Minggu, 31 Mei 2015

Cerpen : Secret Heart

Secret Heart

Genre : Romance

 Aku menyukainya dalam diam, aku mencintainya dalam diam. Tak satu katapun kata yang dapat keluar dari mulutku ketika berhadapan dengannya. Seburat garis merah sangat suka hinggap di wajahku, entah untuk keberapa kalinya aku terus dan terus menghindar dari hadapannya, hanya memandang dari jauh saja yang dapat aku lakukan.

Bukan, bukan karena aku benci dengan perasaanku saat ini. Itu lebih karena aku malu, malu akan perasaan yang tak pantas untuk dibalas. Banyak wanita menyukainya dan memuja - muja sosoknya dan aku merasa aku tak layak jika dibandingkan mereka.

Setiap hari aku memperhatikannya, saat itu juga degub jantungku berdetak dengan cepat. Lagi, aku hanya bisa mencintainya dalam diam. Rasa yang tidak akan pernah diketahuinya dan itu menghasilkan rasa sakit yang dalam. Cintaku padanya bagai sebuah candu bagiku.

Aku berjalan dan menatap langit biru, walaupun terasa panas hari ini. "Sudah hampir 3 tahun ya." aku masih mengenggam diaryku dan melanjutkan perjalanan menuju rumah.

***

Pagi menjelang dan aku melakukan aktivitas sekolahku seperti biasa. Saat ini aku terduduk ditepi jendela kelas, angin bertiup lembut menghempas wajahku lembut. Sedetik kemudian ada aliran darah mengalir deras ditubuhku, aku melihat sosoknya. Mataku berbinar dan wajahku memerah, "Fikri Pramudya anak kelas 3 C yang aku suka." 

"Bu guru datang..." salah seorang temanku berteriak dikelas. Seketika keriuhan yang terjadi menjadi sunyi senyap.

Detik berlalu, menit berlalu hingga 2 jam pelajaran telah usai. Tugas yang harus dikumpulkan siang ini dan harus dikoreksi olehku juga, karena siang ini ada rapat guru mendadak. 

Aku, Deandra Adistya siswi yang sangat mencolok dikalangan para guru disekolah, mereka menganggap aku sebagai murid nomor 1 disekolah dalam 2 tahun terakhir. Tapi itu tidak banyak membuat persoalan hatiku menjadi baik. 

Aku menghela nafas pelan, ada rasa cemburu dihatiku saat jam istirahat tadi melihatnya bergurau dengan wanita lain. Diam, diam dan diam itu yang dapat dilakukan. "Aku ingin ketoilet sebentar" aku memutuskan perbincangan dengan teman - temanku dikelas. 

"Hiks hiks hiks" lagi, kesekian kalinya tempat ini menjadi saksi bisu akan rasa sesak yang aku rasa. Air mata terus mengalir dikedua pipiku membuat wajahku menjadi sembab.
"Kau tidak apa - apa Dea?" tanya teman sebangkuku yang terlihat khawatir kepadaku.
Aku menggeleng pelan dan mencoba tersenyum, "Tidak, aku baik - baik saja."
"Kalau ada masalah, kau bisa berbagi." tawarnya.
"Iya." jawabku tersenyum. "Maaf aku tidak bisa jujur padamu." gumamku dalam hati.
Kilauan sinar matahari menerpa wajah muramku saat ini.

***

"Ibu mempercayakan tugas ini padamu, jika sudah selesai tolong taruh saja dipinggir rak sana ya." ujar Bu Guru padaku.
Aku mengangguk pelan, "Baik Bu."
"Oke, kalau begitu ibu pergi rapat dulu ya. Terima kasih sebelumnya." ucapnya sambil berlalu pergi.
Aku menghela nafas, sendirian diruang guru seperti ini. "Baiklah, aku akan selesaikan siang ini juga." ujarku menyemangati diri.

Hanya bunyi detikan jam yang menemaniku diruangan ini, sendirian. Jari dan kedua mataku hanya terfokus pada berlembar - lembar kertas ulangan. Beberapa menit kemudian, aktivitasku terganggu dengan suara kenop pintu -cklek-, aku tertegun dengan siapa yang datang.
"Oh maaf ternyata ada orang ya." ucapnya sedikit kaget, kemudian kembali dengan wajah normalnya.
Aku memalingkan wajah dan menunduk, "I..ii..ya" ucapku terbata - bata.
Dia kemudian menghampiriku, aku merasakan detak jantungku melacu dengan cepat.
"Meja Bu Lisy dimana yah?" tanyanya dengan senyum, terlihat sekilas dari sudut mata kananku.
"Disana." jawabku keringat dingin dan tanpa menatapnya.
"Oh, terima kasih." ujarnya sambil berlalu.
Aku tetap menundukkan wajahku, "Bodoh!" umpatku dalam hati.
"Aku duluan ya." katanya sambil membuka kenop pintu.
Aku menegakkan kepalaku saat dirinya sudah pergi, "Fiuhhh.. Untung saja aku tidak pingsan."

Beberapa jam berlalu, tugas mengoreksi ulangan tersebut telah selesai. "Hah, akhirnya selesai juga." ucapku sembari memijat leher kananku yang terasa pegal, menghempaskan tubuhku dipembatas kursi yang aku duduki.

***

"Sudah jam 4 sore yah?" aku menengok jam tanganku dan kembali melangkahkan kakiku untuk pulang.
Aku berhenti sebentar, menatap pohon besar yang begitu rindang terdapat banyak bangku taman disana, "Kalau kesana sebentar sepertinya enak untuk melepas lelah." segera aku berjalan menuju bangku taman tersebut.

Aku menghela nafas pelan, menutup kedua mataku dan merasakan sejuknya udara sore disekolah yang penuh dengan rahasia hatiku, aku tersenyum merasakan semuanya walau terkadang rasa itu membuat aku sedih.

"Ternyata kau masih disini ya, aku kira sudah pulang." ucapnya membuat aku kaku, aku hafal betul dengan suaranya. Suara seorang yang selama 2 tahun lebih aku cintai.
Perlahan aku membuka kedua mataku, aku menatap kearah depan tak berani untuk menoleh kearahnya. Aku mengangguk pelan, wajahku memanas saat ia memutuskan untuk duduk disampingku.
"Udaranya sejuk ya, aku suka duduk dibawah pohon rindang seperti ini." ucapnya menatap lurus kedepan.
Aku menunduk, "Iya aku juga menyukainya.." susulku, aku yakin wajahku makin memerah sekarang dan aku berusaha tenang mengambil nafas karena saat ini jantungku berdetak kencang sekali.
"Ini." sepucuk surat darinya diberikan padaku. Aku terkejut melihat surat itu, perlahan aku mengambil dari tangannya.
"Sudah lama, aku ingin memberikan itu padamu bacalah." baru kali ini ia terlihat malu dan apa? Wajahnya memerah.

Perlahan aku buka surat itu,

Hai, aku Fikri dari kelas 3 C,

Maaf jika aku menganggumu, disini aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu.
Tepatnya 2 tahun lalu, saat itu aku bertemu denganmu disebuah taman sekolah, kau duduk sendiri sambil membaca buku dan kau sering duduk ditepi jendela agar kau bisa melihat kearah luar kelas.
Saat itulah aku memperhatikanmu dan aku rasa aku menyukaimu.

