saja...” ucapnya terputus.
Sulli memanyunkan bibirnya, “Kau ada masalah? Ceritalah padaku.”
Sooyoung menghela nafasnya pelan, “Sulli-ah, apa kau masih ingat dengan laki – laki yang pernah ku ceritakan dulu?”
“Hmmm... sepertinya masih. Ada apa? Apa kau sudah bertemu dengannya?”
Sooyoung menunduk, “Aku sudah bertemu dengannya sudah lama.”
“Jinja! Lalu apa dia mengingatmu?” tanya Sulli antusias.
“Mungkin.”
Sulli mengernyitkan dahinya, “Apa maksud eouni dengan kata mungkin? Apa dia tidak ingat padamu?”
“Bukan, bukan begitu maksudku. Hanya saja, dialah yang pura – pura tidak mengingatku.”
“Mwo?”
“Sulli-ah, sepertinya cintaku bertepuk sebelah  tangan.” sedihnya.
“Eouni-ya. Kenapa bisa seperti itu? Ceritakan padaku.” pinta Sulli sedikit memaksa dengan menggoyang-goyangkan kedua tangan Sooyoung dimeja. “Siapa laki – laki itu? Apa maksudnya dia bersikap seperti itu padamu, sebagai adikmu aku tidak terima. Memangnya siapa dia, berani – beraninya menyakiti perasaan eouniku.” cibir Sulli.
“Sulli-ah...” ucap Sooyoung sendu, ia sangat kagum pada perhatian Sulli padanya. “Kau tidak usah terlalu emosi padanya, semua itu aku yang salah.” jelas Sooyoung pelan.
“Mwo? Apa yang eouni katakan! Jelas – jelas eouni merasa bahwa dia yang berpura – pura tidak mengenalmu, bagaimana mungkin kalau eouniku yang baik dan cantik bak bidadari ini menyakiti perasaan orang lain.” Sulli melakukan pembelaan.
Sooyoung tersenyum lebar melihat tingkah laku dari adik satu – satunya itu dan kemudian ia menarik tangannya dari genggaman Sulli untuk mengacak – acak rambut Sulli.
“Yak! Eouni-ya!” seru Sulli saat Sooyoung mengacak rambutnya.
“Kau itu tidak pernah berubah, selalu bertindak konyol dan semaunya sendiri! Tanpa mau mendengarkan penjelasan dan memikirkan perasaan orang lain. Tapi kau itu tetap adik kesayanganku.” jelas Sooyoung.
“Apa – apaan eouni ini, memperlakukanku seperti anak kecil. Aku kan sudah mau lulus kuliah dan umurku sudah lebih dari 20 tahun.” cibir Sulli tidak terima.
“Aigo.. adikku merajuk??” goda Sooyoung sambil tertawa kecil.
“Yak eouni katakan apa yang sebenarnya terjadi padamu? Jangan bercanda.” ujar Sulli mendesak.
Sooyoung mulai terdiam dan berdehem, “Kau sudah berteman lama dengan Seohyun?”
Sulli mengernyitkan dahinya, “Tentu saja, dia bukan saja temanku dia adalah sahabat terbaikku eouni. Dia selalu membantuku dalam setiap mata kuliah bahkan hal – hal pribadipun aku dibantu olehnya. Aku sempat takut kehilangan pada saat dia kecelakaan dan koma dirumah sakit, tapi Tuhan berkehendak lain, dia kembali hidup dari komanya.” jelas Sulli antusias.
Sooyoung mengangguk – angguk, “Jadi kau lebih sayang mana antara dia dengan aku?”
“Tentu saja sayang kepada kalian berdua!” serunya riang dan tersenyum lebar.
“Tapi, jika dia salah satu orang yang menyebabkan perasaan eounimu ini sakit bagaimana?”
“Mwo? Apa maksudmu eouni?”
“Kau ingat laki – laki yang kita temui pada saat tadi siang dikantorku? Dan sempat berselisih dengan Seohyun?”
Sulli mengangguk.
“Dia adalah laki – laki yang pernah kuceritakan padamu, laki – laki yang tidak pernah hilang posisinya dihatiku, bahkan namanya pun masih tertulis disana. Tapi disaat aku bertemu dengannya lagi seakan semua yang pernah kami jalani pada waktu itu hilang tak berbekas.” Sooyoung menghela  nafasnya pelan mengambil jeda dalam luapannya, “Aku selalu berpikir, kenapa dia seperti itu padaku? Apa yang salah denganku? Dan ku rasa dia melakukan itu karena sudah ada Seohyun.”