Aku ingin bisa sekelas denganmu, namun apa daya kau adalah murid nomor 1 disekolah ini. Guru - guru memujamu disetiap kelas, kau terkenal tapi kau tidak populer, itulah yang aku suka darimu.

Aku berusaha belajar untuk memperbaiki nilai - nilaiku agar aku bisa sekelas denganmu, tapi ternyata itu sulit. Kau selalu dikelas A.

Awalnya aku ingin mundur untuk mendekatimu, kau kulihat selalu sibuk dengan pelajaran ataupun guru - guru kita, mungkin kau tidak tertarik dengan laki - laki. Tapi seorang teman bilang kepadaku, kalau kau tak coba bagaimana kau tau perasaannya.

Aku tak berharap banyak padamu, kau sudah mengetahui perasaanku aku juga sudah senang.

Deandra, aku menyukaimu.

Salam,
Fakri P.

Aku tak bisa bernafas, aku tertegun dengan apa isi surat ini. Dia yang aku kagumi memiliki perasaan yang sama.

"Kau menyukaiku?" tanyaku dengan mata berlinang. Ku genggam suratnya kedalam dekapanku.
"Iya, hehe maaf ya kalau surat itu me.."
"Tidak, ini tidak mengangguku."
Dia kaget, "Lalu kenapa kau menangis?" ucapnya terlihat khawatir.
Aku menoleh kearahnya dengan mata yang sedikit berair aku tersenyum, "Aku senang ternyata kau juga menyukaiku."
Lagi, dia terkejut atas ucapanku, "Apa?? Kau mempunyai perasaan yang sama padaku?"
Aku mengangguk dan tersenyum bahagia. Diapun begitu, "Terima kasih."
"Bukan, aku yang harusnya berterima kasih padamu." ucapnya tersenyum senang.

- kriuk kriuk - kami terkejut akan suara itu, satu sama lain saling menatap.
"Kau lapar?" tanyanya.
Aku menunduk malu, sedetik kemudian aku tersenyum dan mengangguk.
"Haah.." dia menahan tawanya.
"Haha... Haha.. Haha.." aku merasa lucu akan tingkahku, suara perut laparku menganggu suasana.
"Maaf yah.." ujarku.
Akhirnya kami tertawa bersama.

Dan sejak saat itu, rahasia hatiku terungkap oleh seseorang yang aku sukai bahkan aku cintai. Aku bahagia.

End.

Selasa, 26 Mei 2015

CERBUNG : IDOL SCHOOL Chapter 3

IDOL SCHOOL

Chapter 3

Genre : School life, Romance, Comedy

Happy Reading ^^

**************__________________**************

Pagi yang cerah menemani perjalanan Rissa menuju sekolah, didukung dengan kondisi bus yang dinaiki Rissa sangat lengang. Memang tidak biasanya seperti ini, kondisi dimana dewi fortuna sedang hinggap didekatnya. Rissa terlihat bersenandung kecil sambil berjalan di pinggir trotoar setelah turun dari bus, senyum manisnya tidak hilang semenjak ia bangun dari tidur, membayangkan kejadian beberapa hari lalu yang dialaminya.
Tepat didepan pintu kelas laki – laki pujaannya, Rissa berhenti sesaat. Jantungnya berdegup kencang dan berkali – kali dia mencoba menarik nafas lalu dikeluarkan kembali sampai – sampai ia tidak menyadari tingkah konyolnya itu dilihat oleh para siswa dan siswi yang berlalu lalang disekitarnya.
Rissa mulai mengambil aba – aba untuk segera berlari menghindari kelas itu, “Siap....” ucapnya sambil ancang – ancang, “Ya!” Rissa tidak berlari melainkan berjalan dengan posisi miring dan membelakangi kelas itu setelahnya ia menghelas nafasnya, “Fiuuhhh....”.

“Selamat pagi Rissa.” Sapa Sam dengan senyumnya ketika tiba didepan pintu kelas mereka.
“Pagi Sam.” jawab Rissa.
“Bagaimana PR matematikamu, apa sudah selesai?” tanyanya ketika sudah duduk ditempatnya.
Rissa terlihat sibuk mengeluarkan buku dari tasnya, “Hmmm.. seperti biasa.”
“Belum?”
Rissa menjawab dengan anggukan.
“Selamat pagi Rissa, Sam.” sapa Inka yang baru saja datang.
“Sedang mencari apa Ris?” tanya Inka yang melihat Rissa sibuk mengeluarkan isi tasnya itu.
“Handphoneku tertinggal sepertinya.” jawab Rissa muram. “Dewi fortuna sudah pergi dariku.” ucap Rissa dalam hati.
“Ohhh..” jawab bersamaan mereka.
Rissa hanya memanyunkan bibirnya.

***

Bel sekolah berbunyi tiga kali, pertanda sekolah hari ini telah usai.
“Rissa, maaf hari ini aku tidak bisa membantumu untuk menyelesaikan PR matematikamu. Karena aku diminta menemani Ibuku berbelanja.” ucap Sam.
“Aku juga Rissa, aku harus menjaga adikku dirumah karena kedua orang tuaku pergi keluar kota.” susul Inka.
“Hmm. Baiklah, aku tidak apa kok.”
“Kalau tidak salah ada buku rumus – rumus matematika di perpustakaan. Jika kamu perlu buku itu, pergilah ke perpustakaan ya.” usul Sam.
Rissa berpikir sebentar, dikarenakan PR matematikanya harus terkumpul besok mau tidak mau Rissa harus belajar sendiri di perpus. Pantang bagi dia untuk mencotek hasil belajar teman – temannya itu. “Oke, aku coba belajar dengan buku itu.”
“Baiklah, kami pulang duluan yah. Dah Rissa.” ucap mereka bersamaan.
Rissa membereskan meja dan bukunya, kemudian bergegas keluar kelas menuju perpustakaan.