“Mwo? Tidak mungkin. Aku sangat mengenal  Seohyun.”
Sooyoung kembali menatap kedua bola mata  Sulli.
“Eouni, setauku Seohyun tidak pernah bertemu dengan laki – laki sebelumnya bahkan sebelum dia mengalami kecelakan beberapa bulan lalu. Tidak ada laki – laki yang dekat dengannya karena dia adalah wanita yang sangat dingin. Yang dia pikirkan hanyalah eouninya, dihatinya hanya eouninya. Dan dia bilang padaku bahwa dia akan menjadi dongsaeng terbaik untuk eouninya kalau perlu hidup dan matinya hanya untuk eouninya itu.”
“Benarkah? Jadi menurutmu aku salah mengira?”
“Aku juga tidak tau eouni, tapi apa kau pernah berbicara empat mata dengan tuan Cho?”
“Aku ingin melakukan itu jika aku bisa, tapi dia selalu terlihat sibuk. Dia selalu menghindariku disaat aku ingin mendekatinya. Entah ada apa dengannya?”
“Eouni, apa kau memikirkan sesuatu? Semisal memikirkan perasaannya pada saat itu?”
“Pada saat itu?”
“Iya pada saat kau meninggalkannya.”
Sooyoung terdiam sejenak, pikirnya apa yang dikatakan adiknya itu memang benar. Dia tidak terlalu memikirkan Kyuhyun pada saat itu, dia hanya meminta maaf jika tidak bisa bersamanya lagi.
“Apa mungkin tuan Cho sakit hati padamu eouni?” ucap Sulli mengira – ngira. “Sebaiknya kau harus memiliki waktu untuk menyelesaikan masalah ini dengannya, agar tidak terjadi salah paham.” jelas Sulli lagi.
Sooyoung menatap adiknya itu seakan apa yang dikatakan oleh Sulli ada benarnya, ia harus mencari waktu mungkin lebih tepatnya  memaksa Kyuhyun untuk berbicara empat mata dengannya agar semua masalahnya selesai dan Seohyun?. “Lalu ada hubungan apa Seohyun dengan Kyuhyun?”
“Molla, aku juga tidak tahu eouni.” Sulli menjawab seadanya.
Sooyoung terdiam. 'Aku harap mereka tidak ada hubungan apa – apa.' gumamnya dalam hati.
***
Yoona melipat kedua tangannya dan duduk disalah satu sofa dirumahnya, sementara Seohyun dan Kyuhyun duduk diseberangnya.
“Mmmm...” gumam Seohyun sambil menunduk.
Kyuhyun yang disampingnya melihat kearah Seohyun dan kemudian berpaling kearah Yoona, Yoona sedikit mengalihkan pandangannya kearah lain.
“Eouni mianhae.” ucap Seohyun lirih.
“Untuk apa?” jawabnya masih dengan posisi yang sama.
“Atas sikap kekanak – kanakkan ku.” balas Seohyun.
“Jadi?”
“Aku meminta maaf atas semua yang kulakukan. Aku hanya tidak ingin membuat hidupmu susah dengan mengurusku eouni. Itu saja.”
Yoona menatap Seohyun tajam, “Apa maksudmu? Apakah aku sudah tidak mampu lagi membiayai kuliahmu?”
“Ahni, ahni.. bukan begitu maksudku.” Seohyun terlihat takut dengan amarah Yoona, kemudian ia kembali menundukkan kepalanya, “Aku.. aku.. dari kecil aku selalu menyusahkanmu eouni. Aku selalu dimanja oleh Appa dan Eomma, kau selalu menjagaku, kau selalu membelaku dari orang jahat. Bahkan setelah orang tua kita meninggal, kau menjadi kakak sekaligus orang tua bagiku. Aku hanya merasa kenapa aku selalu menyusahkan hidupmu.” jelas Seohyun menahan isaknya.
Tatapan Kyuhyun menjadi sendu melihat Seohyun, ingin rasanya ia memeluk gadis itu.