Sesampainya didepan pintu perpus,
“Permisi” ucap Rissa pelan sambil membuka pintu perpus.
“Masuk” jawab ibu penjaga perpus. “Eh, kamu Rissa sudah lama tidak mampir keperpus.”
“Hehehe, iya Bu. Maklum sibuk dirumah.” jawab Rissa tersenyum geje (?). “Hmmm... Bu ada buku rumus matematika?”
“Oh ada, diujung rak sana. Dari sini belok kekanan, 2 blok dari pinggir rak terakhir.”
“Oh.. terima kasih.” jawab Rissa, kemudian mengikuti arahan ibu penjaga perpus tadi.
Rissa berjalan perlahan sambil melihat – lihat judul buku yang tersusun rapi dan sejajar dirak perpus itu, jemarinya menyelusuri buku – buku yang sama sekali tak berdebu. “Aha, ini dia.” Hap. Dia ambil buku tersebut dan sekilas melihat judul dari buku tersebut 'BELAJAR MATEMATIKA TINGKAT SMA DENGAN RUMUS TERMUDAH'.
Rissa sedikit celingukkan mencari tempat yang pas untuk dia belajar, sedetik kemudian matanya tertuju pada satu tempat dipojok kanan sana yang masih kosong dan ia segera menghampirinya.
“Yey, aku tepat duduk disini. Hihihi.” Rissa terkekeh sendiri. Rissa mulai membuka halaman di buku itu...
Sedetik, dua detik, tiga detik, satu menit, dua menit, satu jam telah berlalu tapi buku yang tengah dibacanya tidak ada satupun yang hinggap diotaknya...
“Haiissshhh...” Rissa menidurkan kepalanya dimeja tertelungkup dengan bukunya, “Aku tidak suka dengan matematika!” serunya sambil meringis. “Sepertinya dewi fortuna tengah menjauhiku sejak tadi.. huaaaaa....” Rissa bertingkah lucu dibangkunya.
“Ssttttsssttt” ucap siswa yang berada dibelakanganya.
“Ah,” Rissa menoleh kebelakang dan meminta maaf dengan kedua telapak tangannya sambil berhadapan (?) seperti orang meminta maaf pokoknya. ^^v.
Rissa melanjutkan belajarnya, sedikit kecewa dengan sikap temannya yang meninggalkan Rissa di sekolah sendirian, tanpa handphone pula. Rissa terlihat sangat frustasi, sesekali ia menggaruk – garuk rambutnya hingga berantakan tak karuan. Lagi, Rissa menidurkan kepalanya diatas mejanya, “Aku sudah tidak kuat....”. -cling- muncul lambang lampu bercahaya diatas kepalanya, “Aku mau tanya Ibu perpus..” Rissa bangkit dari duduknya dan menghampiri Ibu perpus didepan.
“Bu, Bu..” panggilnya pelan.
Ibu penjaga perpus menoleh kearah Rissa, “Ada apa?”
“Hehehe... disini masih ada buku komik?” tanya Rissa tersenyum geje (?).
“Hah? Hmmm.. seperti biasanya ya.. kalau sudah penat pasti baca komik.” jawab Ibu penjaga perpus yang sudah hafal dengan tingkah Rissa. Rissa hanya tersenyum. “Ada dirak sebelah kanan dari bangkumu.”
“Oh, oke Bu. Terima kasih.” ucapnya pelan dan bergegas mengampiri rak yang ditunjukkannya tadi oleh Ibu penjaga perpus.
Jari jemari Rissa menyelusuri barisan komik yang dibilang umur komik ini cukup lama, karena beberapa adalah sumbangan dari murid – murid. “Love stage.” ucapnya membaca judul komik yang dia ambil, kemudian ia kembali ke bangku semula.
Selang beberapa menit ia telah menghabiskan dua komik sekaligus, cepat yah kalau baca komik ^^. “Hei, ke perpustakaan selama berjam – jam hanya membaca komik?” tanya seorang siswa laki – laki duduk disamping Rissa. Rissa sedikit tersentak, “Eh, hehehe hanya menghilangkan penat.” jawab Rissa dengan senyum tak jelasnya itu (antara malu dan senang).
Rissa merubah posisinya menghadap siswa itu, “Ma....” ucapnya terhenti, “Haaahhhhh....” Rissa tercengang dengan senyuman dari siswa laki – laki itu, “Re...renal...” ucapnya terbata sembari menelan saliva yang tercekat ditenggorokannya.
Laki – laki itu tersenyum sembari menopang pipi kanan ditangannya dan tangan kirinya masih memegang sebuah buku. “Apa kabar, Rissa?” tanyanya.
Wajah Rissa memerah, dan dia menjadi salah tingkah, “Eh... anu.. e... aku... baik kok.. hehhee.” ucapnya sambil tertawa tak jelas. 'Ahhh.. bagaimana ini, memalukan tingkah konyolku ketahuan oleh Renal, Bodoh!' umpat  Rissa dalam hati. Diluarnya Rissa masih tersenyum dengan tangan gemetar.
Renal merubah posisinya menjadi duduk sempurna menghadap tembok mejanya, “Sukurlah kalau begitu.”
Wajah Rissa masih merah padam dan sedikit menunduk, “Iya.”
“Kamu ada kesulitan?”
Rissa sedikit bergembira, karena masih ada orang yang peduli dengan masalahnya saat ini tanpa ragu ia langsung mengambil buku rumus matematikanya tadi dan menghampiri Renal disamping, “Ini, aku kesulitan dengan rumus – rumus dibuku ini.” ucapnya memohon.
Renal sedikit tersentak dengan tingkah Rissa yang tiba – tiba, namun kemudian ia bisa kembali normal seperti biasa, “Kamu ini, sungguh aneh.”
“Eh, aneh?” tanya bingungnya.
“Tadi wajahmu memerah dan sekarang tingkahmu berubah seolah – olah tidak ada yang terjadi sebelumnya.” kata Renal sembari membuka lembar – lembaran buku itu.
“Hehehe, begitulah...” Rissa mulai menggaruk – garuk tengkuk belakang kepalanya. “Bagaimana apa kamu bisa mengajarkannya padaku. Kamu kan jago matematika.” ucapnya semangat.
“Kenapa?”
“Hmmm.. maksudnya?”
“Kenapa aku harus mengajarkan rumus ini padamu.”
“Eh..” Rissa kaget, “Kenapa ya?” batinnya bertanya. Rissa sedikit menunduk.
“Kamu suka komik kan?”
“Hmm..” Rissa menenggakan kepalanya kembali.
“Ada syaratnya.”
“Syarat?”
“Kamu ingin aku ajarkan rumus matematika ini kan?” tanya Renal yang mulai merubah posisi menghadap Rissa. Rissa sedikit terkejut, pasalnya tatapan mata laki – laki itu tepat ke matanya, pipinya mulai merona kembali.
“Hei, kamu ini suka sekali membuat pipimu merah seperti itu ya.” kata Renal lugu sambil menunjukkan telunjuk ke arah kedua pipi Rissa, sontak Rissa salah tingkah kembali.
“Ah... tidak tidak, aku tidak apa – apa. Ini bukan disengaja.. hehehe... bagaimana ya menjelaskannya.” Rissa mulai berbicara ngawur (?).
“Sstttssstt” sela dari siswa siswi yang berada diperpus tersebut, menandakan bahwa tidak boleh berisik.
Rissa dan Renal menjadi diam dan kembali meminta maaf karena telah mengganggu belajar mereka.
“Jadi?” tanya Renal kembali.
“Iya aku suka baca komik.”
“Kalau begitu, aku akan mengajarkan rumus ini padamu sebagai imbalannya kamu ikut aku hari minggu ke pameran komik dipusat kota.”
“Hah?? aku?” kali ini Rissa berteriak, sontak semua siswa yang berada diperpus menoleh kearahnya dan menatap Rissa tajam. Rissa tersadar akan tingkahnya itu dan kembali menundukkan kepalanya memohon maaf. Renal hanya tertawa kecil.
“Suaraku keras yah.. hehhe..”
“Hmm.” Angguk Renal, “Bagaimana keputusanmu?”
Wajah Rissa masih memerah bahkan tambah merah, “Bagaimana ya?” sambil menunduk dan memainkan jemarinya itu.
“Kalau tidak mau ya sudah, aku tidak memaksa.”
“Ahh... bukan bukan itu.” Rissa sontak menolak ucapan Renal barusan.
Renal menoleh kearahnya dan menunggu jawaban Rissa.
“Hmmm.. apa aku tidak menyusahkanmu?”
“Tidak.”
“Hmmm...” dengan mata berbinar, “Baiklah, ajarkan aku ya.. aku yakin pasti aku bisa setelah diajarkan olehmu.” tingkahnya berubah 180 % dari beberapa detik lalu. “Ayo!”
Renal tertawa pelan, “Mulai dari mana kita?”
“Di rumus ini.” ucap Rissa bersemangat menunjukkan dihalaman mana yang ia tidak mengerti. Dan hari ini merupakan sebagian hari – hari Rissa yang bahagia, dewi fortuna mendatangkan kesempatan untuknya hari ini, bisa bertemu dan berbicara dengan Renal, bahkan minggu ini ia bisa berjalan bersama ke pameran komik dipusat kota bersama laki – laki pujaannya.