“Kau bodoh! Kau bodoh Seohyun-ya!” seru Yoona dan hal itu sontak membuat mereka berdua Seohyun dan Kyuhyun menatap Yoona. “Kau sungguh – sungguh bodoh! Kau tau perasaanku atas sikapmu ini, huh?” ucap Yoona sambil menahan amarahnya. Bahunya terlihat naik turun, nafasnya sedikit tersengal.
“Justru karena ini aku meminta maaf padamu eouni.” jawab Seohyun dengan menatap intens kedua mata Yoona sendu. Kyuhyun terdiam disana.
Keduanya saling terdiam sampai ketika Yoona membuang wajahnya, ia menghembuskan nafasnya kasar. “Paboya.” ucapnya lirih.
“Yoona-ssi, aku...” Kyuhyun mencoba bicara.
“Tidak usah kau ikut campur urusanku dengan adikku, Kyuhyun-ssi.” jawab Yoona memotong.
Kyuhyun mengatup mulutnya lagi, “Aku memang tidak sepantasnya disini. Tapi setidaknya aku mencoba untuk mengerti kondisi Seohyun, bagaimana dia melakukan semuanya dibelakangmu. Setidaknya kau mau mendengarkan apa yang dia utarakan dan kau coba pikirkan dengan tindakannya itu. Diusianya yang saat ini sudah lebih dari cukup jika ia memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk kakak tercintanya.” ucapnya kembali. Kyuhyun berdiri dari duduknya dan merapihkan jasnya, “Kupikir kau perlu berpikir dengan menggunakan hati nuranimu  ketimbang dengan egomu.” ujarnya.
Seohyun menatap Kyuhyun tercengang dan Yoona terdiam.
“Ah, aku permisi Seohyun-ssi. Aku permisi Yoona-ssi.” ucap Kyuhyun sambil membungkuk dan segera meninggalkan rumah Seohyun.
“Apa yang dikatakannya barusan? Sungguh tidak sopan!” seru Yoona menahan amarahnya.
“Apa yang dikatakannya memang seharusnya seperti itu. Kenapa eouni tidak memberiku kesempatan untuk melakukan sesuatu menurut pikiranku sendiri? Apa yang aku lakukan semuanya itu akan berakibat kesalahan yang besar? Apa menurutmu seperti itu eouni?” tanya Seohyun kembali.
“Seohyun-ya!” pelik Yoona.
“Apa yang salah denganku eouni? Aku hanya ingin bisa melakukan semuanya sendiri tanpa menyusahkanmu, apa itu tindakan yang salah?”
Yoona terdiam, tenggorokannya tercekat.
“Aku... aku menyayangimu eouni melebihi apapun itu. Aku hanya mencoba memberikanmu waktu istirahat dari segala kebutuhan hidupku. Aku sudah dewasa, aku berhak melakukan tindakan menurut pikiranku sendiri asal tidak lewat dari batas – batas tertentu. Apa kau pernah paham mengenai perasaanku eouni? Apa kau hanya berpikir, apa yang kau lakukan semuanya benar dan tidak memikirkan perasaanku?”
Yoona membuang wajahnya, nafasnya memburu. “Kalau itu yang kau pikirkan, berarti semua yang kulakukan untukmu adalah keegoisanku.” ucapnya perlahan – lahan pelan.
“Kurasa tidak semua, jika kali ini kau mau mengerti kondisiku.”
“Apa kau pikir, yang kau lakukan sekarang adalah sikap terbaikmu untukku?” tanya Yoona.
“Kau hanya perlu memikirkannya dengan hati nuranimu eouni. Seperti yang dikatakan Kyuhyun-ssi.”
Yoona menghela nafasnya pelan, “Aku tak menyangka bahwa adik kecilku sudah dewasa sekarang.” tatapan Yoona beralih ke wajah Seohyun, “Kurasa aku harus memikirkannya dengan hatiku.”
Seohyun hanya diam atas jawaban eouninya itu.
“Sekarang istirahatlah. Hari sudah larut.” ucap Yoona memutuskan mengakhiri pembicaraan malam ini.
Seohyun bangkit dari duduknya, “Aku kekamar dulu eouni.” ucapnya sambil membungkuk dan pergi meninggalkan Yoona diruang tamu.
Kedua mata Yoona terasa memanas dan tak kuasa ia menahannya. Air mata itu mengalir tanpa ijin dikedua pipi tirusnya.