***

Tbc

Jumat, 03 April 2015

CERBUNG : Idol School Chapter 2

IDOL SCHOOL
Chapter 2


Genre : School life, Romance, comedy

Happy Reading ^^

**************-----------------***********

Kantin sekolah,
Rissa duduk sendiri dengan makanannya, tampak berpikir sesuatu yang mengganjal dipikirannya dengan gaya makan yang lucu, pipinya digembungkan dan bibirnya mengerucut serta kedua matanya melihat ke langit - langit kantin itu.

Diwaktu yang bersamaan, Renal tengah masuk ke kantin untuk membeli makanan, dilihatnya kanan kiri kursi kantin itu sudah penuh hanya ada satu yang bisa ia duduki, Renal menghampiri kursi itu dan bingo! Ia duduk tepat berhadapan dengan Rissa.

Perlahan ia memperhatikan tingkah lucu Rissa, sembari ia memakan makanannya itu. Rissa tak menyadari keberadaannya, malah semakin tak karuan tingkahnya yang berbicara sendiri sambil mengunyah makanan, bahkan makanan dipiring sudah habis ia tidak menyadarinya.

Renal menahan tawa, gadis dihadapannya aneh, "Hei.." Panggilnya setelah ia selesai makan.
Rissa sepertinya tidak mendengarnya, ia masih sibuk dengan gumamannya, "Ah aku bingung harus bagaimana?" Gumam pelan Rissa.

Renal mulai tertawa pelan, "Hei, gadis aneh" ia mulai memanggilnya lagi, kali ini ditambah dengan ketukan meja.
Rissa menjawab, "Iya aku akan melakukannya." ucapnya dengan semangat, sontak Rissa berdiri dari kursi dan hal itu membuat para penghuni kantin memperhatikan meja mereka, "Haha... Haha.. Haha.." Renal tertawa terbahak - bahak menekan perut dan menutup mulutnya dengan kepalan tangan kanannya.

Rissa tersadar, "Heh, loh kok?" tanyanya sendiri sembari membungkuk 20 derajat melihat Renal tertawa, tak lama reaksi Rissa berubah, "Apa? Kenapa ada kamu disini?!" ungkapnya mengatup mulutnya dengan telapak tangannya.
Mereka belum sadar, kalau saat ini mereka menjadi pusat perhatian dari penghuni kantin.
"Yak, sudah jangan tertawa terus." ucap Rissa mengerak-gerakkan kedua tangannya dihadapan Renal yang saat itu belum berhenti tertawa. Rissa yang mulai merasa malu dengan tatapan menganggu dari orang - orang yang melihatnya. Menghampiri Renal diseberang mejanya, menarik tangan Renal untuk keluar dari kantin tersebut.

Rissa menarik Renal hingga ketempat yang aman baginya, nafasnya sedikit tersengal - sengal. "Sssstttt" ucapnya dengan bibir mengerucut ditutup dengan telunjuk lentiknya.
Renal berhenti tertawa, namun masih menahan senyum. "Ya, aku sudah berhenti tertawa."
"Huft.." Eluh Rissa akhirnya, sedetik kemudian ia berbalik badan berniat untuk pergi dari hadapan pujaan hatinya itu.
"Mau kemana?" Langkah Rissa terhenti, ketika Renal bicara.
"Anu, e...." Jawab Rissa terbata - bata tanpa berbalik.
"Hmmmm.. Teruslah membayangkan hal - hal yang dapat membuatmu seperti tadi, itu sangat menghiburku." Ucap Renal sambil berlalu pergi mendahului Rissa yang masih terdiam kaku.
"Aku,, aku,, tadi menghiburnya?" Rissa menunjuk dirinya sendiri aneh.  Masih terdiam bingung, hingga dimenit berikutnya pipinya memerah dan ukiran senyum menghias dibibirnya, "Horeeeee,, hari ini aku menghiburnya. Dia laki - laki yang sangat jarang tertawa lepas seperti tadi dan aku wanita yang bisa menghiburnya hingga dia tertawa lepas seperti itu. Horeee... Xixixixixixiiii" ucapnya berlompat kegirangan, kemudian ia berjalan menuju kelasnya sambil tersenyum geje (?).

"Rissaaaaaa!"
Rissa menoleh kebelakang merasa terpanggil, terlihat Ibu kantin menghampirinya tergesa - gesa.
"Kamu belum bayar siomainya!" seru Ibu kantin bertulak pinggang.
"Eh, masa Bu?"
"Iya, sudah bikin perhatian dikantin dengan membuat siswa ganteng itu tertawa keras, kamu menariknya dan berlari. Apa kamu mau ngutang ditempat saya?" ejek Ibu kantin itu.
"Apa? Yang benar saja!" Raut wajah cerianya berubah menjadi masam, pasalnya Ibu Kantin itu berteriak dihadapannya hingga anak kelas lainya, bergumam kesal.
"Ini."
"Ah, oya.. Kamu dan dia tidak cocok. Bagai langit dengan bumi" lagi - lagi Ibu kantin mengejeknya dan berlalu pergi meninggalkan Rissa yang wajahnya terlihat merah padam.
"Apa maksud Ibu itu..eerrggghh"

Dari kejauhan seseorang melihat percakapan mereka berdua, segaris senyum tipis terukir dibibirnya dan melanjutkan langkah kakinya.