***

Kyuhyun merebahkan dirinya ditempat tidur king size apartemennya itu, tatapannya fokus dilangit – langit kamar yang penuh nuansa putih itu. Pikirannya terfokus pada wajah Seohyun, sekilas ia teringat pembicaraan antara dua kakak beradik itu. Kyuhyun terlihat gusar, sesekali ia mengacak rambutnya dan akhirnya ia mendudukkan dirinya ditepi kasurnya.
“Seohyun-ah... kenapa aku begitu peduli dengan kehidupanmu?” tanyanya pada diri sendiri.

Malam berganti pagi begitu cepat,
Seohyun terlihat terburu – buru memasuki kampusnya, sepertinya ia terlambat masuk kelas akibat kurang tidur semalam. Seorang gadis nan tinggi dan cantik itu memanggilnya dan melambaikan tangannya kearah Seohyun mengajaknya untuk cepat masuk kelas.
“Ahh.. Sulli-ah, kau juga terlambat.” ucap Seohyun terengah – engah ketika ia sampai berada disamping Sulli yang saat itu hanya menampilkan sederet gigi putihnya saja pada Seohyun.
“Kajja!” seru Sulli menarik lengan Seohyun. Seohyun hanya mengikuti ajakan Seohyun.
“Anneyoung Seongsaenim.” ucap kedua sahabat itu pada dosennya.
“Anneyoung. Cepat duduklah kelas akan segera dimulai.” ucap dosen yang penuh dengan kewibaan itu.
Seohyun dan Sulli segera menuju tempat duduk yang kosong dan dengan cepat menyiapkan buku serta memperhatikan dosennya didepan.
Waktu terus berlalu begitu saja, bersama semilir angin berhembus menerpa dedaunan dari rating pohon yang telah rapuh itu.

“Seohyun-ah, ada apa denganmu? Sejak tadi kau pendiam sekali.” tanya Sulli sambil membuka kotak bekalnya.
Seohyun hanya menghembuskan nafasnya pelan.
“Kau mau?” tawar Sulli dengan mulut penuh dengan sandwich buatan kakaknya itu.
“Ahni, gomawoyo.” ucap Seohyun pelan.
Sulli mengangguk – angguk, dia memilih sibuk dengan makanannya.
'Apa hubunganku dengan eouni akan baik – baik saja?' gumam Seohyun dalam hati. 'Dan kenapa aku terus memikirkan namja itu ya?'.
Sulli telah menghabiskan sandwichnya, “Seohyun-ah, kenapa kau melamun eoh?” ucapnya sambil menyenggol lengan Seohyun pelan.
Seohyun sedikit terperanjat, “Ahni, tidak ada apa – apa Sulli-ah. Aku baik – baik saja.” ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.
“Kau ini selalu menyimpan semua sendiri. Bicaralah padaku!” seru Sulli.
“Aku hanya bingung saja Sulli-ah.” akhirnya Seohyun angkat bicara.
“Hmm? Bingung? Ada apa sebenarnya?”
“Aku sudah jujur dengan kondisiku pada Yoona eouni, tapi sepertinya dia belum bisa menerimanya.”
“Jangan begitu, mungkin eounimu butuh waktu untuk memikirkannya.”
“Aku pikir juga begitu, sudah terlalu lama juga aku membuatnya menjadi seperti ini.”
“Tenanglah Seohyun-ah semua pasti akan kembali seperti semula.” supprot Sulli sambil merengkuh bahu kanan Seohyun dan tersenyum manis, Seohyun pun membalasnya.
“Tapi aku juga sedang memikirkan seseorang Sulli-ah.” ucap Seohyun.
“Siapa?”
“Seorang namja.”
“Namja?!” Sulli terlihat histeris.
“Nde, namja yang pernah kita temui di kantor  eounimu.” ucapan Seohyun membuat Sulli tertegun, ia teringat akan pertanyaan eouninya kemarin malam.
“Ada hubungan apa kau dengannya Seohyun-ah?” tanya Sulli dengan wajah serius.
Seohyun menunduk dan kemudian menegakkan wajahnya kembali, “Aniyo, dia hanya namja suruhan Donghae Oppa untuk mengawasiku.”
Sulli mengeryitkan dahinya, “Maksudmu?”
“Donghae Oppa adalah tunangan Yoona eouni, karena permintaan eouniku untuk mengawasi kegiatanku akhirnya ia menyuruh namja itu untuk mengawasi segala aktifitasku.”
“Mengawasimu? Aku tidak mengerti.”
“Aku sulit menjelaskannya Sulli-ah, tapi.. entah kenapa aku terus memikirkannya sejak malam itu.”
“Mwo? Ada hubungan apa kau dengannya Seohyun-ah?” selidik Sulli.
“Ahni, aku tidak ada hubungan apa – apa dengannya. Tapi..” Seohyun terdiam sejenak mengingat sekilas kejadian beberapa hari yang lalu dengan Kyuhyun. “Tapi dia melakukan sesuatu padaku sampai aku tidak bisa melupakannya.”
“Mwo? Melakukan apa Seohyun-ah? Apa dia menyakitimu?”
“Ahni, dia hanya menciumku secara tiba – tiba.”
“Mwo??” Sulli terperanjat atas ucapan lugu Seohyun itu, dengan kedua matanya yang terbelakak dan hampir melompat dari tempat  duduknya.
***



Kamis, 17 September 2015

FF Seokyu : Between Love Chapter 5


BETWEEN LOVE
Chapter V

Tittle : Seokyu
Genre : Romance
Cast : Seo joo hyun, Cho Kyuhyun, Im Yoona, Lee Donghae, etc