***
Tbc

Senin, 30 Maret 2015

FF Seokyu - Between Love Chapter 2



BETWEEN LOVE
Chapter II

Tittle : Seokyu
Genre : Romance
Cast : Seo joo hyun, Cho Kyuhyun, Im Yoona, Lee Donghae, etc

Mian for typo..
Dont plagiat!!
Happy reading ^^

***

Disebuah Coffe Shop,
“Nona aku pesan ice coffe mocacino less sugar 1 saja.” ucap seorang salah satu pembeli coffe shop tersebut.
“Ne, tunggu sebentar.” Seohyun sibuk mengetik pesanan wanita itu pada komputer yang ada dihadapannya, “Totalnya 1000 won” ucap Seohyun tersenyum.
Pembeli tersebut mengambil uang disaku celananya dan segera memberikannya pada Seohyun, setelah memberikan kembalian uang pengunjung tersebut Seohyun kemudian memberikan pesanannya dan tersenyum, “Kamsahamida. Kami tunggu kunjungannya kembali.”
“Hah, panas sekali hari ini. Dari kampus aku belum sempat minum. Tiba disini sudah banyak pembeli.” eluh Seohyun sembari menghela nafasnya pelan.
“Nona, aku pesan Black Coffe 1” ucap seorang namja.
Seohyun sedikit terkejut, “Ah Ne, tunggu tuan.. Black Coffe ya..” Seohyun sibuk mencari data menu Black Coffe tersebut tanpa melihat wajah si pembeli, tapi tidak ada dilayar komputer. Seohyun langsung berbalik badan mencari seniornya, “Eouni, bisa bantu aku sebentar, ada pembeli memesan black coffe, tapi aku tidak menemukan kode menunya dikomputer?” tanyanya ketika ia bertemu seniornya.
“Ah, kajja.” ucap Seniornya itu dan menunjukkan kode menu dari pesanan black coffe tersebut pada komputer miliknya. “Hmmm sepertinya datanya ada yang menghapus atau tidak sengaja terhapus.” ucapnya.
“Ottokhe?” tanya Seohyun sedikit panik.
“Kau tulis saja pesanan orang tersebut lalu kau buatkan saja pesanannya.”
“Aku tidak tau harganya.”
“Resiko.”
“Maksudnya?”
“Kau yang akan membayarnya nanti.”
“Mwo? Bagaimana bisa? Aku baru bekerja beberapa hari disini. Sudah harus mengganti rugi?”
“Sudah resiko Seohyun-ah.”
Seohyun mendengus kesal dan kembali ke meja kasirnya untuk menemui pembeli tersebut. Namun sebelumnya ia telah membuat black coffe untuk namja yang sudah menunggu sejak tadi.
“Mian tuan sudah lama menunggu, hari ini pesananmu gratis.” ucap Seohyun yang kemudian melihat wajah pembeli tersebut, “Mwo?” Seohyun terperangah.
“Akhhh..” tidak sengaja black coffe panas tersebut terlepas dari kedua tangan Seohyun sebelum diraih oleh namja itu dan terkena kemejanya.
Seohyun kaget dan keluar dari sisi meja kasirnya, “Haaahhh... mianhae tuan.. kau tidak apa – apa?” tanya Seohyun sembari membersihkan baju namja itu dengan celemeknya. Namja itu sedikit kesal dengan tingkah Seohyun, “Sudah nona, aku tidak apa – apa.”
“Tidak bisa begitu tuan, maafkan saya.” Seohyun membungkuk 90 derajat menghadap namja itu.
“Sudahlah. Beberapa hari kemarin kau menabrakku. Sekarang kau membuat bajuku kotor.” ucap namja itu dingin.
Seohyun membelakak dan merasa malu dengan ekspresi wajahnya yang lucu antara malu dan bingung ia mengangkat tubuhnya, “Mianhae.”
Namja itu mendengus kesal, “Kau!” serunya. Kemudian dia terdiam sebentar, sedetik kemudian dia membuka kancing kemejanya didepan Seohyun. Seohyun yang melihatnya menjadi sedikit salah tingkah, “Yak! Jangan buka baju disini.” Seohyun menutup mata dengan kedua tangannya.
Namja itu hanya tersenyum mengejek, “Jangan berpikir macam – macam. Ini!” serunya.
Seohyun membuka matanya dan melihat namja itu memberikan bajunya, “Hmm?”
“Ambil, kau harus mencucinya hingga bersih dan kembali seperti semula.” ucap namja itu, ternyata dia pakai baju dalam.
Seohyun mengambil baju tersebut dengan lesu, “Ne, aku akan mencucinya.”
“Hmm..” namja tersebut segera pergi dari coffe shop meninggalkan Seohyun yang masih berdiri disana.
Seohyun menatap punggung namja itu, “Haisshhh.. sial sekali aku hari ini.” eluh Seohyun dan kembali ke meja kasirnya. “Pabo Seohyun-ya! Bagaimana aku bisa menghubungi namja itu jika baju ini sudah selesai dicuci. Kenapa aku tidak meminta nomor ponselnya tadi. Pabo!” seru Seohyun membodohi dirinya sendiri.
Dari luar, namja itu terhenti karena teriakan Seohyun didalam dan sedikit menoleh. Terlihat senyum tipis dari bibir namja itu dan berlalu pergi.

***
“Im Yonna!” teriak seorang namja dihadapan Yoona.
Bahu Yoona naik turun menahan emosinya, wajahnya merah padam dan mulutnya sedikit terbuka.
“Dengarkan aku dulu.” namja itu perlahan mengecilkan suaranya menghampiri Yoona dan memegang kedua bahu Yoona. Perlahan Yoona mulai melemah, wajahnya menunduk. Tak terasa ada air yang mengalir dari sudut kedua matanya yang indah.
Sang namja perlahan mengambil bahu belakang Yoona mengajak kedalam pelukannya, “Uljima.” ucap lembut namja yang tak lain adalah namjachingu Yoona, Lee Donghae. Donghae kembali mengelus lembut rambut Yoona yang masih dalam pelukannya.
Yoona menangis didalam pelukan Donghae, “Oppa, apa yang kau lakukan itu membuat hatiku terluka. Hiks hiks.” ucap Yoona terbata – bata.
“Dengarkan aku dulu Yoona-ah...” ucap Donghae kemudian merenggangkan pelukannya, menatap kedua mata kekasihnya itu sendu, “Yoona-ah, aku dengan Sica tidak ada hubungan apa – apa. Kami hanya sekedar teman bisnis. Wanita yang ada dimata, hati dan jiwaku adalah kau seorang.”
“Tapi...”
“Sudahlah, apa yang kau lihat itu semuanya hanya salah paham. Dia hampir terjatuh ditangga dan aku hanya menolongnya. Bersamaan kau datang dan semuanya jadi salah paham.” terang Donghae membelai pipi kanan Yoona lembut.
Yoona mengerucutkan bibirnya, “Mianhae.”
“Gwaenchana.” ucap Donghae tersenyum. “Ngomong – ngomong, kau kesini ada perlu apa?”
“Hmm.. aku membawakan bekal makan siangmu.” Yoona kembali tersenyum dan memberikan sekotak bekal.
Donghae menerimanya dan tersenyum, “Gomawo. Kau memang kekasihku yang terbaik.” ucap Donghae dan lagi membelai pelan pipi kanan Yoona. Yoona tersenyum lebar.
“Oppa, aku ingin bicara denganmu masalah Seohyun.” ucap Yoona teringat tujuan utamanya kesini.
“Ada apa dengan Seohyun?” ucap Donghae mengajak duduk Yoona diruang kerjanya. Kebetulan saat ini sedang waktunya makan siang.
“Kau bukalah dulu Oppa, bekal yang ku bawa.”
Donghae mengalihkan tatapannya pada bekal yang dibawa Yoona, “Wah keliatannya enak. Kajja aku makan.” Donghae mengambil sebagian makanan itu dan memasukkannya kedalam mulutnya. “Ohhh... daebak. Makananmu enak chagi.” puji Donghae.
“Benarkah?” tanya Yoona senang. Donghae hanya mengangguk – angguk.
“Kau tidak ikut makan?” tanya Donghae dengan mulut yang penuh dengan makanan.
“Tidak Oppa, aku sudah makan siang tadi. Kebetulan hari ini aku mengambil cuti dikantor. Belakangan aku merasa lelah karena seminggu kemarin aku harus lembur.” ucap Yoona.
“Kau jangan terlalu chagi, bisa – bisa kau sakit nanti.”
“Iya Oppa.”
“Lalu ada apa dengan Seohyun?”
“Itu Oppa, belakangan ini juga Seohyun sering pulang larut malam. Biasanya setelah pulang kuliah dia selalu pulang kerumah. Aku tanya alasannya, dia bilang mengerjakan tugas bersama temannya atau ada kelas tambahan. Aku jadi khawatir. Aku harus bagaimana Oppa?
“Kau sudah tanyakan baik – baik kepadanya?”
“Sudah Oppa, tapi jawabannya tetap sama. Aku khawatir kalau – kalau memang dirinya bekerja part time.”
“Bekerja part time?”
“Ne Oppa, Seohyun pernah mengatakan kepadaku mengenai hal itu.”
“Hmm.. kau mau aku mencari tau kegiatannya?”
“Ahni Oppa, bukan itu.” tepis Yoona dengan ucapan Donghae.
“Lalu?”
“Hmm.. kau kan tau Oppa, betapa kerasnya sifatku pada Seohyun. Aku tidak bisa mengendalikan emosiku jika dia membantah perintahku. Tapi aku sangat menyayanginya Oppa. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya.” ucap Yoona sendu.
Donghae tengah menyelesaikan makannya, “Biar temanku yang menyelediki kegiatan Seohyun. Aku minta foto Seohyun apakah ada?”
“Hmm.. ada Oppa. Chankaman.” Yoona merogoh tasnya, mengambil dompet dan ada sebuah foto dirinya dengan Seohyun. “Ini Oppa”
“Hmm.. oke. Aku akan minta tolong temanku untuk terus mengikuti kemana  Seohyun pergi.”
“Gomawo Oppa.” ucap Yoona bergelayut manja dilengan Donghae.
“Ne.” ucap Donghae mengacak pelan rambut Yoona.