Mian for typo..
Dont plagiat!!
Happy reading ^^

***

Kyuhyun terlihat berjalan mondar mandir dihadapan Seohyun, terlihat dibalik pintu ruangannya Sooyoung dan Sulli tengah khawatir pasalnya Seohyun berteriak di depan atasannya.
Seohyun memainkan jemarinya, “Kenapa aku harus dibawa kesini?”
Kyuhyun menghentikan aktivitasnya tadi, “Karena kau itu berisik.”
“Mwo?!” seru Seohyun bangun dari duduknya.
“Sudah aku bilang jangan berisik, ini bukan rumahmu.” ucap Kyuhyun menatap tajam mata Seohyun.
Seohyun menghela nafasnya kasar dan kembali duduk, “Apa maumu?” tanyanya sambil membuang muka.
Kyuhyun berjalan dan mendekati Seohyun, sesaat ia menghela nafasnya. “Mian..”
Seohyun menoleh kearah Kyuhyun disampingnya, “Apa?”
“Mian, atas kejadian semalam.” jawab Kyuhyun sambil menatap lantai ruangannya itu.
Seohyun memandang wajah Kyuhyun dari samping, “Kau tau, aku membencimu” ucapnya langsung.
“Aku tau, itu pasti.” jawabnya datar.
Seohyun membuang mukanya lagi, ia terlihat kesal melihat namja itu.
“Tapi apa kau tau apa yang aku rasakan jika melihatmu?”
Seohyun melirik kearahnya dan menunggu kelanjutan dari ucapan Kyuhyun.
“Rasanya aku ingin memilikimu.”
'Deg' jantung Seohyun seakan berhenti, ia terkejut atas ucapan Kyuhyun barusan. “Apa maksudnya ingin memilikiku?” ucapnya dalam hati. “Kau jangan bercanda!” seru Seohyun.
“Aku tidak bercanda.” ucap Kyuhyun yang kini memberanikan diri menatap langsung kedua mata Seohyun.
Seohyun memundurkan wajahnya, “Sebenarnya siapa dirimu? Kenapa begitu mudahnya menyukaiku?”
“Bukankah sudah kubilang itu tidak penting.”
“Apa maksudmu tidak penting, justru itu sangat penting bagiku.”
“Ahh jadi begitu rupanya.” Kyuhyun mengangguk – angguk, “Jadi siapa aku itu sangat penting bagimu.”
Seohyun terdiam.
“Aku.. aku... aku hanya orang biasa. Donghae Hyung menyelamatkan hidupku yang hampir berantakan. Aku tidak memiliki orang tua, aku tinggal sendiri disebuah apartemen dekat pusat kota. Aku menerima tugas dari Donghae hyung untuk mengikutimu, memperhatikanmu bahkan menjagamu dalam beberapa minggu ini. Awalnya aku anggap semua akan baik – baik saja bertemu denganmu, karena itu hanya sebuah tugas. Namun lama kelamaan pikiranku penuh dengan wajahmu dan aku tidak tau kenapa, hingga setiap malam aku selalu membututimu hanya untuk melihatmu sampai dirumah dengan selamat.” Kyuhyun berhenti sejenak, “Hahhh.. apa itu cukup bagimu?”
“Donghae?” tanya Seohyun pada dirinya. “Sepertinya nama itu tidak asing bagiku.”
“Dia adalah tunangan kakakmu Seohyun-ssi.”
Seohyun terkejut, “Apa? Kenapa?”
Kyuhyun menarik nafasnya dan membuangnya perlahan, “Seharusnya aku tidak mengatakan hal ini.”
“Katakan apa?”
“Kakakmu meminta bantuan Donghae hyung untuk menguntit semua kegiatanmu diluar dari kuliah.” jawabnya singkat.
“Apa? unnie?”
“Yang aku tau hanya itu.”
“Kenapa unnie melakukan ini padaku? Meminta seorang namja untuk mengikutiku? Apa yang dipikirkan olehnya? Memangnya aku ini anak kecil.”
“Harusnya kau juga berpikir, kenapa unniemu melakukan hal ini padamu.”
Seohyun menoleh kearah Kyuhyun, “Maksudmu?”
“Aku rasa dia hanya mengkhawatirkanmu.”
“Mengkhawatirkanku?”
***
Sooyoung dan Sulli terlihat gelisah, sesekali mereka saling pandang dengan tatapan khawatir.
“Ada apa sebenarnya? Apa hubungan Kyuhyun dengan anak itu.” ucap Sooyoung dalam hati.
“Unnie. Sebenarnya ada hubungan apa bosmu dengan Seohyun.” Sulli memulai pembicaraan. Untungnya kantor sedang sepi saat itu, jadi mereka tidak begitu menjadi perhatian.
“Molla, aku juga tidak tahu bahkan aku ingin bertanya ini padamu.” jawab Sooyong.
“Mwo? Aku juga tidak tahu unnie.”
“Nona Choi, ada apa kalian berdiri didepan ruangan Sekertaris Cho.” ucap seorang namja berpakaian serba hitam dan terlihat gagah itu, yang tak lain adalah presdir dari perusahaan tempat Sooyoung bekerja.
Sooyoung menoleh kesumber suara, “Ah, maafkan saya Presdir.” ucap Sooyoung menunduk, sekilas ia melihat Sulli hanya terdiam. “Psst menunduklah!” serunya pada Sulli.
Sulli tersadar dan merespon, “Ah, iya maafkan saya juga.”
“Siapa dia Nona Choi?” tanyanya.
“Ah, dia saudara perempuan saya Presdir. Tadi hanya mampir, tapi ada sesuatu hal yang membuat kami berdua harus berdiri disini..” ucap Sooyoung.
“Terjadi sesuatu?” Donghae mengernyitkan dahinya, ia adalah Presdir dikantor ini. Ia melajutkan langkahnya dan membuka kenop pintu ruangan Kyuhyun.
“Kyuhyun kau ada didalam?” tanya Donghae ketika masuk keruangan Kyuhyun.
Kyuhyun dan Seohyun yang sedang duduk itupun menoleh kearah pintu masuk.
“Donghae Oppa!” seru Seohyun terkejut hingga ia bangkit dari duduknya. Kyuhyun pun ikut bangkit.
“Seohyun.” ucap Donghae yang tak kalah kaget dengan kehadiran Seohyun.
“Jadi memang benar itu dirimu?” tanya Seohyun yang langsung menghampiri Donghae.
Donghae terlihat bingung dan sesekali melihat mata Kyuhyun, saat itupun Kyuhyun hanya bisa diam dengan menyelipkan kedua tangannya dikedua saku celananya.
“Yak Oppa! Jawab pertanyaanku.” perintah Seohyun. Ia terlihat kesal dan tak percaya dengan apa yang dilakukan unnie dan calon kakak iparnya ini.
“Pertanyaan apa Seo-ah? Kenapa kau terlihat sangat kesal.” Donghae mencoba mencairkan suasana panas diruangan Kyuhyun itu. Ia mengajak Seohyun untuk duduk kembali. “Ada apa?”
“Oppa apa yang dikatakan oleh namja ini adalah benar?” ucapnya sambil menunjuk kearah Kyuhyun.
Donghae melihat Kyuhyun sekilas dan kembali lagi kepada Seohyun, “Memang apa yang dikatakan oleh Kyuhyun?”
“Yak! Kenapa kau bertanya kembali padaku! Aku butuh penjelasan kenapa oppa dan unnie melakukan itu padaku?” ucapnya sambil melipat kedua tangan didepan dadanya.
“Apa yang kau katakan Kyu?” tanya Donghae menatap tajam kearah Kyuhyun berdiri.
“Aku mengatakan yang sebenarnya.” jawabnya dengan ekspresi datar.
Donghae menghela nafasnya pelan dan menundukkan kepalanya sesaat, kemudian ia kembali menatap Seohyun berada dimana ia terlihat kesal, “Seo-ah, maafkan oppa dan unniemu. Ini semua kami lakukan untuk melindungimu. Kau tau unniemu itu sangat mengkhawatirkanmu?”
Seohyun terdiam, “Tapi kenapa beberapa minggu ini ia mendiamkanku? Bahkan kami jarang sekali bertegur sapa. Setiap kali hari libur ia selalu pergi keluar rumah dan aku ditinggalkannya sendirian dirumah.”
“Itu hanya peralihan sikapnya saja Seo-ah.”
“Peralihan sikap? Apa maksudmu oppa?”
“Sebenarnya ia menunggu kejujuran atas semua yang kau lakukan padanya, itu saja.”
Seohyun menunduk, ia tahu bahwa memang dirinya lah yang menyebabkan unnienya memperlakukan Seohyun seperti orang asing. Ia menyadari bahwa secara tidak langsung ia membohongi unnienya, tapi ia melakukan semua itu hanya untuk membantu keuangan keluarga kecilnya itu, hanya itu namun ternyata keinginan Seohyun berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Yoona.
Kyuhyun terdiam menatap punggung Seohyun, 'Apa yang dipikirkan olehnya? Kenapa ia hanya diam?' ucapnya dalam hati.
Seohyun perlahan meneteskan air mata.
“Seo-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Donghae melihat reaksi Seohyun.
“Aku yang salah oppa, aku yang berbohong pada unnie. Aku bukan dongsaeng yang baik, aku ini hanya menyusahkannya.” ucapnya sambil terisak.
“Aigo, jangan menangis Seo-ah.” ucap Donghae mengelus salah satu bahu Seohyun. Lagi lagi Kyuhyun hanya berdiri terdiam.
“Aku harus bagaiman Oppa?” tanya dengan suara sedikit gemetar karena tangisannya itu.
“Katakan pada unniemu yang sebenarnya kau lakukan sekarang, aku yakin unniemu pasti mengerti.” ucap Donghae pelan sambil menatap sendu.
Seohyun menangkup wajahnya dengan kedua tangan kurusnya itu, sesekali ia sesegukan karena menahan tangis. Kyuhyun membuang wajahnya kesamping dan menghela nafasnya pelan.
***