***
Malam hari,
“Apa yang bisa kulakukan Hyung?” tanya namja dingin itu sembari duduk diberanda rumah Donghae.
“Aku ingin meminta tolong padamu Kyu.” Donghae memberikan sebuah foto pada Kyuhyun. Cho Kyuhyun, namja dingin dan cuek yang ditemui Seohyun beberapa hari lalu. “Ini”
“Hmm. Siapa dia?”
“Ini adik dari yeojachinguku. Dia meminta tolong padaku agar dapat menyelidiki kegiatan adiknya itu.”
“Memangnya ada apa dengan adiknya.” Kyuhyun seperti familiar dengan wajah gadis yang ada difoto itu.
“Tidak ada masalah apa – apa Kyu, hanya saja yeojaku terlalu khawatir dengan kondisi tubuh adiknya itu. Namanya Seohyun, dia kuliah di Kyunghae University. Seohyun pernah mengalami kecelakan hebat yang mengakibatkan dirinya koma. Setelah siuman dari koma, dokter menyarankan Seohyun untuk tinggal dirumah selama beberapa waktu hingga kondisinya stabil.”
“Hmm.. sepertinya aku pernah melihat gadis ini.”
“Mwo?”
“Dia bekerja diCoffe shop dekat kampusku Hyung.”
“Apa? Dia bekerja?”
“Ne.”
“Hmm, kalau begitu aku mohon padamu Kyu. Aku mohon kau harus mengikutinya hingga ia tiba dirumah.”
“Hmm.” Kyuhyun tampak berpikir, jika bukan atas jasa Donghae dia sekarang tidak akan bisa berkuliah dan terlantar. Kyuhyun adalah seorang namja yang cerdas selain tampan, ia juga sering memenangkan kompetisi matematika antar kampus di Seoul. “Baik, Hyung aku akan melakukannya untukmu.”
Donghae tersenyum, “Gomawo Kyu.”
“Ne.” ucap datar Kyuhyun dan kembali menatap wajah gadis yang bernama Seohyun itu pada sebuah foto yang berada digenggamnya.

***

Jumat, 27 Maret 2015

FF Seokyu - Between Love Chapter 1



BETWEEN LOVE
Chapter I

Tittle : Seokyu
Genre : Romance
Cast : Seo joo hyun, Cho Kyuhyun, Im Yoona, Lee Donghae, etc

Mian for typo..
Dont plagiat!!
Happy reading ^^

***

“Cukup! Sudah aku tidak mau minum obat itu lagi.” seru Seohyun sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Kajja, minumlah Seohyun-ah.” Bujuk Yoona masih setia memegang sebuah sendok berisikan sirup obat untuk adik tersayangnya itu.
Seohyun tetap menggelengkan kepalanya pelan, “Aku tidak mau Eouni. Itu rasanya tidak enak.”
“Tapi ini akan membuat kau sembuh.”
“Andwae Eouni!”
“Huft.. yasudah kalau kau tidak mau minum.” ucap Yoona menyerah dan kembali membereskan sendok dan obatnya. “Tapi kalau kau kesakitan lagi, eouni tidak mau peduli.”
“Mwo? Maksud Eouni?”
“Kau tidak mau meminum obatnya, jadi sebentar lagi kau akan merasakan sakit.” ucap Yoona berlalu meninggalkan dongsaengnya itu dikamar.
Seohyun mendengus kesal, ia sangat tidak menyukai obat – obatan. Sejak beberapa minggu lalu ia sudah kecanduan semua obat bertujuan untuk menyembuhkan penyakitnya itu, tapi sudah berminggu - minggu ia tak kunjung  sembuh. Sekilas ia menoleh keatas meja tidurnya, melihat kalender disana, ada sebuah tanggal yang dilingkarinya. Ya itu adalah jadwal medical check upnya sesudah ia sadar dari koma atas kecelakaannya bulan lalu.
“Dua hari lagi aku harus check up.” ucapnya sambil mengambil kalender dimejanya. Seohyun lagi – lagi mendengus pelan.
“Ah aku ini sudah membuat eouniku susah. Bagaimana bisa aku sebesar ini masih menyusahkan eouniku. Seharusnya aku sudah bekerja dan tidak bergantung pada eouni.” Seohyun menghela nafas dan menundukkan kepalanya.
Sedetik kemudian ia mendongak dan seulas senyum tipis terukir dibibirnya, “Mulai hari ini aku akan mencari pekerjaan!” serunya semangat.