Saat ini Seohyun dan Kyuhyun berada dalam satu mobil, Donghae meminta Kyuhyun mengantarkan Seohyun pulang walaupun ini belum jam pulang kerja. Pandangan Seohyun terlihat kosong, ia terdiam sambil melihat kearah luar jendela mobil. Kyuhyun sesekali melirik kearah Seohyun, “Kau tidak apa-apa?” ia mulai membuka pembicaraan.
“Hmm.” jawab Seohyun dengan bergumam tanpa mengalihkan pandangannya.
“Mianhae.”
Seohyun menoleh kearah Kyuhyun, “Wae?”
Kyuhyun masih terfokus pada jalan didepannya, “Karena perbuatanku menambah masalahmu.”
Seohyun mengalihkan padangannya lagi kedepan, “Lupakan saja. Aku hanya memikirkan unnieku.”
Kyuhyun menghela nafasnya pelan, “Ah.. aku tau itu.”
“Kau ini hanya membantu mereka kan. Jadi tidak usah merasa bersalah padaku.”
'Apa dia lupa dengan perbuatanku dimalam itu?' ucap Kyuhyun dalam hati.
“Hei, Kyuhyun-ssi. Aku boleh bertanya padamu?”
“Apa itu?”
“Bagaimana cara yang baik aku meminta maaf kepada unnieku? Aku tidak yakin dengan tindakanku nanti. Aku takut memperkeruh suasana nantinya. Unnieku itu sangat keras kepala dan dia tidak mudah memaafkan seseorang apabila seseorang itu membuat kesalahan besar.”
Kyuhyun menoleh dan menatap Seohyun sekilas, “Biar aku temani.”
“Maksudmu?”
“Biar aku bantu menjelaskannya. Aku kan yang ditugaskan membututimu.”
Seohyun hanya mengangguk – angguk, “Baiklah.”

Dilain tempat, dalam waktu bersamaan..
“Apa oppa mengatakan hal yang sebenarnya pada Seohyun?” tanya Yoona terkejut yang saat itu menelpon Donghae.
“Ne chagi.” jawab Donghae dari seberang telepon.
“Bagaimana reaksi Seohyun, oppa?”
“Dia.. terlihat sedih dan merasa bersalah. Aku rasa ia akan menjelaskan semuanya padamu hari ini. Ia terlihat begitu terpukul sekali dengan tindakanmu mendiamkannya.”
Yoona mengigit bibir bawahnya dengan tatapan khawatir, “Apa yang harus aku lakukan oppa?”
“Kau hanya perlu mendengarkan penjelasannya saja, itu sudah cukup. Dan satu hal yang perlu kau ingat, tahan amarahmu walaupun sebenarnya kau ingin marah.”
“Ne, oppa. Aku akan berusaha semampuku, walau sebenarnya aku rindu dengan canda tawa dan keusilan Seohyun padaku.”
“Kau itu yeojaku yang paling baik chagi-ah, jadilah kakak terbaik untuk dongsaengmu, ne?”
“Oke oppa.”
“Oh ya, tadi aku meminta Kyuhyun mengantarkan adikmu pulang. Kemungkinan Seohyun akan tiba dirumah dengannya.”
“Oh, Kyuhyun? Laki – laki yang kau tugaskan untuk menguntit Seohyun?”
“Iya, sepertinya ia menyukai Seohyun.”
“Mwo? Kau sudah mengatakan hal itu oppa padaku. Apa Seohyun sudah pantas mendapatkan pacar diusianya ini oppa?”
“Aigoo, kau ini terlalu over protektif pada Seohyun ya? Dia sudah berusia 22 tahun dan itu adalah usia yang cukup.”
“Itu masih terlalu muda oppa.”
“Yoona-ah, kau dulu mulai berpacaran umur berapa? Bukankah sejak SMP kau sudah memiliki pacar eoh?” ejek Donghae pada tunangannya itu.
“Bwahhaaaahahaa... kalau yang itu tidak usah diungkit – ungkit oppa. Aku sangat berbeda dengan Seohyun.” Yoona tertawa.
“Alasan saja!” cibirnya.
“Yasudah oppa, sudah dulu ya. Aku ada pekerjaan yang harus ku selesaikan hari ini. Anneyong.” Yoona menutup sambungan teleponnya.
***
Sooyoung terlihat muram setelah kejadian siang tadi, dengan mata kepalanya sendiri Kyuhyun menarik paksa tangan Seohyun memasuki ruangannya. Ketika keluar dari ruangan Kyuhyun, wajah Seohyun terlihat sembab dan Kyuhyun merangkulnya mengajak pergi dari kantor tempat ia bekerja. Jelas perlakuan Kyuhyun saat itu membuat ia sedikit cemburu, bagaimana bisa ia melihat laki – laki yang dicintainya merangkul wanita lain.
“Siapa Seohyun itu?” tanya sendiri, ia menghela nafasnya pelan. “Apa benar – benar dia sudah melupakanku?”

Dilain tempat,
“Kenapa kau membawaku kesini, bukankah Donghae oppa memintamu mengantarku kerumah?” tanya Seohyun ketika Kyuhyun menghentikan mobilnya disuatu tempat ketinggian dimana suasananya terlihat sepi dan seperti pagi hari.
“Sudah jangan banyak bicara.” ucapnya sambil melepas sabuk pengaman dan turun dari mobilnya. Ia berjalan kepintu Seohyun berada dan membukanya, “Turunlah.”
Seohyun berdecak dan iapun terpaksa melepas sabuknya serta turun dari mobil.
Kyuhyun berjalan didepan Seohyun, Seohyun memanyunkan bibirnya. “Tempat apa ini sepi sekali?” tanyanya sekali lagi, namun yang ditanya hanya diam.
Angin pada siang itu terasa sejuk seperti udara pagi hari, Kyuhyun berdiri pada pinggiran tebing yang telah disekat besi. Kedua tangannya ditumpu disana, matanya terpejam merasakan kedamaian yang ada. Seohyun tiba dibelakang Kyuhyun dan kemudian kedua bola mata indahnya membulat sempurna, bibirnya sedikit terbuka.
“Apa ini? Pemandangan kota Seoul dari atas terlihat menakjubkan. Aku baru pertama kali melihat ini.” ucap Seohyun berdiri disamping Kyuhyun saat ini.
“Kalau malam hari terlihat lebih bagus dari pada siang hari.” jawab Kyuhyun masih dengan memejamkan matanya.
Seohyun menoleh kearah Kyuhyun, ia menatap wajah Kyuhyun sekilas dan tersenyum kecil, 'Dia ini sungguh tampan dan sangat tidak sopan. Tapi sepertinya dia baik.' gumamnya dalam hati.
“Kau ketahuan tengah memandangiku.” telak Kyuhyun dengan senyum smirknya yang khas.
Seohyun terkejut dan dengan cepat ia menolehkan wajahnya kedepan, “Ahni! Aku tidak memandangimu. Kau terlalu percaya diri!” cibir Seohyun menutupi sikap konyolnya tadi.
“Hah... ya sudah kalau begitu.” kali ini Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan bersandar pada pembatas besi itu menghadap ke mobilnya. “Bagaimana perasaanmu, apakah sudah baikan?”
Seohyun mengangguk pelan dan tetap pada posisinya, memeluk tubuhnya dengan kedua tangan. Rambutnya yang panjang terurai terlihat menganggu pandangannya, sesekali ia membetulkan helai demi helai rambutnya dari sisi wajahnya.
Kyuhyun tersenyum melihatnya, “Kau cantik.”
Ucapan Kyuhyun sukses membuat Seohyun terdiam kaku. Sesaat kemudian ia tersadar, “Jangan bercanda!” serunya pelan.
“Aku tidak bercanda.”
Seohyun kembali menatap Kyuhyun dalam diam, begitu pula dengan Kyuhyun yang sejak tadi menatap Seohyun dengan senyum  tipisnya.
***
Tbc

FF V - EUNHA (BTS X GFRIEND SHIPPER) - THE HANDSOME FREAK CHAPTER 6

The Handsome freak Chapter 6 Previous  1 ,  2 ,  3 ,  4 ,  5 Title : Fanfiction Chapter Genre : Romance, Comedy Ca...