***
Dilain tempat,
Yoona sibuk mencuci piring yang dipakainya bersama Seohyun pada makan malam tadi, dia tak habis pikir kenapa donsaengnya itu susah sekali untuk minum obat.
“Nappeun Yeoja!” serunya pelan masih membilas piring berbusa yang baru dicucinya.
“Dia pikir siapa yang mau mengurusnya dari kecil sampai sekarang? Kalau bukan aku, Kakaknya! Selalu saja membuat aku khawatir.” Yoona mendengus kesal dan menggembungkan pipinya.
“Andwae Eouni.” teriak Seohyun dari balik pintu dapur rumahnya.
Yoona menoleh kaget, “Kau!”
Seohyun tersenyum menghampiri kakaknya dan memeluknya dari depan seperti anak kecil, “Aku tidak akan membuat Eouni susah lagi, aku janji.”
“Yak, Seohyun-ah apa yang kau lakukan lepaskan pelukanmu. Nanti bajumu kotor.”
Seohyun kemudian melepaskan pelukkannya dan tersenyum geje. “Mian”
“Pabo!” seru Yoona sambil membersihkan kedua tangannya dan kemudian berbalik menghadap Seohyun. “Maksudmu apa?”
“Hmmm, aku akan mencari pekerjaan Eouni. Agar tidak menyusahkan Eouni lagi.”
“Mwo?? cari pekerjaan? Pekerjaan jenis apa yang kau cari?”
“Apa saja.” jawabnya.
“Kau kan masih sakit Seohyun-ah, tubuhmu belum begitu pulih.” khawatir Yoona.
“Tidak Eouni, aku sudah sehat. Lihatlah.” ucap Seohyun bersemangat.
Yoona mengernyit dahinya dan menyipitkan kedua matanya melihat Seohyun, dengan mengumpulkan kepercayaan dan menghilangkan kekhawatirannya, ia menghela nafasnya. “Paboya! Tidak boleh!” seru Yoona yang langsung meninggalkan Seohyun didapur.
Seohyun terkejut atas ucapan kakaknya, bibirnya mengerucut dan melipat kedua tangan didadanya pertanda sebal. “Bagaimanapun juga aku harus cari kerja, walaupun tidak diijinkan oleh Eouni! Hwating!” semangat Seohyun seraya ia berlari kecil menuju kamar tidurnya.

***

“Hmm, nona kau diterima di tempat ini. Mulai besok kau sudah bisa bekerja, jam kerjamu dari jam 2 siang hingga jam 10 malam.” ucap seorang Manager coffee shop tersebut pada Seohyun.
“Nde, Kamsahamida.” ucap Seohyun tersenyum.
“Kuharap kau bisa bekerja dengan baik.” ucap Manager coffee shop tersebut sambil menjabat tangan Seohyun.
“Ne, aku akan berusaha sebaik mungkin. Terima kasih atas kepercayaannya.” ucap Seohyun dan kemudian menunduk pamit.
Seohyun keluar dari ruangan itu dengan wajah berbinar – binar sampai keluar restoran tersebut hingga ia tak sadar bahwa ada orang yang ingin berjalan masuk kedalam coffee shop.
  • Bukk -
“Appo.” eluh Seohyun terjatuh menyanggah badannya dengan tangan kanannya.
“Gwaenchana?” tanya orang yang ditabrak Seohyun.
Seohyun mengangkat wajahnya yang meringis menghadap orang itu, “Sssttt..” lirihnya sakit. Matanya tiba – tiba membulat, “Aigo, tampan sekali.” ucapnya dalam hati.
Dengan dinginnya orang itu menatap Seohyun, “Hmm, sepertinya kau baik – baik saja. Kajja bangunlah.” tangannya terulur dihadapan Seohyun.
Seohyun diam dan hanya menatap sebuah tangan kekar orang itu, ragu – ragu ia meraih tangan orang itu hingga, “Aaaahh..” Seohyun terkejut saat orang itu dengan cepat mengangkat tubuh Seohyun untuk berdiri.
“Mianhae, telah menabrakmu tadi, aku ta..” Seohyun berhenti bicara, “Eh, kemana orang itu?” ucapnya sembari menengok kesegala arah. “Mwo? Dia ada didalam!” seru Seohyun ketika melihat orang tadi sudah berada didalam coffe shop dengan begitu cepat dan menghiraukan Seohyun.

Seohyun berjalan sendirian menyelusuri kota Seoul, tatapannya sayu menatap kedepan.
“Seohyun-ah” seseorang memanggil Seohyun dari arah belakang, Seohyun merasa dirinya terpanggil akhirnya dia menoleh.
“Hosh hosh hosh..” yeoja itu terengah – engah ketika sudah berada dihadapan Seohyun. “Kau.. hosh hosh.. dicari... Yoona Eouni!” serunya ketika dia mencoba mengatur nafasnya.
“Hmmm.. dia tidak menelponku hari ini.” ucap Seohyun dengan wajah polosnya.
“Aigo, kau ini.” ucap yeoja itu yang tak lain adalah sahabat Seohyun sejak bangku SMP, Choi Sulli.
“Hmm, kajja kau aku traktir minum dikedai kopi sana.” ucap Seohyun riang dan segera menarik lengan Sulli.
“Yak, kau ini!” seru Sulli yang ditarik oleh Seohyun.
***

At Cafe,
Secangkir Cappucino hangat dan segelas Orange jus dihidangkan oleh waiters dimeja dimana Seohyun dan Sulli duduk.
“Silahkan dinikmati minumnya.” ucap waiters itu tersenyum.
“Ne, kamsahamida.” balas Seohyun. Waiters itu membungku sebentar dan bergegas pergi dari meja Seohyun.
“Seohyun-ah, kau ini ada apa?” tanya Sulli tiba – tiba sambil mengambil jus orangenya.
“Ahni.” jawabnya singkat, “Bagaimana hubunganmu dengan Minho?” tanya Seohyun mengalihkan pembicaraan.
“Yak, kau ini selalu saja mengalihkan pembicaraan.” ucap Sulli sedikit kesal.
“Hehehe, sudah Sulli-ah aku tidak apa – apa.” ucap Seohyun terkekeh.
“Seohyun-ah, kau baru saja siuman dari koma. Eounimu sangat mengkhwatirkanmu, mengapa kau ini sulit sekali untuk diurus.”
Seohyun menatap jendela kedai itu, “Aku hanya tidak ingin menyusahkan eouniku lagi Sulli-ah. Dia sudah banyak membuang waktu untuk terus mengurusku sejak kecil.” Seohyun terdiam sejenak. “Maka dari itu aku memutuskan untuk bekerja sendiri, agar aku bisa mandiri dan tidak menyusahkan eouniku lagi.” kata Seohyun bersemangat.
“Pabo!” seru Sulli.
“Mwo? Kau mengatakan aku pabo?” Seohyun terkejut.
Sulli tidak menjawabnya, dia kembali menyeruput minumannya. “Minho, sudah memilih yeoja itu.”
“Mwo?” Seohyun terkejut kembali, “Yang benar Sulli-ah?”
Sulli hanya mengangguk pelan dan, “Huaaa,, aku harus bagaimana ini Seohyun-ah??? hiks hiks...” Sulli merengek – rengek dihadapan Seohyun.
Seohyun meringis geli melihat tingkah sahabatnya itu, “Sabar, sabarlah... mungkin memang dia bukan jodohmu.”
“Mwo? Kau berkata apa? Dulu kau bilang, Minho akan menjadi Namjachinguku.. kenapa sekarang kau bilang dia bukan jodohku. Ottokhe Seohyun-ah?”
“Kenyataan berkata lain Sulli-ah..” ucap Seohyun sedikit ragu.
Sulli mendengus kesal, “Kenapa dia memilih Krystal dibanding aku? Padahal aku sudah lama menjadi Sahabat baiknya.”
“Itu karena kau selalu menyembunyikan perasaanmu.” jawab Seohyun kemudian meminum minumanya.
Sulli mengerucutkan bibirnya, “Benar, aku terlalu pengecut.” ucap data Sulli, sedetik kemudian dia memendamkan kepalanya diantara kedua tangannya dimeja. Seohyun mengucap bahu Sulli pelan sambil tersenyum miris, bagaimana tidak Sulli telah jatuh hati pada Minho sejak 5 tahun lalu ketika mereka masih sama – sama duduk dibangku SMA.
“Kau harus tetap bersemangat Sulli-ah! Banyak hal yang belum kita gapai.” Seohyun mencoba menyemangati.
Sulli mengangkat kepalanya dan kembali tegak, “Kau benar Seohyun-ah, masih banyak hal yang perlu kita kerjakan. Mungkin suatu saat nanti aku akan menemukan cinta sejatiku.” jawabnya pelan.
Seohyun tersenyum dan menggenggam kedua tangan Sulli, “Bersemangatlah! Aku akan selalu bersamamu.” yakin Seohyun. Akhirnya membuat Sulli tenang dan menyungingkan senyumnya.
“Ne, Seohyun-ah.” Angguk Sulli.

***

Tbc

Sabtu, 14 Maret 2015

CERBUNG : IDOL SCHOOL Chapter 1

IDOL SCHOOL
Chapter 1


Genre   : School life, Romance, comedy

Happy Reading ^^

************-----------------****************

Seorang gadis diam - diam mengintip seorang laki - laki yang sedang bersenda gurau dengan temannya diujung kelas. Dengan mata berbinar, ia mengagumi sosok itu.
"Selamat pagi Rissa." ucap teman gadis yang mengintip tadi.
Rissa sedikit terkejut, "Ah, pagi."
"Sedang apa kamu?"
"Ah, tidak."
"Ayo kekelas bersama." ajak teman satu kelasnya yang bernama Sam.
Mereka berdua berjalan bersama menuju kelas.

"Rissa, Sam" panggil Inka, teman akrab mereka berdua.
"Ada apa?" jawab Sam.
"Hosh hosh.. " Inka mengambil nafas sebentar, "Lihatlah dimading sekolah. Sekolah kita akan ikut audisi menyanyi yang diselenggarakan dikota."
"Benarkah?" tanya Rissa. Rissa memiliki impian menjadi penyanyi terkenal, tetapi dia tidak tau sudah sampai mana kemampuannya.
"Sepertinya kau harus mencobanya." ucap Sam dan diiyakan oleh Inka.
Rissa mengangguk semangat dan tersenyum kepada mereka.

***

Bel sekolah berbunyi, Rissa dan kedua orang sahabatnya berjalan beriringan sambil bersenda gurau. Hingga tepat mereka turun kelantai dasar, Rissa menabrak seseorang,
"Ah." Kakinya terpeleset anak tangga dan tubuhnya berputar jatuh, Rissa menutup matanya pasrah jika dirinya harus terjatuh.
Tapi, "Hmmmm.." Rissa membuka matanya krena merasa ada yang menangkap tubuhnya.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya dingin.
Rissa membulatkan matanya, begitupun kedua sahabatnya hingga mulut mereka terbuka.
Laki - laki itu masih menatap intens mata Rissa, "Hei."
Rissa mulai tersadar dan segera bangun dari dekapan kedua tangan laki - laki itu, "Maaf dan terima kasih." Ucap Rissa tersenyum canggung.
"Hmm, lain kali hati - hati." ucapnya sambil berlalu pergi.
"Iya." Jawab Rissa tak berkedip menatap punggung laki - laki itu.
Kedua sahabatnya mendekati Rissa dan masih terpesona dengan wajah rupawan laki - laki yang menyelematkan Rissa.
"Tampan." Ucap Sam.
"Iya sungguh tampan." Susul Inka.
"Ternyata benar, Renal dari kelas 3A itu memang asli tampan." ucap kedua sahabatnya itu.
Saat ini posisi Rissa berada ditengah - tengah kedua sahabatnya, "Kalian suka pada Renal?" Tanyanya ragu.
Kedua sahabatnya melihat kearah Rissa,
"Jangan bilang kamu menyukainya?" Tanya mereka bersamaan.
"Ah, tidak tidak,, hehe tidak mungkin," ucap Rissa menggerakkan telapak tangannya kedepan menandakan tidak.
"Ah, syukurlah kalau begitu. Kalau tidak kamu akan berhadapam dengan Yuko, gadis yang selalu mengejar - ngejar Renal sejak kelas 1" ucap mereka bersamaan kembali sambil berlalu meninggalkan Rissa dibelakangnya.
Rissa terdiam dan berpikir, "Aku lupa, ada gadis cantik itu." Ucapnya dalam hati dan berlalu dari tempatnya menyusul kedua sahabatnya.

***

Rissa termenung diatas meja belajarnya, ingatannya kembali pada kejadian siang tadi. Matanya beradu dengan laki - laki pujaannya. Tapi ingatan itu buyar karena ia mengingat ucapan kedua sahabatnya mengenai Yuko, gadis cantik keturunan indo, ayahnya asli Jepang dan ibunya asli Indonesia. Yang ia tau bahwa Yuko memang sering bersama Renal dan sepertinya hubungan mereka sangat akrab, "Tetapi mengapa tidak ada rumor kalau mereka berdua pacaran." ucap Rissa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Haisshh.. Aku ini kenapa? Rissa tetaplah menjadi penggemar rahasia.." Rissa mengangguk - anggukan kepalanya.
"Tapi sampai kapan? Waktu ujian akhir sebentar lagi. Tinggal 1 semester lagi, aku harus bagaimana? Apakah aku harus melepaskan cinta pertamaku?" tanyanya sendiri frustasi.

Tok tok
Pintu kamar Rissa terbuka sedikit, "Sepertinya kamu sedang frustasi dengan hatimu ya?" kakak sepupu dari Rissa masuk kedalam kamar Rissa.
Rissa menoleh dan menatap tajam, "Kamu lagi, jangan ganggu aku." ucap Rissa memalingkan wajahnya.
"Hahaa, sepertinya aku bisa menggodamu setiap hari." ucapnya mengejek.
Rissa merengut dan bangkit dari kursinya, "Maumu apa heh?" ungkapnya ketika sudah berhadapan dengan sepupunya itu.
Dia hanya tersenyum evil menanggapi pertanyaan dari Rissa, baginya menggoda Rissa adalah hal yang menyenangkan apalagi bila sampai menangis, namun dia tidak pernah berhasil membuat Rissa menangis.
"Kamu tunggu saja!" serunya pelan dan berlalu pergi dari kamar Rissa.
"Apa?" kaget Rissa.
Tak habis pikir akan ulah sepupunya itu. Kalau saja dia tidak tinggal dengan pamannya, dia tidak akan bertemu dengannya "Dasar perjaka tidak laku, sejak 5 tahun yang lalu gagal menikah tidak pernah bisa move on!" omel Rissa.

***

Tbc

FF V - EUNHA (BTS X GFRIEND SHIPPER) - THE HANDSOME FREAK CHAPTER 6

The Handsome freak Chapter 6 Previous  1 ,  2 ,  3 ,  4 ,  5 Title : Fanfiction Chapter Genre : Romance, Comedy Ca...